Diplomasi Tiga Arah: Hubungan Sriwijaya, Champa, dan Khmers dalam Peta Geopolitik Asia Tenggara Kuno

Subrata
26, Februari, 2026, 08:50:00
Diplomasi Tiga Arah: Hubungan Sriwijaya, Champa, dan Khmers dalam Peta Geopolitik Asia Tenggara Kuno

Diplomasi Tiga Arah: Hubungan Sriwijaya, Champa, dan Khmers dalam Peta Geopolitik Asia Tenggara Kuno

Sejarah Asia Tenggara adalah mosaik rumit yang dibentuk oleh interaksi dinamis antara kekuatan-kekuatan regional. Jauh sebelum kolonialisme mendefinisikan batas-batas modern, tiga entitas besar—Sriwijaya, Champa, dan Kerajaan Khmers—membentuk sebuah segitiga geopolitik yang saling tarik-menarik. Memahami dinamika kompleks yang disebut sebagai Diplomasi Tiga Arah: Hubungan Sriwijaya, Champa, dan Khmers dalam Peta Geopolitik Asia Tenggara merupakan kunci untuk menyingkap bagaimana kekuasaan diatur, perdagangan dikendalikan, dan identitas budaya ditegaskan dalam periode pra-modern.

Artikel ini hadir sebagai panduan mendalam bagi pembaca yang ingin memahami arsitektur kekuasaan di Asia Tenggara Kuno. Ini bukan hanya tentang perang atau persahabatan, melainkan tentang keseimbangan kekuatan (balance of power) yang diterapkan melalui diplomasi, perdagangan, dan, sesekali, intervensi militer. Tiga kerajaan ini, masing-masing dengan karakteristik unik—maritim, pesisir, dan kontinental—berulang kali menyesuaikan strategi mereka untuk bertahan di tengah tekanan hegemoni regional dan global dari Tiongkok.

Fondasi Kekuatan: Karakteristik Geopolitik Sriwijaya, Champa, dan Khmers

Untuk memahami diplomasi mereka, kita harus terlebih dahulu memahami fondasi kekuatan yang dimiliki oleh masing-masing kerajaan. Model negara 'Mandala' yang dominan saat itu memungkinkan pusat-pusat kekuasaan ini untuk mengklaim loyalitas, bukan batas teritorial yang kaku, yang membuat hubungan mereka sangat cair dan bergantung pada kekuatan militer serta ekonomi saat itu.

Sriwijaya: Penguasa Thalassocracy di Nusantara

Berpusat di Sumatera, Sriwijaya (abad ke-7 hingga ke-13) adalah kekuatan maritim (thalassocracy) yang tak tertandingi. Kekuatan utamanya terletak pada kontrol mutlak atas jalur perdagangan vital yang menghubungkan Timur Tengah, India, dan Tiongkok—terutama Selat Malaka dan Selat Sunda.

  • Kekuatan Ekonomi: Monopoli atas perdagangan rempah-rempah, produk hutan, dan komoditas mewah yang melewati selat.
  • Strategi Geopolitik: Berfokus pada kontrol pelabuhan dan memproyeksikan kekuatan ke perairan, bukan ekspansi wilayah daratan. Diplomasi Sriwijaya seringkali bersifat koersif terhadap pelabuhan bawahan.
  • Identitas: Pusat penyebaran Buddhisme Vajrayana yang besar, memberikan legitimasi spiritual dan hubungan erat dengan Nālandā di India.

Champa: Jembatan Perdagangan dan Militerisme Pesisir

Terletak di pesisir tengah Vietnam modern, Champa (Kerajaan Cham) berada dalam posisi yang sangat strategis namun juga rentan. Mereka menjadi jembatan alami antara kekuatan maritim di selatan dan kekuatan kontinental di utara (Vietnam/Tiongkok) dan barat (Khmers).

  • Kekuatan Ekonomi: Berasal dari pelabuhan penting mereka yang berfungsi sebagai pos persinggahan antara Tiongkok dan Nusantara. Mereka mengelola perdagangan kayu gaharu, gading, dan emas.
  • Strategi Geopolitik: Champa adalah 'negara penyangga' (buffer state) abadi. Mereka harus mempertahankan garis pantai mereka dari serangan maritim (Sriwijaya/Jawa) sambil secara bersamaan menangkis tekanan ekspansi Khmers dan ancaman dari Đại Việt di utara.
  • Identitas: Sangat dipengaruhi India, memeluk agama Hindu Shaiva, tetapi menunjukkan adaptasi budaya yang unik, terutama dalam seni arsitektur candi.

Khmers: Hegemoni Agraria dan Kontinental

Berpusat di Angkor, Kerajaan Khmers (Kamboja modern) adalah kekuatan agraris daratan. Sumber daya utama mereka adalah lahan subur di sekitar Danau Tonle Sap, yang dikelola melalui sistem irigasi canggih.

  • Kekuatan Ekonomi: Berbasis pada surplus pertanian (beras), yang mendukung populasi besar dan proyek konstruksi monumental (Angkor Wat).
  • Strategi Geopolitik: Fokus pada ekspansi teritorial ke arah barat (Thailand) dan timur (Champa). Diplomasi Khmers sering berujung pada invasi untuk mengamankan sumber daya dan menundukkan saingan regional.
  • Identitas: Puncak peradaban Hindu-Buddha Asia Tenggara, mengandalkan konsep Devaraja (Raja Dewa) untuk melegitimasi kekuasaan mereka.

Jaringan Sutra Laut dan Titik Gesekan

Tiga kekuatan ini didorong untuk berinteraksi karena dua faktor utama: kebutuhan ekonomi (perdagangan) dan tekanan hegemoni (militer/tributer). Titik-titik gesekan ini seringkali menjadi laboratorium bagi eksperimen diplomasi dan koersi.

Perebutan Hegemoni di Selat Malaka

Meskipun Khmers adalah kekuatan darat, keberadaan Sriwijaya dan Champa di jalur perdagangan utama memastikan bahwa konflik maritim mendominasi lanskap geopolitik.

Bagi Sriwijaya, kontrol Malaka adalah masalah eksistensial. Bagi Champa, pelabuhan mereka di pesisir (seperti Virapura) menawarkan alternatif rute bagi kapal-kapal Tiongkok yang ingin menghindari monopoli Sriwijaya, memicu ketegangan yang berulang.

  • Kepentingan Sriwijaya: Mempertahankan monopoli perdagangan. Jika Champa atau entitas lain (seperti Jawa atau Kerajaan Tamil Cola) mampu menawarkan rute alternatif atau mengganggu pelayaran, kekuatan Sriwijaya melemah.
  • Kepentingan Champa: Memaksimalkan pendapatan dari pelabuhan persinggahan. Ini mengharuskan mereka untuk menyeimbangkan hubungan dengan Sriwijaya (agar tidak diserang) dan Tiongkok (sebagai sumber utama permintaan komoditas).

Pengaruh Tiongkok sebagai Pemain Keempat

Diplomasi Tiga Arah tidak pernah terjadi dalam ruang hampa. Kekaisaran Tiongkok, melalui sistem upeti (tributary system), adalah pemain keempat yang tak terlihat namun paling berpengaruh. Tiongkok tidak ingin menginvasi, tetapi ingin memastikan pasokan barang mewah dan kepatuhan nominal.

Ketika salah satu dari tiga kerajaan tersebut mengirimkan delegasi upeti, mereka tidak hanya mengakui keunggulan Tiongkok, tetapi juga mendapatkan legitimasi regional, dukungan perdagangan, dan perlindungan tersirat dari pesaing lain. Ini menciptakan dinamika 'saling mengadu' di mana Sriwijaya, Champa, dan Khmers berjuang untuk menjadi mitra dagang yang paling disukai oleh Dinasti Tang atau Song.

Strategi Geopolitik: Memahami Taktik Diplomasi Tiga Arah

Diplomasi di era ini melibatkan campuran ancaman militer, pernikahan politik, pertukaran budaya, dan tentu saja, pertukaran komoditas langka. Strategi yang digunakan seringkali merupakan reaksi terhadap ancaman dominasi dari tetangga terkuat.

Aliansi vs. Koersi: Instrumen Kebijakan Luar Negeri

Sriwijaya, Champa, dan Khmers menggunakan berbagai instrumen kebijakan luar negeri untuk mencapai tujuan mereka. Karena tidak ada satu pun dari mereka yang cukup kuat untuk menaklukkan dua lainnya secara permanen, keseimbangan yang rapuh harus dipertahankan.

1. Diplomasi Sriwijaya (Dominasi Maritim)

Strategi Sriwijaya adalah menahan ancaman dari pesaing maritim (seperti Mataram Kuno di Jawa) dan mengisolasi Champa agar tidak menjadi pesaing serius di jalur perdagangan.

  • Kasus Khmers: Hubungan dengan Khmers umumnya netral atau tidak langsung karena perbedaan domain (laut vs. darat). Konflik terbuka jarang terjadi, tetapi mereka bersaing dalam hal hubungan upeti dengan Tiongkok.
  • Kasus Champa: Lebih sering menggunakan koersi. Bukti menunjukkan serangan Sriwijaya ke Champa (seperti pada akhir abad ke-8) yang bertujuan menghancurkan pelabuhan mereka, memastikan bahwa kapal dagang tetap menggunakan rute Sriwijaya.

2. Diplomasi Khmers (Ekspansi Kontinental)

Khmers melihat Champa sebagai pintu gerbang menuju laut dan sebagai penghalang yang harus diatasi untuk memperluas pengaruh mereka ke pesisir timur.

  • Kasus Sriwijaya: Minimal. Khmers tidak memiliki armada yang memadai untuk menantang Sriwijaya. Fokus mereka adalah daratan.
  • Kasus Champa: Agresif. Khmers secara teratur melakukan serangan besar ke wilayah Champa (paling terkenal di bawah Jayavarman VII pada akhir abad ke-12) yang mengakibatkan penjarahan dan pendudukan. Tujuan utamanya adalah mendapatkan akses ke sumber daya pesisir dan melemahkan musuh bebuyutan mereka.

3. Diplomasi Champa (Survival State)

Sebagai negara penyangga yang terjepit, strategi Champa adalah bertahan hidup melalui kebijakan yang fleksibel dan reaksioner. Mereka akan bersekutu dengan siapa pun yang menawarkan keamanan sementara, bahkan jika itu berarti membayar upeti kepada Khmers atau mengirim duta ke Sriwijaya.

  • Strategi Aliansi: Ketika diancam oleh Khmers, Champa mungkin mencari dukungan militer (atau setidaknya dukungan moral dan ekonomi) dari Tiongkok atau dari negara-negara lain yang memiliki kepentingan melawan Khmers.

Kasus Champa: Bumper State yang Rentan

Champa memainkan peran vital dalam Diplomasi Tiga Arah. Mereka berada di persimpangan jalan dan menjadi barometer ketegangan regional. Jika Sriwijaya melemah, Khmers akan menyerang Champa. Jika Khmers sibuk dengan ancaman dari barat, Champa mungkin memiliki kesempatan untuk menyerang balik atau memulihkan kemerdekaan.

Keberadaan Champa yang independen berfungsi sebagai penyangga alamiah yang mencegah kontak langsung antara hegemoni maritim (Sriwijaya) dan hegemoni kontinental (Khmers). Ketika Champa jatuh atau ditaklukkan, keseimbangan kekuatan di seluruh Asia Tenggara terancam bergeser secara drastis.

Konflik dan Koeksistensi: Studi Kasus Interaksi Kritis

Hubungan antara tiga kerajaan ini jarang harmonis sepenuhnya, namun juga jarang mengalami perang skala besar secara serentak. Koeksistensi didasarkan pada perhitungan biaya-manfaat.

Ekspansi Sriwijaya terhadap Champa (Abad ke-8)

Bukti historis, terutama catatan Tiongkok, mengindikasikan adanya ekspedisi Sriwijaya yang menargetkan Champa. Sekitar tahun 774 M dan 787 M, serangan maritim dari kekuatan yang diyakini berasal dari Nusantara menyerang ibu kota Cham, Virapura (dekat Panduranga).

  • Tujuan: Ini adalah tindakan koersif ekonomi. Sriwijaya berusaha menghapus Champa sebagai pesaing perdagangan langsung dan untuk memperingatkan kerajaan lain yang mungkin berpikir untuk menantang monopoli pelayaran mereka.
  • Dampak: Meskipun Champa dapat pulih, serangan ini menegaskan peran Sriwijaya sebagai polisi maritim di wilayah tersebut dan memaksa Champa untuk lebih berhati-hati dalam hubungan dagang mereka.

Intervensi Khmers di Wilayah Pesisir Champa (Akhir Abad ke-12)

Periode paling intensif dalam konflik Khmers-Champa terjadi di masa keemasan Angkor. Pada tahun 1177, Champa melakukan serangan balik mengejutkan ke Angkor melalui perairan (menggunakan perahu perang di Danau Tonle Sap), yang mengakibatkan Raja Khmers dibunuh.

Peristiwa ini memicu balasan dramatis dari Raja Khmers yang baru, Jayavarman VII. Ia menaklukkan Champa sekitar tahun 1190-an dan menjadikannya provinsi bawahan. Ini adalah momen krusial yang menunjukkan bagaimana kekuatan darat dapat mengalahkan kekuatan pesisir, setidaknya untuk sementara waktu.

  • Implikasi bagi Sriwijaya: Meskipun Khmers mendominasi Champa, Khmers tidak mampu memproyeksikan kekuatan ke lautan luas. Sriwijaya, yang saat itu mungkin sudah mulai melemah, melihat ini sebagai ancaman tidak langsung, karena ekspansi Khmers membuka potensi jalur baru yang dapat mengganggu arus barang mereka.

Diplomasi Religi dan Budaya sebagai Jembatan

Di balik konflik, pertukaran budaya dan agama berfungsi sebagai 'soft power' yang memfasilitasi komunikasi. Sriwijaya adalah pusat Buddhisme; Khmers dan Champa didominasi oleh Hindu Shaiva dan Buddhisme Mahayana.

Para biksu dan pendeta, seniman, dan arsitek sering melakukan perjalanan antar kerajaan, membawa serta ide-ide, teknologi, dan legitimasi. Hal ini memungkinkan adanya jalur diplomasi yang melampaui kepentingan militer murni. Misalnya, arsitektur candi di Jawa dan Sumatera menunjukkan pengaruh yang meluas hingga ke Semenanjung Melayu, area yang juga diperebutkan oleh Champa dan Sriwijaya.

Warisan Abadi Diplomasi Tiga Arah dalam Historiografi Asia Tenggara

Segitiga geopolitik yang dibentuk oleh Sriwijaya, Champa, dan Khmers memberikan pelajaran berharga tentang sifat kekuasaan di Asia Tenggara. Ini menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah kerajaan tidak hanya bergantung pada kekuatan militer atau kekayaan alam semata, tetapi pada kemampuan untuk mengelola jaringan hubungan yang kompleks, yang dipengaruhi oleh jarak geografis, domain kekuatan (laut atau darat), dan tekanan eksternal (Tiongkok).

Keseimbangan maritim dan kontinental yang diperjuangkan oleh ketiganya akhirnya runtuh seiring melemahnya Sriwijaya (diikuti invasi Cola dan munculnya Majapahit) dan penyerapan Champa oleh Đại Việt. Namun, pola interaksi yang mereka tetapkan—persaingan untuk menjadi gerbang perdagangan ke Tiongkok dan perjuangan antara kekuatan darat dan laut—tetap relevan hingga kini dalam memahami dinamika regional.

Mempelajari Diplomasi Tiga Arah: Hubungan Sriwijaya, Champa, dan Khmers dalam Peta Geopolitik Asia Tenggara menawarkan perspektif yang kaya mengenai bagaimana strategi bertahan hidup diterapkan di tengah ketiadaan hegemoni tunggal yang stabil. Ini adalah kisah tentang fleksibilitas, ambisi, dan warisan yang membentuk landasan budaya dan politik dari negara-negara modern Asia Tenggara hari ini.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.