Pusat Spiritual Bali: Mengapa Kerajaan Klungkung (Abad Ke-17) Menetapkan Pura Besakih sebagai Pura Pusat Raja-Raja di Pulau Dewata

Subrata
02, Februari, 2026, 08:52:00
Pusat Spiritual Bali: Mengapa Kerajaan Klungkung (Abad Ke-17) Menetapkan Pura Besakih sebagai Pura Pusat Raja-Raja di Pulau Dewata

    Table of Contents

Sejarah Bali adalah kisah yang terjalin erat antara politik kekuasaan duniawi dan otoritas spiritual yang tak terbantahkan. Tidak ada periode yang lebih mendefinisikan perpaduan ini selain Masa Kerajaan Klungkung, khususnya pada Abad Ke-17. Periode ini menandai titik balik krusial ketika Pura Besakih, kompleks pura terbesar dan termulia di Bali, tidak hanya dihormati sebagai tempat suci, tetapi secara resmi ditetapkan dan dilembagakan sebagai Pura Pusat (Pura Penataran Agung) bagi seluruh raja dan penguasa di Pulau Dewata. Keputusan ini, yang didorong oleh kebutuhan untuk melegitimasi kekuasaan Dewa Agung Klungkung setelah runtuhnya Kerajaan Gelgel, adalah sebuah manuver politik-spiritual yang mendefinisikan hirarki agama Hindu Dharma hingga hari ini.

Untuk memahami signifikansi penetapan ini, kita harus menyelami konteks politik, kosmologi, dan strategi Kerajaan Klungkung. Mengapa Besakih, yang terletak di lereng Gunung Agung yang sakral, menjadi alat sentralisasi spiritual yang begitu ampuh? Bagaimana seorang raja di Semarapura (ibukota Klungkung) dapat menggunakan sebuah pura untuk mengklaim supremasi atas raja-raja bawahan (vassal states) lainnya di Bali?

Transisi dari Gelgel ke Klungkung: Kekacauan dan Legitimasi Baru

Abad Ke-17 di Bali ditandai oleh perpecahan. Sebelumnya, Kerajaan Gelgel (pendahulu Klungkung) telah mencapai puncak kejayaan dan mengklaim dominasi atas seluruh Bali, bahkan Lombok. Namun, konflik internal, khususnya yang melibatkan faksi-faksi bangsawan dan ketidakstabilan suksesi, menyebabkan Gelgel terpecah. Meskipun pusat kekuasaan dipindahkan ke Klungkung (Semarapura), yang didirikan oleh keturunan raja-raja Gelgel, supremasi politik yang diwarisi terasa goyah.

Para penguasa Klungkung, yang memegang gelar kehormatan Dewa Agung, menyadari bahwa mengandalkan kekuatan militer saja tidak cukup untuk menyatukan kembali kerajaan-kerajaan pecahan seperti Buleleng, Karangasem, Tabanan, dan Badung. Mereka membutuhkan landasan legitimasi yang lebih tinggi, yang melampaui konflik dinasti: Otoritas Spiritual.

Dalam pandangan kosmologi Bali, kekuasaan yang sah (dharma) harus berasal dari mandat ilahi. Oleh karena itu, Kerajaan Klungkung memandang perlu untuk menetapkan simbol spiritual yang tak terbantahkan, yang akan diakui oleh semua faksi dan raja-raja bawahan. Pura Besakih, dengan sejarahnya yang mendalam dan lokasinya yang strategis di kaki Gunung Agung (yang dianggap sebagai pusat kosmos Bali, Sad Kahyangan Jagat), adalah pilihan yang sempurna.

Peran Gunung Agung sebagai Mandala Suci

Bagi masyarakat Bali, Gunung Agung bukan sekadar gunung; ia adalah poros dunia, tempat bersemayamnya para dewa, leluhur, dan manifestasi tertinggi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa). Kerajaan Klungkung secara cerdas mengaitkan legitimasi mereka langsung dengan sumber spiritual tertinggi ini. Dengan menjadikan Besakih sebagai Pura Pusat, Dewa Agung secara implisit memproklamasikan dirinya sebagai penjaga dan pelaksana ritus suci bagi seluruh Bali.

Penetapan Besakih sebagai pura pusat di Abad Ke-17 ini bukan sekadar penunjukan; itu adalah re-organisasi tata ruang spiritual kerajaan. Semua raja di Bali, meskipun secara politik independen, diwajibkan untuk mengakui Besakih sebagai Pura Induk mereka dan secara rutin berpartisipasi dalam upacara-upacara besar yang diselenggarakan di bawah naungan Dewa Agung.

Pura Besakih Sebelum Abad Ke-17: Pondasi yang Kuat

Penting untuk dicatat bahwa Besakih sudah memiliki status luhur jauh sebelum Kerajaan Klungkung. Sejak era Bali kuno, Besakih telah dihormati. Legenda Rsi Markandeya, yang diperkirakan terjadi pada abad ke-8 Masehi, telah menempatkan Besakih sebagai titik awal penyebaran Hindu Dharma di Bali. Selain itu, pada masa Majapahit dan Dinasti Gelgel, Besakih telah berfungsi sebagai pura negara (pura kahyangan jagat).

Namun, di bawah Klungkung, status ini diintensifkan. Klungkung mengambil warisan spiritual ini dan memberinya struktur birokrasi dan politik yang formal. Mereka memastikan bahwa tidak ada pura lain yang dapat menyaingi Besakih dalam hal skala, otoritas, dan kewajiban ritual. Pura Besakih dikodifikasi menjadi Pura Penataran Agung (Pura Utama Agung), yang menjadi pusat dari sistem pura-pura yang lebih kecil di seluruh Bali.

Konsep Pura Penataran Agung dan Tri Murti

Di jantung Besakih terletak Pura Penataran Agung Besakih. Area ini dikonsepsikan sebagai representasi Tri Murti: Brahma (Pencipta), Wisnu (Pemelihara), dan Siwa (Pelebur). Penetapan ini sangat penting karena mencerminkan pemahaman Hindu Bali bahwa kekuasaan Dewa Agung harus menyeluruh—mencakup penciptaan, pemeliharaan, dan siklus kehidupan. Posisi sentral ini secara fisik diwujudkan oleh Padmasana Tunggal di Pura Penataran Agung, yang menghadap langsung ke arah puncak Gunung Agung, melambangkan Singgasana Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa).

Dengan menempatkan ritual tertinggi yang ditujukan kepada Trimurti di bawah pengawasan Klungkung, para raja bawahan secara otomatis diposisikan sebagai partisipan dalam sebuah tata tertib kosmik yang dipimpin oleh Dewa Agung. Ini adalah strategi yang cemerlang: perang dimenangkan bukan di medan pertempuran, melainkan melalui ritual yang diakui bersama.

Sentralisasi Ritual dan Integrasi Politik: Strategi Klungkung

Inti dari penetapan Besakih sebagai pura pusat adalah sentralisasi penyelenggaraan ritual berskala besar, terutama Upacara Eka Dasa Rudra dan Tri Bhuwana. Ritual-ritual ini membutuhkan partisipasi, sumber daya, dan pengakuan dari seluruh kerajaan di Bali.

Upacara Eka Dasa Rudra: Penyatuan Melalui Korban Suci

Upacara Eka Dasa Rudra, yang diadakan sekali dalam seratus tahun (atau pada saat-saat kekacauan besar), adalah upacara penyucian alam semesta terbesar dalam kalender Hindu Bali. Penyelenggaraan Eka Dasa Rudra membutuhkan mobilisasi sumber daya dan tenaga kerja yang luar biasa dari seluruh Bali. Raja Klungkung, sebagai penyelenggara dan donatur utama (yajna pati), menegaskan klaimnya sebagai Raja Bhumi (Penguasa Tanah) dan Raja Dharma (Penguasa Hukum Suci) atas semua wilayah lain.

Melalui partisipasi paksa atau sukarela dalam upacara-upacara ini, raja-raja bawahan secara formal mengakui superioritas spiritual Klungkung. Bahkan jika secara politik mereka mulai memisahkan diri, secara spiritual mereka tetap terikat pada poros Besakih yang dikendalikan oleh Dewa Agung. Besakih menjadi ikatan kolektif yang menjaga kesadaran akan persatuan kultural dan spiritual Bali, meskipun unit politiknya terfragmentasi.

Besakih sebagai Pura Dadia Agung

Selain menjadi Pura Kahyangan Jagat (pura umum), Besakih juga berfungsi sebagai Pura Dadia Agung, atau pura leluhur utama, bagi klan-klan bangsawan utama yang tersebar di seluruh Bali, terutama keturunan Brahmana dan Ksatria yang terkait dengan dinasti Gelgel. Di kompleks Besakih, terdapat puluhan pura kecil (Pura Pejenengan) yang didedikasikan untuk leluhur (Dewa Hyang) dari berbagai garis keturunan kerajaan.

Kewajiban untuk bersembahyang dan memelihara pura leluhur mereka di Besakih secara otomatis membawa raja-raja dan bangsawan dari Karangasem, Tabanan, dan Badung kembali ke pusat spiritual Klungkung. Ini menciptakan sistem keterikatan yang sangat sulit diputus. Kewajiban leluhur (pitra yadnya) menjadi instrumen politik yang kuat di tangan Klungkung.

Sistem Catur Angga Besakih: Struktur Kosmik Klungkung

Untuk memperkuat posisi Besakih, Kerajaan Klungkung secara resmi mengukuhkan Besakih sebagai bagian dari sistem yang lebih besar yang disebut Catur Angga Besakih (Empat Anggota Besakih). Sistem ini mendistribusikan otoritas spiritual Besakih ke empat arah mata angin, yang diwakili oleh pura-pura penting lainnya, namun tetap menempatkan Besakih sebagai pusat absolut:

  1. Pura Penataran Agung Besakih (Pusat): Representasi Siwa/Iswara.
  2. Pura Goa Lawah (Timur): Representasi Maheswara.
  3. Pura Uluwatu (Selatan): Representasi Brahma.
  4. Pura Batukaru (Barat): Representasi Mahadewa.
  5. Pura Lempuyang Luhur (Utara): Representasi Wisnu.

Meskipun ada lima pura (sering disebut Panca Tirtha atau Sad Kahyangan Jagat), Besakih tetap berdiri di pusat sebagai poros utama. Dengan mengorganisir kosmos spiritual Bali sedemikian rupa, Klungkung memastikan bahwa setiap raja di wilayah mana pun mengakui hierarki yang dimulai dan berakhir di Gunung Agung, di mana Dewa Agung Klungkung berkuasa.

Arsitektur, Simbolisme, dan Penguatan Kekuasaan

Pada Abad Ke-17 dan sesudahnya, Dewa Agung memprakarsai pembangunan dan perluasan di kompleks Besakih. Arsitektur pura tersebut dirancang untuk mencerminkan hierarki kosmik yang kompleks dan absolut.

Tata letak Besakih, yang menanjak melalui tiga tingkat halaman (mandala), secara sempurna merefleksikan konsep Tri Loka (Bhur, Bvah, Svah Loka), menunjukkan perjalanan spiritual dari dunia manusia ke alam dewa. Pura Penataran Agung ditempatkan di tingkat tertinggi, paling dekat dengan puncak Gunung Agung, secara simbolis memposisikan raja Klungkung sebagai mediator yang paling dekat dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Pembangunan meru-meru (menara beratap susun) yang tinggi di Besakih, yang melambangkan gunung suci Mahameru, didanai oleh berbagai kerajaan bawahan. Kontribusi finansial dan material ini adalah bentuk nyata dari pengakuan politik dan pembayaran upeti spiritual kepada Klungkung. Dengan demikian, arsitektur Besakih pada masa Klungkung menjadi catatan batu tentang struktur kekuasaan di Bali pada abad tersebut.

Dampak dan Warisan Abadi Klungkung terhadap Spiritualitas Bali

Meskipun Kerajaan Klungkung akhirnya jatuh di awal Abad Ke-20 akibat Puputan Klungkung melawan Belanda, warisan spiritual yang dilembagakan pada Abad Ke-17 tetap bertahan dan tak tergoyahkan. Penetapan Besakih sebagai pura pusat memiliki konsekuensi yang jauh melampaui masa kekuasaan Dewa Agung:

1. Prinsip Tri Hita Karana dan Besakih

Penguatan Besakih adalah penguatan filosofi inti Hindu Bali: Tri Hita Karana (tiga penyebab keharmonisan). Besakih berfungsi sebagai penghubung vital antara:

  • Parhyangan (Hubungan dengan Tuhan): Besakih adalah tempat suci utama untuk memuja Dewa Agung.
  • Pawongan (Hubungan dengan Manusia): Besakih mewajibkan kerjasama ritual antar-kerajaan, menciptakan jaringan sosial dan politik.
  • Palemahan (Hubungan dengan Alam): Besakih berada di kaki Gunung Agung, menggarisbawahi pentingnya menjaga keseimbangan ekologi.

Kerajaan Klungkung berhasil memadatkan filosofi tata kelola ini menjadi sebuah tempat ibadah tunggal, menjadikannya model bagi seluruh desa dan puri di Bali. Sistem ini memastikan bahwa bahkan setelah hilangnya kekuasaan politik Klungkung, kohesi spiritual Bali tetap utuh.

2. Sistem Kasta dan Besakih sebagai Pusat Pendharma Witana

Besakih juga memainkan peran penting dalam mengukuhkan struktur sosial Bali. Keluarga Dewa Agung Klungkung secara tradisional dianggap sebagai klan Ksatria tertinggi (Ksatria Dalem) yang berhak memimpin ritual-ritual negara. Pengorganisasian ritual besar di Besakih secara efektif mengukuhkan hierarki kasta, dengan para Pendeta (Brahmana) dari Griya terkemuka yang bertugas memimpin upacara, namun di bawah naungan raja Klungkung sebagai pemimpin spiritual tertinggi negara (rajadewata).

3. Identitas Kultural Bali Modern

Hingga kini, Pura Besakih adalah simbol tak terpisahkan dari identitas Bali. Setiap upacara besar yang diselenggarakan di Besakih masih memerlukan partisipasi simbolis dari berbagai wilayah, menghidupkan kembali jaringan spiritual yang diletakkan oleh Kerajaan Klungkung pada Abad Ke-17. Ketika Bali menghadapi tantangan modernitas dan globalisasi, Besakih tetap menjadi jangkar tradisi, memastikan bahwa prinsip-prinsip spiritual yang diletakkan oleh Dewa Agung untuk mempersatukan kerajaan tetap relevan untuk mempersatukan masyarakat.

Kesimpulan: Kemenangan Spiritual Klungkung

Abad Ke-17 adalah masa penentuan bagi Bali. Ketika Kerajaan Gelgel jatuh dan kekuasaan politik terpecah, Kerajaan Klungkung, yang memegang warisan dinasti, memilih jalan spiritual untuk mempertahankan supremasi. Melalui penetapan Pura Besakih sebagai Pura Pusat bagi Seluruh Raja di Bali, Dewa Agung Klungkung melakukan lebih dari sekadar memilih tempat ibadah; mereka menetapkan sebuah konstitusi spiritual yang mengikat seluruh pulau.

Strategi ini memastikan bahwa, terlepas dari perpecahan politik atau intervensi asing (Belanda), Besakih tetap menjadi jantung spiritual Bali yang berdenyut, sebuah pengingat abadi bahwa kekuasaan sejati di Pulau Dewata adalah kekuasaan yang dilegitimasi oleh kosmos dan diabadikan melalui ritual. Warisan Klungkung di Besakih adalah kisah tentang bagaimana spiritualitas berhasil mengikat fragmen-fragmen politik menjadi satu kesatuan budaya yang harmonis dan tak lekang oleh waktu. Besakih bukan hanya Pura; ia adalah manifestasi fisik dari keutuhan spiritual Bali yang dirancang oleh visi politik-kosmologis Klungkung. Hingga hari ini, setiap warga Bali, setiap raja, dan setiap pemimpin adat berlutut di Pura Penataran Agung, mengakui sentralitas spiritual yang diresmikan lebih dari tiga abad yang lalu.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.