Fatwa Jihad Akbar: Respon Berdarah Sultan Baabullah terhadap Pembunuhan Ayahnya dan Titik Balik Sejarah Nusantara

Subrata
21, Agustus, 2026, 08:28:00
Fatwa Jihad Akbar: Respon Berdarah Sultan Baabullah terhadap Pembunuhan Ayahnya dan Titik Balik Sejarah Nusantara

Pada Juni 1570, di benteng Portugis di Ternate, sebuah pengkhianatan keji mengubah lanskap politik dan spiritual seluruh Nusantara. Sultan Khairun Jamil, penguasa Ternate yang paling berpengaruh, dibunuh secara licik oleh kapten Portugis. Peristiwa ini bukan sekadar insiden pembunuhan biasa; ini adalah deklarasi perang terbuka oleh kekuatan kolonial.

Namun, respon yang muncul dari putra mahkota, Sultan Baabullah Datu Syah (memerintah 1570–1583), bukanlah reaksi emosional semata. Sebaliknya, ia meluncurkan sebuah respons terstruktur, berbasis hukum Islam dan strategi geopolitik yang ambisius: Proklamasi Fatwa Jihad Akbar. Respon bersejarah ini tidak hanya berhasil mengusir Portugis dari Ternate, tetapi juga menetapkan standar baru perlawanan pribumi terhadap hegemoni kolonial.

Artikel ini akan mengupas tuntas latar belakang, mekanisme, dan dampak luar biasa dari Fatwa Jihad Akbar, sebuah episode penting yang menandai titik balik paling menentukan dalam sejarah perlawanan bangsa Indonesia.

Konteks Geopolitik Ternate Pra-1570: Hegemoni dan Intrik Portugis

Untuk memahami intensitas respon Sultan Baabullah, kita harus terlebih dahulu mengerti posisi Ternate di panggung dunia abad ke-16. Ternate, pusat kekuasaan Maluku Utara, adalah jantung perdagangan rempah global—terutama cengkeh. Siapa yang menguasai Ternate, menguasai pasar rempah dunia.

Kedatangan Portugis pada tahun 1512 awalnya disambut dengan harapan aliansi dagang dan militer melawan Tidore, pesaing utama Ternate. Namun, aliansi ini dengan cepat berubah menjadi penjajahan terselubung. Portugis, melalui Fort Kastela, mulai mengintervensi politik internal, memonopoli rempah, dan memaksakan kehendak mereka.

Ternate di Bawah Kekuatan Sultan Khairun

Sultan Khairun Jamil, ayah Baabullah, adalah seorang diplomat dan strategis ulung. Ia menyadari ancaman Portugis dan secara bertahap membangun kekuatan militer serta jaringan politik untuk melawan dominasi Eropa. Khairun berhasil:

  • Memutus rantai pasok rempah yang dikendalikan Portugis.
  • Membangun aliansi strategis dengan Kesultanan lain (termasuk Aceh, Johor, dan bahkan Makassar).
  • Menggunakan hukum Islam sebagai dasar legitimasi perlawanan.

Kekuatan Sultan Khairun ini menjadi duri dalam daging bagi Gubernur Jenderal Portugis di Goa. Lisboa menyadari bahwa selama Khairun berkuasa, impian mereka untuk mengontrol penuh jalur rempah Maluku tidak akan pernah tercapai. Ketegangan memuncak, dan jalan pengkhianatan dianggap sebagai satu-satunya solusi cepat.

Puncak Pengkhianatan: Detik-detik Pembunuhan Sultan Khairun (1570)

Pada 28 Februari 1570, Kapten Diogo Lopes de Mesquita, komandan benteng Kastela, mengundang Sultan Khairun untuk menghadiri jamuan makan malam, konon sebagai simbol rekonsiliasi setelah periode konflik. Undangan itu disertai sumpah suci atas nama Raja Portugal dan Yesus Kristus, menjamin keselamatan Sultan.

Sultan Khairun, meskipun waspada, menerima undangan tersebut demi menjaga citra perdamaian. Begitu memasuki gerbang benteng, ia ditangkap dan langsung dibunuh oleh Mesquita. Pembunuhan ini dilakukan secara terbuka, di tengah jantung Ternate, sebagai pesan brutal bahwa tidak ada yang aman dari kekuasaan Portugis.

Dampaknya instan: kemarahan massal, kekosongan kekuasaan yang mendadak, dan ancaman disintegrasi Ternate. Namun, Portugis salah perhitungan. Mereka berharap pembunuhan itu akan melumpuhkan Ternate; sebaliknya, peristiwa ini justru menyulut api persatuan yang dahsyat.

Fatwa Jihad Akbar: Legitimasi Politik dan Spiritual Sultan Baabullah

Sultan Baabullah, yang segera naik takhta setelah kematian ayahnya, menghadapi tantangan berat: memimpin kerajaan yang baru saja dihantam pengkhianatan, sekaligus melawan salah satu kekuatan maritim terkuat di dunia saat itu. Responnya harus total, terlegitimasi, dan mampu menyatukan seluruh elemen masyarakat.

Baabullah memilih jalan yang paling kuat: meletakkan dasar perlawanan pada otoritas keagamaan. Ia mengeluarkan Fatwa Jihad Akbar.

Transisi Kepemimpinan yang Mendadak

Baabullah bukan hanya seorang prajurit, tetapi juga seorang ulama yang terdidik. Ia memahami bahwa kekuatan militer saja tidak cukup. Dalam masa berkabung yang singkat, ia segera mengonsolidasikan dukungan dari para ulama dan kolano (pemimpin lokal) Ternate.

Transisi kekuasaan ini mulus karena dua alasan:

  1. Darah Perlawanan: Baabullah dikenal sebagai pemimpin yang tegas dan telah lama terlibat dalam kampanye militer ayahnya.
  2. Kebutuhan Mendesak: Tidak ada ruang untuk perebutan kekuasaan internal; musuh sudah di depan mata.

Langkah pertamanya adalah memastikan bahwa pembunuhan Sultan Khairun diakui tidak hanya sebagai kejahatan politik, tetapi sebagai pelanggaran berat terhadap perjanjian dan nilai-nilai Islam, yang menuntut balasan setimpal.

Makna Teologis dan Politik Fatwa Jihad

Fatwa Jihad Akbar adalah lebih dari sekadar panggilan perang; itu adalah mobilisasi total yang menggunakan kerangka hukum Islam untuk mencapai tujuan politik dan militer.

Secara teologis, Fatwa ini membenarkan perlawanan bersenjata terhadap penjajah yang telah melanggar janji (ahd) dan membunuh pemimpin Muslim yang sah. Ini menjamin partisipasi rakyat Ternate dan sekutu mereka di bawah panji suci. Bagi para prajurit, perang ini bukan lagi sekadar konflik teritorial, melainkan kewajiban agama.

Secara politik, Fatwa ini memungkinkan Sultan Baabullah untuk:

  • Unifikasi 72 Raja: Baabullah menggunakan Fatwa ini untuk memanggil loyalitas dari semua wilayah yang pernah dikuasai atau beraliansi dengan Ternate—disebut sebagai “Penguasa 72 Pulau”. Ini mencakup sebagian besar Sulawesi Utara, Filipina Selatan (Mindanao), dan kepulauan di Maluku.
  • Isolasi Diplomatik Portugis: Di mata dunia Muslim Nusantara, Portugis dicap sebagai pengkhianat yang tidak dapat dipercaya, mengikis dukungan apa pun yang mungkin mereka miliki.
  • Peningkatan Moral: Konsep Jihad meningkatkan semangat juang dan kesediaan untuk berkorban demi membalas darah Sultan yang dibunuh.

Dengan Fatwa Jihad Akbar sebagai dasar hukum dan moral, Sultan Baabullah kini memiliki mandat absolut untuk mengepung dan mengusir Portugis dari benteng mereka di Maluku.

Strategi Pengepungan dan Mobilisasi Armada 1570–1575

Segera setelah deklarasi Fatwa Jihad Akbar, Sultan Baabullah melancarkan operasi militer terbesar yang pernah disaksikan di Maluku hingga saat itu. Target utamanya adalah Fort Kastela, simbol kekuasaan Portugis.

Baabullah tahu betul bahwa benteng batu Eropa tidak bisa ditaklukkan dalam satu serangan frontal. Strategi yang ia terapkan adalah strategi jangka panjang yang mengandalkan keunggulan lokal, konsolidasi sekutu, dan penguasaan jalur laut.

Pengepungan Fort Kastela: Kesabaran dan Kecerdikan Militer

Pengepungan Fort Kastela berlangsung selama lima tahun (1570–1575). Ini adalah salah satu pengepungan terpanjang dan paling brutal dalam sejarah kolonial Asia Tenggara. Strategi Baabullah berfokus pada tiga pilar:

1. Blokade Total Laut dan Darat

Armada Ternate, yang diperkuat oleh kapal-kapal sekutu, menutup rapat semua akses laut ke Ternate. Ini mencegah datangnya bantuan, makanan, dan amunisi dari pangkalan Portugis lain seperti Malaka atau Goa. Di darat, benteng itu dikelilingi oleh pasukan Ternate yang terus-menerus melancarkan serangan kejutan dan tembakan artileri.

2. Perang Psikologis

Baabullah secara cerdas memanfaatkan kondisi psikologis di dalam benteng. Kekurangan makanan dan penyakit mulai merenggut nyawa tentara Portugis. Baabullah sering mengirim utusan untuk bernegosiasi, bukan untuk berdamai, tetapi untuk menawarkan jalan keluar bagi non-kombatan, yang semakin mengikis moral para pembela benteng.

3. Konsolidasi Kekuatan 72 Pulau

Selama pengepungan, Baabullah tidak hanya terpaku di Ternate. Ia mengirim ekspedisi militer ke pulau-pulau di sekitarnya yang masih pro-Portugis (terutama beberapa wilayah di Tidore dan Ambon), memastikan bahwa tidak ada pangkalan musuh yang bisa digunakan untuk melancarkan serangan balik.

Pengepungan ini menunjukkan kematangan strategis Sultan Baabullah. Ia tidak terburu-buru; ia mengandalkan waktu dan tekanan logistik untuk melemahkan musuh yang secara teknologi lebih unggul.

Kemenangan Ternate: Jatuhnya Fort Kastela dan Pengusiran Abadi

Tahun 1575, setelah lima tahun menderita kelaparan, penyakit, dan kelelahan, pertahanan Fort Kastela akhirnya runtuh. Pasukan Portugis menyerah kepada Sultan Baabullah. Kemenangan ini adalah momen monumental, bukan hanya bagi Ternate, tetapi bagi seluruh Asia Tenggara.

Sultan Baabullah menunjukkan kebijaksanaan diplomatik saat menerima penyerahan. Ia tidak melakukan pembantaian massal. Sebaliknya, ia mengizinkan sisa-sisa garnisun Portugis untuk pergi, tetapi dengan satu syarat tegas: mereka harus meninggalkan seluruh Maluku Utara dan tidak pernah kembali.

Benteng Kastela, yang pernah menjadi simbol dominasi Eropa, kini berada di bawah kendali Ternate. Sultan Baabullah mengubah fungsinya, menegaskan bahwa Ternate telah memenangkan kembali kedaulatannya.

Dampak Regional dan Warisan Baabullah

Kemenangan Ternate memiliki gaung yang sangat luas. Ini adalah salah satu contoh paling awal dan paling sukses dari perlawanan pribumi Asia Tenggara yang berhasil mengusir kekuatan Eropa yang mapan.

Warisan Sultan Baabullah melampaui batas Ternate:

  1. Kekuasaan Penuh Maluku: Baabullah berhasil membangun kekaisaran Ternate yang mencapai puncak kejayaan, menguasai wilayah dari Filipina Selatan hingga sebagian Papua. Ia dijuluki “Penguasa Timur yang Tak Terkalahkan”.
  2. Inspirasi Perlawanan: Keberhasilan ini menjadi inspirasi bagi kesultanan lain (seperti Aceh dan Mataram) yang berjuang melawan dominasi Eropa pada abad-abad berikutnya. Ini membuktikan bahwa Portugis bukanlah entitas yang tidak terkalahkan.
  3. Penguatan Islam:Fatwa Jihad Akbar menguatkan peran ulama dan hukum Islam sebagai fondasi legitimasi perlawanan terhadap kolonialisme.

Setelah diusir dari Ternate, Portugis mencoba mendirikan benteng baru di Tidore dan Ambon, namun momentum telah hilang. Mereka kehilangan pusat rempah utama mereka dan posisi mereka di Nusantara terus merosot, membuka jalan bagi kekuatan Eropa baru—Belanda—yang akan tiba beberapa dekade kemudian.

Menelusuri Warisan Abadi: Sultan Baabullah sebagai Arsitek Kedaulatan

Sultan Baabullah Datu Syah adalah arsitek kedaulatan Ternate. Masa pemerintahannya yang singkat (13 tahun) diisi dengan manuver militer, diplomasi, dan pembangunan rohani yang luar biasa. Ia mengambil dendam pribadi atas kematian ayahnya dan mengubahnya menjadi gerakan nasional yang sah dan terstruktur.

Keputusannya untuk memproklamirkan Fatwa Jihad Akbar adalah langkah jenius. Ini tidak hanya memobilisasi militer, tetapi juga menyentuh nurani dan keyakinan spiritual rakyatnya, mengubah pengepungan lima tahun menjadi sebuah epik suci yang menuntut pengorbanan tertinggi.

Kisah Sultan Baabullah mengajarkan kita bahwa perlawanan terhadap kolonialisme tidak selalu mengandalkan superioritas teknologi, melainkan kecerdasan strategis, kesabaran, dan kemampuan untuk menyatukan beragam kepentingan di bawah satu panji ideologis yang kuat.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.