Puncak Pengkhianatan: Pembunuhan Sultan Khairun di Benteng Kastela (1570) dan Awal Perang Ternate
- 1.
Emas, Cengkeh, dan Perebutan Maluku
- 2.
Profil Sultan Khairun: Sang Pemimpin Strategis
- 3.
Pura-pura Damai: Strategi Licik Lopez de Mesquita
- 4.
Sumpah Palsu di Atas Alkitab
- 5.
Detik-detik Tragis di Dalam Benteng
- 6.
Reaksi Langsung dan Kebingungan
- 7.
Kebangkitan Sultan Baabullah: Penguasa 72 Pulau
- 8.
Pengepungan Benteng Kastela (1570–1575)
Table of Contents
Puncak Pengkhianatan: Pembunuhan Sultan Khairun di Benteng Kastela (1570) dan Awal Perang Ternate
Sejarah Nusantara dipenuhi babak-babak heroik perlawanan terhadap kolonialisme, namun tak jarang pula diwarnai tinta hitam pengkhianatan. Salah satu peristiwa paling monumental dan tragis terjadi pada tahun 1570, yang secara definitif mengubah peta kekuasaan di Maluku. Peristiwa itu adalah Puncak Pengkhianatan: Pembunuhan Sultan Khairun di Benteng Kastela (1570).
Sultan Khairun Jamil (Hairun) dari Ternate, seorang pemimpin Muslim yang cerdas dan gigih, dikenal sebagai duri dalam daging bagi ambisi Portugis di Kepulauan Rempah. Keberhasilannya mengonsolidasi kekuatan lokal membuat Lisbon frustrasi. Keinginan Portugis untuk menguasai jalur perdagangan cengkeh dan pala mencapai klimaksnya bukan melalui peperangan terbuka, melainkan melalui tipu muslihat paling keji.
Pembunuhan yang terjadi di dalam benteng São João Baptista de Ternate (kini Benteng Kastela) bukan sekadar insiden kecil, melainkan katalis yang menyulut perang besar. Artikel ini akan mengupas tuntas latar belakang konflik, kronologi tragis pengkhianatan, dan dampak seismik yang melahirkan legenda Sultan Baabullah, Sang Penguasa 72 Pulau.
Latar Belakang Konflik: Ternate Melawan Hegemoni Iberia
Pada abad ke-16, Maluku adalah pusat gravitasi ekonomi global. Komoditas cengkeh dan pala memiliki nilai setara emas di pasar Eropa. Dua kerajaan utama, Ternate dan Tidore, menjadi pemain kunci yang saling bersaing, namun keduanya menghadapi ancaman bersama: ekspansi kekuatan Eropa, khususnya Portugis.
Emas, Cengkeh, dan Perebutan Maluku
Kedatangan Portugis pada tahun 1512 awalnya disambut sebagai sekutu Ternate melawan Tidore. Namun, niat sejati mereka cepat terungkap: monopoli total dan penguasaan politik. Benteng Kastela didirikan pada tahun 1522, yang seharusnya menjadi pos dagang dan pertahanan, tetapi fungsinya segera berubah menjadi pusat kontrol dan penindasan.
Sejak awal, hubungan antara Sultan Ternate dengan Kapten Portugis di benteng selalu tegang. Portugis sering melanggar perjanjian, menerapkan harga monopoli yang tidak adil, dan bahkan mencampuri urusan suksesi kerajaan. Konflik-konflik kecil ini menumpuk, menciptakan kebencian yang mendalam di kalangan bangsawan dan rakyat Ternate.
Profil Sultan Khairun: Sang Pemimpin Strategis
Sultan Khairun naik takhta pada periode yang sangat sulit. Ia bukan hanya seorang pejuang, tetapi juga diplomat ulung. Khairun menyadari bahwa untuk mengusir Portugis, ia tidak bisa mengandalkan kekuatan militer semata, tetapi juga aliansi dan strategi jangka panjang. Di bawah kepemimpinannya, Ternate kembali menjadi kekuatan maritim yang disegani, bahkan mampu memblokade pasokan ke Benteng Kastela.
Keberhasilan strategis Khairun yang paling signifikan adalah:
- Mengintegrasikan kembali wilayah-wilayah yang coba dipecah belah Portugis.
- Memperkuat penyebaran Islam sebagai identitas pemersatu perlawanan.
- Membangun jaringan dagang independen yang menghindari monopoli Eropa.
- Melakukan perundingan yang memaksa Portugis sesekali mundur dari kebijakan yang terlalu represif.
Kegigihan Khairun membuat Gubernur Jenderal Portugis di Goa dan Kapten Benteng di Ternate, Diogo Lopez de Mesquita, menyimpulkan bahwa perdamaian yang sesungguhnya tidak akan pernah tercapai selama Sultan Khairun masih hidup.
Kronologi Menuju Kastela: Jaring Jebakan Kolonial
Pada akhir tahun 1560-an, Khairun telah mencapai puncak kekuasaannya. Ia hampir berhasil mengusir total Portugis, membuat mereka terisolasi di dalam Benteng Kastela yang semakin rapuh. Merasa terdesak, Lopez de Mesquita beralih ke taktik yang lebih licik: berpura-pura mencari perdamaian abadi.
Pura-pura Damai: Strategi Licik Lopez de Mesquita
Lopez de Mesquita tahu bahwa serangan terbuka akan menghabiskan sumber dayanya dan hampir pasti gagal. Ia mulai mengirimkan utusan kepada Sultan Khairun, memohon diadakannya pertemuan perdamaian guna menormalisasi hubungan yang telah memburuk selama beberapa dekade.
Syarat-syarat yang diajukan Portugis terdengar sangat menguntungkan Ternate, termasuk janji untuk mengembalikan beberapa hak dagang dan menghentikan intervensi politik. Khairun, meskipun waspada, menyadari bahwa menerima tawaran damai akan memberinya waktu untuk memperkuat militer dan menunjukkan kepada kerajaan-kerajaan lain di Maluku bahwa Portugis bisa dipaksa bernegosiasi.
Namun, di balik layar, Mesquita telah merencanakan operasi rahasia yang mengerikan. Ia mengumpulkan sekelompok kecil perwira dan tentara yang paling loyal dan kejam, mempersiapkan mereka untuk menjalankan misi pembunuhan berencana.
Sumpah Palsu di Atas Alkitab
Untuk menghilangkan keraguan Sultan Khairun, Lopez de Mesquita melancarkan sebuah sandiwara dramatis. Ia bersumpah atas nama Raja Spanyol (sejak penyatuan mahkota) dan di atas kitab suci Katolik (Alkitab) bahwa pertemuan yang akan diadakan di Benteng Kastela adalah murni untuk tujuan damai, dan keselamatan Sultan terjamin sepenuhnya.
Bagi Khairun, sumpah yang melibatkan simbol-simbol suci dan kehormatan kerajaan Eropa ini seharusnya menjadi jaminan yang kuat. Pada 27 Februari 1570, dengan keyakinan yang mungkin terlalu besar terhadap kehormatan lawannya, Sultan Khairun memutuskan untuk memenuhi undangan tersebut. Ia didampingi oleh beberapa pengikut setia, tetapi tidak dengan kekuatan militer penuh, sebagai tanda itikad baik.
Puncak Pengkhianatan: Pembunuhan Sultan Khairun di Benteng Kastela (1570)
Pagi yang menentukan itu menjadi lembaran kelam dalam sejarah kolonialisme Portugis di Asia Tenggara. Sultan Khairun memasuki Benteng Kastela, sebuah struktur batu yang megah dan arogan, yang ironisnya didirikan di atas tanah yang seharusnya ia kuasai.
Detik-detik Tragis di Dalam Benteng
Setibanya di dalam benteng, Sultan Khairun disambut dengan protokoler kehormatan yang tinggi. Ia kemudian dibawa ke sebuah ruangan pribadi untuk melakukan perundingan dengan Lopez de Mesquita. Suasana terasa formal, tetapi di bawah ketenangan itu, ketegangan tersembunyi bersembunyi.
Menurut catatan sejarah, saat negosiasi sedang berlangsung, atau sesaat setelah sesi penyambutan, Mesquita memberikan kode. Tiba-tiba, seorang pengawal Portugis yang telah disiapkan, diidentifikasi dalam beberapa sumber sebagai perwira bernama Antonio Pimental, menyeruak masuk.
Antonio Pimental kemudian menyerang Sultan Khairun secara brutal dengan belati. Serangan itu sangat mendadak dan mematikan. Pengikut Sultan yang hadir tidak sempat bereaksi. Sultan Khairun, pemimpin perkasa yang telah mendominasi Maluku selama puluhan tahun, tewas seketika di lantai benteng yang seharusnya menjadi tempat perundingan damai.
Langkah-langkah yang diambil Portugis menunjukkan betapa terencana dan dinginnya kejahatan ini:
- Pembunuhan dilakukan dengan cepat untuk menghindari keributan.
- Jasad Sultan segera disembunyikan.
- Benteng ditutup total, dan para pengikut Khairun yang berada di luar gerbang dijebak dan ditangkap.
Reaksi Langsung dan Kebingungan
Berita kematian Sultan Khairun menyebar cepat, meskipun Portugis berusaha menutupinya. Awalnya, rakyat Ternate dan para bangsawan bingung dan marah. Bagaimana mungkin seorang Sultan yang disegani tewas di bawah perlindungan sumpah suci? Kebingungan ini segera berubah menjadi kemarahan yang membara. Peristiwa di Benteng Kastela ini bukan hanya tindakan kriminal, melainkan penghinaan terhadap kedaulatan Ternate dan pelanggaran berat terhadap hukum perang (atau perdamaian).
Pembunuhan ini, yang merupakan Puncak Pengkhianatan, dirancang untuk melumpuhkan perlawanan Ternate secara permanen. Namun, perhitungan Portugis meleset jauh. Mereka tidak menyadari bahwa mereka baru saja menyulut api dendam yang takkan padam.
Dampak Sejarah: Api Balas Dendam yang Menyala
Alih-alih runtuh, Ternate justru bersatu di bawah kepemimpinan baru yang jauh lebih radikal dan kejam terhadap penjajah.
Kebangkitan Sultan Baabullah: Penguasa 72 Pulau
Setelah kematian ayahnya, Pangeran Baabullah segera dinobatkan sebagai Sultan Ternate. Baabullah adalah antitesis dari ayahnya dalam hal pendekatan terhadap Portugis—tidak ada lagi negosiasi, hanya pembalasan. Sumpah yang diambil Baabullah adalah untuk mengusir setiap orang Portugis dari tanah Maluku.
Sultan Baabullah tidak hanya memiliki semangat juang, tetapi juga visi politik yang luas. Ia segera melakukan mobilisasi besar-besaran dan membangun koalisi dengan kerajaan-kerajaan lain di Nusantara, termasuk Jawara (Jawa) dan Hitu di Ambon. Ia dijuluki 'Penguasa 72 Pulau', menunjukkan luasnya pengaruh dan jangkauan kekuasaannya yang melampaui Ternate sendiri.
Pembunuhan Khairun memberikan legitimasi moral kepada Baabullah untuk melakukan perang suci (Jihad) melawan penjajah yang tidak beradab dan tidak menepati janji.
Pengepungan Benteng Kastela (1570–1575)
Tindakan pertama Baabullah adalah mengepung Benteng Kastela dengan intensitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pengepungan ini berlangsung selama lima tahun, menunjukkan tekad Ternate yang luar biasa. Pengepungan ini bukanlah sekadar blokade, tetapi perang psikologis dan fisik yang membuat Portugis tercekik.
Faktor-faktor kunci dalam keberhasilan pengepungan ini meliputi:
- Kekuatan Maritim: Ternate mengontrol perairan di sekitar pulau, memutus jalur pasokan makanan, air, dan amunisi Portugis.
- Kesatuan Lokal: Seluruh penduduk Ternate bersatu, tidak ada lagi perbedaan pendapat dalam menentang penjajah.
- Kondisi Internal Benteng: Portugis menderita kelaparan, penyakit, dan moral yang rendah setelah mengetahui pemimpin mereka, Lopez de Mesquita, adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Pengepungan berakhir pada 28 Desember 1575, ketika Benteng Kastela jatuh. Ini adalah kemenangan monumental bagi Ternate, menjadikannya negara pertama di Asia Tenggara yang berhasil mengusir kekuatan kolonial Eropa. Lopez de Mesquita sendiri sempat melarikan diri, namun ia kemudian ditangkap oleh otoritas Portugis sendiri dan diadili karena tindakan brutalnya, meskipun hukuman yang diterimanya terbilang ringan dibandingkan kejahatannya.
Warisan Khairun: Simbol Perjuangan Kedaulatan
Meskipun tragis, kematian Sultan Khairun pada tahun 1570 menjadi benih kemerdekaan Ternate. Khairun mewarisi fondasi perlawanan politik dan ekonomi yang memungkinkan putranya, Baabullah, menyelesaikan misi tersebut. Pembunuhan tersebut membuka mata seluruh Nusantara tentang sifat asli kolonialisme—bahwa perjanjian dan kehormatan tidak berarti apa-apa di hadapan keserakahan kekuasaan.
Peristiwa Puncak Pengkhianatan: Pembunuhan Sultan Khairun di Benteng Kastela (1570) menjadi pelajaran sejarah yang tak ternilai harganya bagi bangsa Indonesia:
- Kebutuhan akan Kewaspadaan: Pentingnya tidak mudah percaya pada janji-janji asing yang disamarkan sebagai perdamaian.
- Kekuatan Konsolidasi: Pembunuhan tersebut memperkuat identitas nasional dan agama Ternate, mempersatukan mereka melawan musuh bersama.
- Transisi Kepemimpinan: Tragedi dapat melahirkan pemimpin baru yang lebih kuat dan bertekad.
Kisah ini sering diangkat dalam konteks literatur dan kajian sejarah Maluku, menunjukkan bahwa Sultan Khairun adalah martir pertama dalam perang panjang Maluku untuk mendapatkan kembali kedaulatannya. Warisan terbesarnya adalah tekad yang ia tanamkan pada rakyatnya, yang puncaknya terlihat dalam kemenangan Ternate lima tahun kemudian.
Kesimpulan
Pembunuhan Sultan Khairun pada tahun 1570 di dalam Benteng Kastela adalah salah satu noda paling gelap dalam sejarah kolonialisme Portugis di Asia. Peristiwa ini, yang kita kenal sebagai Puncak Pengkhianatan: Pembunuhan Sultan Khairun di Benteng Kastela (1570), dirancang untuk memadamkan api perlawanan, namun ironisnya, justru mengipasi bara menjadi kebakaran yang melahap kekuasaan Portugis di Maluku.
Pengkhianatan yang keji ini memastikan bahwa Ternate tidak akan pernah lagi bernegosiasi dengan penjajah atas dasar kepercayaan. Hal ini menghasilkan era baru di bawah Sultan Baabullah, yang tidak hanya mengusir Portugis dari Ternate tetapi juga membangun sebuah kerajaan maritim yang menjadi legenda. Kisah ini mengajarkan kita bahwa kekejaman dan tipu muslihat kolonial pada akhirnya akan dijawab oleh semangat kedaulatan dan pembalasan rakyat yang tertindas. Warisan Khairun tetap hidup sebagai simbol keberanian dan pengorbanan di tengah intrik politik global yang haus rempah-rempah.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.