Sriwijaya dalam Kesadaran Nasional Indonesia dan Malaysia: Perebutan Narasi Sejarah dan Politik Identitas

Subrata
08, April, 2026, 08:06:00
Sriwijaya dalam Kesadaran Nasional Indonesia dan Malaysia: Perebutan Narasi Sejarah dan Politik Identitas

Kerajaan Sriwijaya, sebuah entitas maritim yang pernah mendominasi Selat Malaka antara abad ke-7 hingga ke-13, merupakan salah satu fondasi peradaban terpenting di Asia Tenggara. Namun, warisan gemilang ini, alih-alih menyatukan, justru sering kali menjadi titik gesekan intelektual dan politik antara dua negara serumpun: Indonesia dan Malaysia. Pembahasan mengenai Sriwijaya dalam Kesadaran Nasional Indonesia dan Malaysia: Perebutan Narasi Sejarah bukan sekadar tentang penentuan lokasi ibu kota kuno, melainkan cerminan mendalam dari upaya kedua negara membangun identitas nasional melalui klaim atas masa lalu yang prestisius.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa Sriwijaya menjadi artefak sejarah yang diperebutkan, bagaimana masing-masing negara mengintegrasikan entitas ini ke dalam kurikulum dan politik identitas mereka, serta dampak perebutan narasi ini terhadap hubungan bilateral kontemporer. Memahami kontestasi ini sangat penting untuk melihat bagaimana sejarah dibentuk dan dimanfaatkan demi kepentingan geopolitik dan kesadaran kolektif modern.

Mengapa Sriwijaya Begitu Penting? Fondasi Peradaban Maritim Asia Tenggara

Sebelum membahas ‘perebutan narasi’, kita harus memahami signifikansi abadi Sriwijaya. Kerajaan ini bukan sekadar kerajaan lokal; ia adalah kekuatan talasokrasi (penguasa lautan) yang mengontrol jalur perdagangan krusial antara India, Tiongkok, dan kepulauan Nusantara. Kontrol ini memberikan kekayaan luar biasa dan pengaruh budaya yang mendalam.

Bukti Arkeologi dan Lingua Franca

Penemuan prasasti-prasasti penting, terutama yang ditemukan di Palembang dan sekitarnya (seperti Kedukan Bukit dan Talang Tuo), mengonfirmasi keberadaan dan kekuasaan Sriwijaya. Prasasti-prasasti ini menggunakan Bahasa Melayu Kuno dengan aksara Pallawa, menandakan dua hal fundamental:

  • Bahasa Melayu Kuno sebagai Bahasa Administrasi: Ini menjadi bukti paling awal penggunaan bahasa yang kemudian berevolusi menjadi Bahasa Indonesia dan Bahasa Malaysia, menjadikannya titik awal penting bagi linguistik modern.
  • Pusat Pembelajaran Buddhis: Seorang biksu Tiongkok, I-Tsing, mencatat bahwa Sriwijaya adalah pusat studi agama Buddha Vajrayana yang penting, bahkan mendesak para pelajar dari Tiongkok untuk singgah dan belajar di sana sebelum melanjutkan ke Nalanda, India.

Signifikansi historis dan budaya inilah yang membuat Sriwijaya terlalu berharga untuk dilepaskan dari narasi pendirian negara modern. Sriwijaya adalah simbol kejayaan maritim, sebuah konsep yang sangat resonan di negara kepulauan seperti Indonesia, dan simbol keunggulan budaya Melayu, sebuah konsep sentral bagi Malaysia.

Indonesia: Mengklaim Sebagai Pewaris Utama ‘Nusantara’

Bagi Indonesia, klaim atas Sriwijaya jauh melampaui kepentingan akademis; ini adalah pilar utama dari ideologi negara yang dikenal sebagai Wawasan Nusantara. Dalam narasi nasional Indonesia, Sriwijaya diposisikan sebagai salah satu dari dua kerajaan besar (bersama Majapahit) yang pernah mempersatukan wilayah kepulauan sebelum penjajahan kolonial.

Integrasi Sriwijaya dalam Konstruksi Nasionalisme

Sejak era Presiden Soekarno, sejarah Sriwijaya secara aktif diintegrasikan ke dalam proyek pembangunan bangsa. Konsep “Nusantara”—yang secara etimologi merujuk pada pulau-pulau di luar Jawa—perlu didukung oleh contoh nyata dari kesatuan politik masa lalu. Sriwijaya mengisi kekosongan ini sebagai ‘Indonesia pra-nasional’:

  1. Pembuktian Kedaulatan Maritim: Dengan menunjuk Sriwijaya sebagai kerajaan maritim yang menguasai selat dan laut, Indonesia memperkuat klaimnya atas laut teritorial dan konsep Wawasan Nusantara, memastikan bahwa laut adalah penghubung, bukan pemisah.
  2. Sentralitas Lokasi di Sumatra: Karena sebagian besar bukti arkeologi kuat (Palembang) terletak di Sumatra—pulau inti dari Republik Indonesia—klaim teritorial menjadi lebih tegas. Palembang dipandang sebagai ibu kota yang tak terbantahkan, menjadikan Sriwijaya aset sejarah Indonesia.
  3. Simbol Kebangkitan Asia: Bagi para pendiri bangsa, merujuk pada Sriwijaya dan Majapahit adalah cara untuk melawan narasi kolonial yang menggambarkan wilayah ini sebagai wilayah terfragmentasi dan tanpa peradaban tinggi sebelum kedatangan Barat.

Dalam kurikulum sekolah Indonesia, Sriwijaya diajarkan sebagai tahap awal dari “Sejarah Nasional Indonesia,” langsung terhubung dengan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam lokal, dan berujung pada Republik Indonesia. Fokus utamanya adalah dimensi geografis, politik, dan kedaulatan.

Malaysia: Narasi 'Empayar Melayu' dan Identitas Serumpun

Sementara Indonesia berfokus pada dimensi teritorial dan kedaulatan, narasi Malaysia tentang Sriwijaya lebih berpusat pada aspek linguistik, budaya, dan identitas etnis—konsep Dunia Melayu (Malay World) atau Melayu Raya.

Sriwijaya sebagai Pengesah Identitas Etnis

Bagi Malaysia, Sriwijaya penting karena ia adalah mesin penyebar Bahasa Melayu Kuno. Klaim ini memberikan legitimasi historis yang mendalam terhadap Bahasa Malaysia sebagai bahasa kebangsaan, dan memperkuat identitas etnis Melayu sebagai kelompok pribumi yang berakar jauh di masa lalu maritim:

  • Melayu sebagai Lingua Franca: Narasi Malaysia menekankan bahwa kekuatan Sriwijaya di Selat Malaka mempopulerkan Bahasa Melayu Kuno sebagai bahasa perdagangan dan komunikasi regional. Ini mengukuhkan status Melayu sebagai bahasa utama di Asia Tenggara Maritim selama berabad-abad.
  • Koneksi Lintas Selat: Malaysia (khususnya Semenanjung) memiliki hubungan erat dengan Sriwijaya, seperti yang dibuktikan oleh penemuan arkeologi di Lembah Bujang, Kedah, yang menunjukkan interaksi dan bahkan kemungkinan menjadi bagian integral dari mandala Sriwijaya. Klaim ini tidak teritorial dalam konteks modern, tetapi klaim atas ‘warisan budaya bersama’.
  • Penyambung ke Malaka: Dalam historiografi Malaysia, Sriwijaya sering dilihat sebagai pendahulu kerajaan-kerajaan Melayu berikutnya, seperti Kesultanan Malaka. Ini menciptakan garis keturunan sejarah yang mulus dari peradaban kuno hingga negara bangsa modern berbasis etnis Melayu.

Ketika Malaysia membahas Sriwijaya, fokusnya adalah bagaimana kerajaan tersebut membantu membentuk ‘Peradaban Melayu’ yang melampaui batas-batas politik modern. Sriwijaya adalah bukti bahwa sebelum penjajahan, ada satu kesatuan budaya yang besar, dan Malaysia adalah pewaris langsung dari budaya tersebut.

Anatomi Perebutan Narasi Sejarah: Titik Gesekan dan Interpretasi Berbeda

Kontestasi narasi ini muncul karena fakta sejarah Sriwijaya yang bersifat desentralistik dan maritim, memungkinkan interpretasi yang luas. Sriwijaya adalah ‘mandala’—sebuah pusat kekuasaan yang pengaruhnya memancar, namun tidak memiliki batas teritorial yang kaku layaknya negara modern. Ketidakpastian historis inilah yang dimanfaatkan oleh politik identitas.

Kontroversi Lokasi Pusat Kekuasaan (Palembang vs. Kedah/Semenanjung)

Salah satu debat paling sengit berkisar pada di mana sebenarnya pusat kekuasaan Sriwijaya berada. Meskipun Palembang memiliki bukti prasasti paling awal dan paling padat, ada argumen tandingan yang muncul dari akademisi Malaysia dan Thailand:

  1. Argumen Palembang (Indonesia): Didukung oleh penemuan prasasti 7 Masehi, Palembang adalah lokasi yang paling konsisten dengan deskripsi I-Tsing dan merupakan pusat yang strategis untuk mengontrol Selat Sunda dan Selat Malaka bagian selatan.
  2. Argumen Semenanjung (Malaysia/Thailand): Beberapa sejarawan, seperti G. Coedes dan S. Q. Fatimi, pernah mengajukan teori bahwa pusat Sriwijaya mungkin pernah berpindah ke Semenanjung Malaya (misalnya di Kedah atau Chaiya, Thailand) karena alasan strategis atau serangan dari Jawa. Bagi Malaysia, menekankan peran Kedah membantu menyeimbangkan fokus sejarah yang terlalu terpusat di Sumatra.

Meskipun konsensus akademik saat ini lebih condong ke Palembang sebagai pusat awal dan utama, munculnya argumen tandingan di Malaysia adalah upaya untuk mengklaim bagian yang lebih besar dari warisan politik Sriwijaya, bukan hanya warisan budayanya.

Peran Kurikulum Pendidikan dalam Penguatan Kesadaran Nasional

Perebutan narasi paling efektif terjadi melalui sistem pendidikan. Kurikulum sejarah adalah alat utama negara untuk membentuk Kesadaran Nasional. Perbedaan penekanan antara kedua negara sangat jelas:

  • Di Indonesia: Sriwijaya adalah bagian dari ‘Sejarah Nasional Indonesia’ (Hampir selalu diajarkan sebelum Majapahit). Fokus pada kedaulatan, wilayah, dan kebesaran raja-raja yang berlokasi di wilayah Republik Indonesia modern.
  • Di Malaysia: Sriwijaya (atau Srivijaya) adalah bagian dari ‘Sejarah Dunia Melayu’ (Sejarah Alam Melayu). Fokus utama adalah bagaimana Sriwijaya adalah peradaban yang memperkenalkan Melayu Kuno dan merupakan fondasi bagi identitas serumpun, termasuk kerajaan-kerajaan di Semenanjung.

Melalui kurikulum, setiap negara memastikan bahwa generasi muda melihat Sriwijaya melalui lensa nasionalis mereka sendiri, memperkuat klaim yang pada akhirnya dapat menimbulkan ketegangan budaya saat berinteraksi.

Dampak Perebutan Narasi: Dari Buku Sejarah hingga Politik Kontemporer

Ketika dua negara mengklaim warisan yang sama, dampaknya dapat meluas dari ruang kuliah ke ranah diplomatik, terutama di tengah sensitivitas tinggi mengenai isu budaya dan identitas.

Pengaruh terhadap Hubungan Bilateral dan Sentimen Publik

Meskipun politisi senior Indonesia dan Malaysia sering kali menekankan persatuan serumpun, sentimen publik di tingkat akar rumput sering kali dipicu oleh isu-isu warisan budaya, dan Sriwijaya adalah akar dari banyak perselisihan ini.

Ketika terjadi perselisihan mengenai klaim budaya (misalnya, tarian, makanan, atau lagu), merujuk pada kebesaran Sriwijaya sering digunakan oleh kedua belah pihak untuk membenarkan klaim mereka—Indonesia merujuk pada klaim teritorial historis, sementara Malaysia merujuk pada klaim penyebaran budaya Melayu. Narasi sejarah ini menjadi bahan bakar bagi nasionalisme digital yang reaktif.

Risiko Historisisme dan Nasionalisme Berlebihan

Bahaya utama dalam Perebutan Narasi Sejarah adalah kecenderungan untuk melakukan historisisme—menggunakan sejarah kuno untuk membenarkan batas-batas dan ideologi politik modern. Sriwijaya adalah kerajaan pra-modern yang beroperasi dengan logika kekuasaan yang sama sekali berbeda dengan negara-bangsa abad ke-21.

  • Nuklir Nasionalis: Dengan memaksakan Sriwijaya ke dalam kerangka nasionalis modern, kita berisiko menyederhanakan kompleksitas sejarah. Ini menghilangkan nuansa peran etnis, agama, dan dinamika regional yang sebenarnya jauh lebih cair daripada yang digambarkan oleh kurikulum nasional.
  • Memisahkan Warisan Bersama: Nasionalisme yang berlebihan memaksa pembacaan sejarah menjadi dikotomi ‘milik kita’ atau ‘milik mereka’, padahal Sriwijaya adalah fenomena lintas batas yang menjadi milik semua komunitas di Selat Malaka dan sekitarnya.

Mencari Titik Temu: Sriwijaya Sebagai Warisan Bersama

Mengakhiri kontestasi historis ini tidak berarti salah satu pihak harus menyerah pada klaimnya, melainkan mengakui bahwa sejarah yang kaya memiliki banyak dimensi dan pewaris.

Sriwijaya sebagai Simbol Konektivitas, Bukan Fragmentasi

Pendekatan yang lebih produktif adalah melihat Sriwijaya bukan sebagai milik eksklusif salah satu negara, melainkan sebagai sebuah warisan bersama—simbol dari konektivitas dan pergerakan budaya yang merupakan ciri khas Asia Tenggara sejak zaman kuno. Sriwijaya adalah bukti bahwa sebelum ada Indonesia atau Malaysia, sudah ada interaksi intensif yang melintasi selat.

  • Kolaborasi Akademik: Dibutuhkan lebih banyak penelitian dan kolaborasi antara sejarawan, arkeolog, dan ahli bahasa dari Indonesia, Malaysia, dan bahkan Thailand. Penelitian bersama dapat membantu memisahkan fakta dari mitos nasionalistik dan menawarkan pandangan yang lebih terpadu.
  • Fokus pada Mandala: Pendidikan harus menekankan bahwa Sriwijaya adalah sistem ‘mandala’ yang dinamis dan cair, di mana kekuasaan dan pengaruh dapat berpindah. Ini akan mengajarkan generasi muda tentang kompleksitas, alih-alih simplifikasi, sejarah geopolitik regional.

Mengakui Sriwijaya sebagai Warisan Bersama akan mengubah narasi dari klaim teritorial yang memecah belah menjadi penghargaan atas kontribusi bersama dalam membentuk peradaban Melayu dan Nusantara.

Kesimpulan: Menilik Masa Depan Kesadaran Nasional Indonesia dan Malaysia

Sriwijaya dalam Kesadaran Nasional Indonesia dan Malaysia: Perebutan Narasi Sejarah adalah studi kasus yang menarik tentang bagaimana masa lalu digunakan untuk membangun masa kini. Bagi Indonesia, Sriwijaya adalah pilar kedaulatan maritim dan persatuan Nusantara; bagi Malaysia, Sriwijaya adalah fondasi linguistik dan identitas Melayu yang luas.

Kontestasi narasi ini mungkin tidak akan pernah benar-benar berakhir selama kedua negara terus berjuang mendefinisikan identitas unik mereka di panggung global. Namun, kesadaran tentang mengapa narasi ini diperebutkan adalah kunci menuju kedewasaan historis.

Jika Indonesia dan Malaysia dapat bergeser dari klaim eksklusif menuju pengakuan bahwa Sriwijaya adalah titik awal bersama bagi peradaban yang kini terbagi menjadi dua negara modern, maka warisan Sriwijaya yang sesungguhnya—yakni semangat keterhubungan dan kebesaran maritim—akan menjadi sumber kekuatan dan stabilitas regional, alih-alih sumber perselisihan yang berlarut-larut.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.