Abad Ke-9: Bukti Prasasti Tertua yang Mengindikasikan Pura Basukihan, Nama Awal Besakih dan Pusat Spiritual Bali
- 1.
A. Stabilitas Politik dan Budaya Aksara
- 2.
B. Jejak Awal Sinkretisme Hindu-Buddha
- 3.
A. Analisis Terminology: Dari Hyang Basukih ke Pura Besakih
- 4.
B. Prasasti yang Menyebut 'Basukihan'
- 5.
A. Keandalan Bukti Primer
- 6.
B. Interpretasi Paleografi dan Bahasa Kawi Kuno
- 7.
A. Reinforcement pada Masa Gelgel dan Klungkung
- 8.
A. Organisasi Masyarakat yang Kompleks
- 9.
B. Peran Gunung Agung sebagai Pusat Pemujaan
- 10.
A. Keterbatasan Sumber Fisik
- 11.
B. Debat Penanggalan Prasasti
Table of Contents
Pura Agung Besakih. Nama ini segera membangkitkan citra kemegahan, spiritualitas mendalam, dan sejarah ribuan tahun. Dijuluki sebagai 'Induk dari Segala Pura' (Mother Temple) di Bali, Besakih berdiri tegak di lereng Gunung Agung, menjadi poros kosmik bagi peradaban Bali Hindu. Meskipun legenda dan tradisi lisan (babad) seringkali menempatkan asal-usulnya jauh di masa prasejarah, bagi sejarawan dan epigrafer, bukti tertulis adalah kunci utama.
Lantas, kapan tepatnya Besakih mulai diakui sebagai pusat pemujaan utama? Jawabannya membawa kita mundur ke periode paling vital dalam pembentukan identitas Bali kuno: Abad Ke-9 Masehi. Periode ini tidak hanya menyaksikan stabilisasi politik di pulau Bali, tetapi juga meninggalkan jejak epigrafis yang tak terbantahkan, yang secara eksplisit menyebutkan sebuah lokasi suci yang dikenal sebagai Pura Basukihan—sebuah nama yang diyakini secara luas sebagai nomenklatur awal dari Pura Besakih yang kita kenal saat ini.
Artikel panjang ini akan mengupas tuntas signifikansi temuan prasasti-prasasti kuno dari Abad Ke-9 dan awal Abad Ke-10 yang menjadi tonggak sejarah, membuktikan bahwa Pura Besakih bukanlah sekadar mitos kuno, melainkan institusi keagamaan yang sudah mapan dan memiliki peran struktural dalam administrasi kerajaan Bali kuno. Dengan panjang sekitar 2000 kata, kita akan menjelajahi konteks sejarah, analisis epigrafis, dan evolusi spiritual dari Pura Basukihan ke Pura Besakih.
I. Besakih Hari Ini: Sebuah Pusat Kosmik yang Melampaui Waktu
Sebelum menyelami bukti prasasti, penting untuk menghargai status Besakih saat ini. Kompleks pura ini terdiri dari lebih dari 20 pura yang tersebar di enam tingkatan teras, yang mengarah ke Pura Penataran Agung, pura utama tempat pemujaan Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa). Lokasinya yang strategis di lereng barat daya Gunung Agung, gunung tertinggi dan paling sakral di Bali, memperkuat posisinya sebagai Pusat Mandala spiritual pulau tersebut.
Tradisi lisan menyebutkan bahwa Besakih sudah ada sejak zaman prasejarah sebagai tempat pemujaan roh leluhur dan dewa gunung. Namun, narasi sejarah membutuhkan validasi yang lebih kuat. Kesenjangan antara mitos heroik yang dicatat dalam babad dan bukti konkret inilah yang dijembatani oleh ilmu epigrafi. Bagi para sejarawan, Besakih yang dikenal saat ini adalah hasil dari akumulasi pembangunan dan pengakuan kerajaan selama lebih dari seribu tahun, dimulai dari Abad Ke-9.
II. Konteks Sejarah Bali Abad Ke-9: Era Lahirnya Kerajaan dan Prasasti
Abad Ke-9 dan Ke-10 Masehi di Bali ditandai sebagai periode ‘pra-Majapahit’ yang sangat penting, di mana sistem kerajaan dan administrasi mulai terstruktur dengan baik. Ini adalah masa di mana raja-raja lokal, seringkali disebut sebagai dinasti Warmadewa (meskipun kronologi dan kesinambungan dinasti ini masih diperdebatkan), mulai berkuasa dan meninggalkan warisan berupa prasasti perunggu atau batu.
A. Stabilitas Politik dan Budaya Aksara
Berbeda dengan periode sebelumnya yang didominasi oleh pengaruh India (Pala) yang bersifat sporadis, Abad Ke-9 menunjukkan kematangan budaya Bali sendiri. Bahasa Kawi atau Bali Kuno menjadi medium utama, dan prasasti-prasasti yang dibuat umumnya bertujuan untuk mencatat penetapan batas desa (sima), pemberian hadiah (dana), atau pembebasan pajak bagi kawasan-kawasan tertentu, terutama kawasan suci.
Penciptaan prasasti pada masa ini bukan hanya sekadar catatan sejarah; ia adalah alat legitimasi kekuasaan spiritual raja. Dengan menetapkan sebuah lokasi suci dan memberikan dukungan kerajaan, raja menunjukkan bahwa dirinya adalah pelindung dharma. Lokasi suci yang menerima pengakuan semacam ini, seperti Basukihan, akan memiliki status yang lebih tinggi, terjamin perawatannya, dan bebas dari campur tangan otoritas non-religius.
B. Jejak Awal Sinkretisme Hindu-Buddha
Periode ini juga merupakan masa suburnya sinkretisme Siwa-Buddha di Bali, yang tercermin dalam banyak prasasti, termasuk Prasasti Blanjong (914 M) yang merupakan salah satu tonggak sejarah penting yang mencatat nama Raja Sri Kesari Warmadewa. Meskipun Prasasti Blanjong tidak secara spesifik menyebut Basukihan, keberadaannya membuktikan adanya tradisi penulisan prasasti yang kuat, yang membuka jalan bagi penemuan dokumen-dokumen sezaman yang merujuk kepada tempat-tempat suci spesifik.
III. Mengungkap Identitas Pura Basukihan Melalui Bukti Epigrafi
Bukti yang paling meyakinkan mengenai keberadaan Pura Basukihan berasal dari serangkaian prasasti yang diperkirakan berasal dari akhir Abad Ke-9 hingga awal Abad Ke-10, yang umumnya dikelompokkan oleh para ahli epigrafi seperti Dr. R. Goris, Prof. J.G. de Casparis, dan Dr. I Wayan Rai S. sebagai 'dokumen-dokumen awal Besakih'. Salah satu prasasti kunci yang sering dikutip dalam konteks ini adalah prasasti yang menyebutkan nama 'Basukihan'.
Meskipun terdapat beberapa fragmen prasasti yang merujuk pada pemujaan di lereng Gunung Agung, titik fokus terletak pada penyebutan langsung 'Hyang Basukih' atau 'Basukihan' sebagai lokasi pemujaan penting, seringkali dalam konteks penetapan sima atau persembahan. Penggunaan kata 'Hyang' menunjukkan bahwa entitas atau lokasi tersebut telah diakui sebagai tempat bersemayamnya kekuatan ilahi.
A. Analisis Terminology: Dari Hyang Basukih ke Pura Besakih
Kata 'Basukihan' sendiri berakar pada kata 'Basuki', yang dalam bahasa Sansekerta berarti 'selamat', 'sejahtera', atau 'kemakmuran'. Dalam mitologi Hindu-Bali, Basuki erat kaitannya dengan Naga Basuki, salah satu naga kosmik yang berperan penting dalam mitos pemutaran Mandaragiri (Samudramanthana). Penempatan nama ini di kaki gunung berapi yang tinggi seperti Gunung Agung tidak hanya simbolis, tetapi juga praktis—sebuah doa untuk keselamatan dan kemakmuran bagi seluruh pulau, yang kehidupannya bergantung pada aktivitas gunung tersebut.
Prasasti-prasasti tersebut secara jelas mencatat pemeliharaan dan persembahan kepada Hyang Basukih. Hal ini menunjukkan bahwa pada Abad Ke-9, tempat suci ini sudah dianggap cukup penting sehingga layak mendapatkan perhatian dan perlindungan kerajaan, yang dibuktikan melalui inskripsi yang bersifat permanen dan mengikat secara hukum adat dan agama.
B. Prasasti yang Menyebut 'Basukihan'
Para peneliti, termasuk I Wayan Rai S., menyoroti bahwa dalam beberapa dokumen kuno (seringkali berupa prasasti perunggu yang disimpan atau ditranskrip ulang), terdapat catatan mengenai kewajiban desa-desa sekitar untuk mengurus pemujaan di Basukihan. Deskripsi ini mengukuhkan bahwa: (1) Basukihan adalah lokasi nyata dan suci, dan (2) Besakih sudah berfungsi sebagai pura sentral yang membutuhkan dukungan dari komunitas luas.
Salah satu referensi tertua yang paling sering dikaitkan adalah yang menyebutkan pendirian tempat pemujaan yang disebut 'Basukihan' atau 'Basukih' di daerah kaki Gunung Agung. Meskipun tanggal pasti prasasti yang spesifik ini diperdebatkan (beberapa ahli meletakkannya akhir 9 M, yang lain awal 10 M), konsensusnya adalah bahwa institusi spiritual ini sudah eksis dan dihormati jauh sebelum era Majapahit masuk ke Bali pada Abad Ke-14.
Penemuan ini secara efektif menolak klaim bahwa Besakih hanyalah pengembangan signifikan pasca-Majapahit. Sebaliknya, Majapahit hanya memperkuat dan mengintegrasikan pusat pemujaan yang sudah berusia ratusan tahun yang didirikan oleh raja-raja Bali kuno.
IV. Kontribusi Epigrafi: Mengapa Prasasti Lebih Kuat dari Babad?
Dalam historiografi Bali, kita memiliki dua sumber utama: Babad (tradisi lisan, lontar sejarah) dan Prasasti (bukti tertulis pada media keras). Keduanya penting, tetapi memiliki bobot kredibilitas yang berbeda, terutama untuk penentuan tanggal pasti.
A. Keandalan Bukti Primer
Prasasti adalah sumber primer. Mereka ditulis pada saat peristiwa itu terjadi, dicatat di atas batu atau perunggu, dan bertujuan untuk bertahan lama. Bahasa dan paleografi (bentuk tulisan) yang digunakan dalam prasasti-prasasti dari Abad Ke-9 memberikan kemampuan pada epigrafer untuk melakukan penanggalan yang relatif akurat.
Sebaliknya, Babad dan Lontar seringkali ditulis ratusan tahun setelah peristiwa itu terjadi (misalnya, pada masa Kerajaan Gelgel atau pasca-Majapahit). Meskipun Babad mengandung inti kebenaran sejarah, ia rentan terhadap interpretasi, mitologisasi, dan perubahan narasi yang disesuaikan dengan kepentingan dinasti yang berkuasa pada saat penulisan.
Oleh karena itu, penyebutan Pura Basukihan dalam prasasti Abad Ke-9 adalah bukti yang paling kuat dan tidak terbantahkan bahwa keberadaan dan signifikansi spiritual Besakih sudah tertanam kuat pada masa pra-Majapahit, menggeser Besakih dari ranah mitos ke ranah sejarah yang terverifikasi.
B. Interpretasi Paleografi dan Bahasa Kawi Kuno
Proses pembacaan dan penerjemahan prasasti dari Abad Ke-9 bukanlah tugas yang mudah. Prasasti Bali Kuno ditulis dalam aksara dan bahasa yang sangat berbeda dari bahasa Bali modern. Para ahli harus menganalisis dengan cermat frasa-frasa seperti ‘di Hyang Basukih’ atau ‘panyungsungan Basukih’ untuk menentukan konteks fungsionalnya. Konsistensi dalam prasasti-prasasti dari periode yang berbeda, yang semuanya menunjuk pada lokasi suci utama di Gunung Agung dengan nama yang sama, mengesahkan kesinambungan spiritual Basukihan.
V. Evolusi Nomenklatur: Dari Basukihan ke Besakih
Perubahan nama dari Pura Basukihan menjadi Pura Besakih adalah contoh klasik dari evolusi linguistik seiring berjalannya waktu. Secara fonetik, transisi dari 'Basukihan' ke 'Besakih' adalah perubahan yang wajar dan sering terjadi dalam bahasa Bali, di mana suku kata awal sering mengalami pemendekan atau perubahan vokal demi kemudahan pengucapan.
Namun, perubahan nama tersebut tidak mengurangi makna spiritual asalnya. Inti dari kata 'Basuki' (keselamatan/sejahtera) tetap dipertahankan. Besakih terus berfungsi sebagai poros keamanan spiritual, tempat di mana umat memohon perlindungan dari Dewi-Dewi (Dewi Gunung Agung) dan kemakmuran untuk seluruh pulau.
A. Reinforcement pada Masa Gelgel dan Klungkung
Meskipun fondasi Besakih sudah diletakkan pada Abad Ke-9, perannya sebagai Pura Sad Kahyangan Jagat (Enam Pura Utama di Bali) diinstitusikan lebih lanjut pada masa Kerajaan Gelgel (setelah Majapahit). Raja-raja Gelgel menggunakan Besakih sebagai pusat legitimasi spiritual mereka. Lontar dan babad dari periode ini, meskipun ditulis belakangan, seringkali mengacu kembali pada 'keagungan kuno' dari Pura Basukihan. Hal ini menunjukkan adanya kesinambungan kesadaran historis yang mengakui usia Pura Besakih jauh sebelum dinasti Gelgel.
VI. Implikasi Arkeologis dan Spiritualitas Abad Ke-9
Pengakuan resmi terhadap Pura Basukihan pada Abad Ke-9 memiliki implikasi besar terhadap pemahaman kita mengenai organisasi sosial-keagamaan Bali Kuno. Itu membuktikan bahwa:
A. Organisasi Masyarakat yang Kompleks
Untuk mendukung dan memelihara sebuah kompleks pura di lereng gunung, dibutuhkan organisasi sosial dan ekonomi yang terstruktur. Penetapan sima (wilayah bebas pajak) yang terkait dengan pura menunjukkan adanya birokrasi kerajaan yang mampu mengalokasikan sumber daya dan tenaga kerja untuk tujuan keagamaan. Ini menandakan bahwa masyarakat Bali pada Abad Ke-9 sudah terorganisir dengan sangat baik, bukan sekadar perkumpulan desa-desa otonom.
B. Peran Gunung Agung sebagai Pusat Pemujaan
Sejak masa pra-Hindu, gunung selalu menjadi objek pemujaan (konsep 'palinggih agung'). Prasasti Pura Basukihan menegaskan bahwa proses Hindunisasi di Bali tidak menghapuskan, melainkan mengintegrasikan kepercayaan asli pada kekuatan gunung. Gunung Agung, yang dianggap sebagai 'Pusat Kosmos' atau Tampuking Jagat, diberikan status suci tertinggi, dan Pura Basukihan didirikan sebagai portal utama untuk memuja dewa gunung, yang kemudian diidentifikasi dengan Dewa Siwa.
Kehadiran prasasti pada Abad Ke-9 menunjukkan bahwa pada masa itu, konsep spiritualitas gunung telah diresmikan dan dilembagakan dalam sistem kerajaan, menjadikannya bukan sekadar kepercayaan lokal, tetapi pilar spiritual kerajaan.
VII. Metodologi Penelitian dan Tantangan Historiografi
Mencapai kesimpulan bahwa Pura Basukihan berasal dari Abad Ke-9 memerlukan kerja keras interpretasi. Para sejarawan dan arkeolog sering menghadapi tantangan dalam penelitian epigrafis Bali:
A. Keterbatasan Sumber Fisik
Banyak prasasti perunggu kuno telah hilang, rusak, atau hanya tersisa dalam bentuk salinan (transkripsi) yang tidak sempurna yang terdapat dalam koleksi di luar Bali (misalnya, di Belanda). Para peneliti harus bekerja dengan fragmen dan harus menyusun kembali narasi sejarah dari potongan-potongan bukti ini. Meskipun demikian, konsistensi penyebutan nama Basukihan/Basukih dalam berbagai sumber dari era yang sama memberikan kepercayaan diri yang tinggi terhadap kesimpulan ini.
B. Debat Penanggalan Prasasti
Meskipun secara umum disepakati bahwa konteks Pura Basukihan muncul pada periode Bali Kuno (882 M – 1343 M), penanggalan spesifik prasasti yang menyebut Basukihan sering bergeser antara akhir Abad Ke-9 dan awal Abad Ke-10, tergantung pada gaya aksara (paleografi) dan nama raja yang berkuasa. Terlepas dari pergeseran tahun yang kecil, kesimpulannya tetap kokoh: Pura Basukihan eksis dan penting pada awal masa kerajaan di Bali.
VIII. Kesimpulan: Warisan Abad Ke-9 yang Abadi
Pura Besakih hari ini adalah perwujudan fisik dari sejarah panjang dan kompleks yang berakar pada periode kerajaan Bali Kuno. Melalui penyelidikan mendalam terhadap prasasti-prasasti dari Abad Ke-9, kita mendapatkan bukti definitif bahwa kompleks suci yang kini kita kenal sebagai Pura Besakih telah diresmikan, dihormati, dan didukung oleh otoritas kerajaan jauh sebelum adanya pengaruh Majapahit.
Penyebutan nama Pura Basukihan dalam dokumen epigrafis kuno dari Abad Ke-9 adalah penanda sejarah yang krusial. Ini bukan hanya konfirmasi bahwa Besakih adalah pura tertua, tetapi juga menunjukkan bahwa organisasi spiritual dan administrasi kerajaan Bali sudah matang pada periode tersebut. Basukihan, yang berarti 'tempat keselamatan dan kemakmuran', adalah fondasi spiritual yang terus menyangga identitas Bali Hindu hingga hari ini.
Keagungan Besakih adalah warisan dari raja-raja Bali Kuno yang bijaksana, yang memastikan melalui pahatan batu dan perunggu bahwa pusat spiritual mereka akan abadi. Prasasti-prasasti ini adalah jendela ke masa lalu yang memperkuat pemahaman bahwa Pura Besakih, sebagai Pura Basukihan, telah menjadi poros utama keberagamaan Bali selama lebih dari seribu tahun. Mempelajari prasasti ini adalah cara kita menghormati dan melestarikan sejarah otentik dari salah satu situs paling sakral di Indonesia. Keberadaan prasasti ini memberikan dimensi baru pada ziarah spiritual, mengubah kunjungan ke Besakih menjadi perjalanan kembali ke Abad Ke-9 yang agung.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.