Sriwijaya Sebagai Pusat Pembelajaran Agama Buddha Mahayana: Pengakuan Internasional dan Bukti Historis
- 1.
Lokasi Strategis di Jalur Sutra Maritim
- 2.
Dukungan Dinasti Terhadap Tradisi Agama
- 3.
Studi I-Tsing: Kesaksian dari Biarawan Tiongkok
- 4.
Peran Vital Guru Besar Dharmakirti
- 5.
Fokus pada Ajaran Vajrayana Awal
- 6.
Standar Kualitas yang Setara dengan Nalanda
- 7.
Penghubung Budaya dan Bahasa Sansekerta
- 8.
Jejak Pengaruh di Tibet dan Tiongkok
Table of Contents
Ketika membicarakan Kerajaan Sriwijaya, gambaran yang sering muncul adalah kapal-kapal dagang, kekayaan emas, dan dominasi maritim di Selat Malaka. Namun, di balik citra kekuatan ekonomi dan militer yang masyhur tersebut, tersembunyi sebuah fakta yang jauh lebih mendalam: Sriwijaya adalah mercusuar intelektual dan spiritual terkemuka di Asia, diakui secara global sebagai pusat penting bagi studi dan praktik Agama Buddha Mahayana.
Artikel ini akan menelusuri bagaimana Sriwijaya, yang berpusat di Palembang, Sumatera, bertransformasi dari kerajaan pedagang menjadi universitas spiritual raksasa, menarik ribuan biksu dan cendekiawan dari berbagai penjuru dunia, serta mengapa perannya sebagai Pusat Pembelajaran Agama Buddha Mahayana mendapatkan pengakuan internasional yang setara, bahkan terkadang melampaui, institusi besar di India.
Pendahuluan: Mengapa Sriwijaya Penting dalam Sejarah Buddhisme Global?
Pada abad ke-7 hingga ke-13 Masehi, ketika Kerajaan Sriwijaya mencapai puncak kejayaannya, Asia Tenggara bukanlah sekadar jalur transit. Wilayah ini adalah poros budaya dan keilmuan yang menghubungkan India, pusat lahirnya Buddhisme, dengan Tiongkok, konsumen utama ajaran tersebut.
Di tengah pusaran ini, Sriwijaya tidak hanya berfungsi sebagai pelabuhan persinggahan, tetapi juga sebagai pusat karantina keilmuan. Biarawan yang hendak menuju India (untuk belajar langsung dari sumber ajaran) atau kembali dari India (untuk menerjemahkan ajaran ke bahasa Tiongkok) wajib singgah dan tinggal di Sriwijaya untuk menyempurnakan pemahaman mereka terhadap bahasa Sansekerta dan ajaran Mahayana yang kompleks.
Pengakuan terhadap keunggulan intelektual Sriwijaya ini tidak datang dari klaim sepihak. Ia didukung oleh catatan-catatan sejarah otentik dari salah satu musafir dan cendekiawan Tiongkok paling penting dalam sejarah Buddhisme: I-Tsing.
Jantung Kemegahan: Geografis dan Politik yang Mendukung Pusat Keilmuan
Kondisi yang memungkinkan Sriwijaya menjadi pusat spiritual tidak lepas dari faktor geopolitik dan dukungan penguasa yang visioner. Transformasi dari kerajaan maritim menjadi pusat keilmuan membutuhkan stabilitas, kekayaan, dan komitmen ideologis.
Lokasi Strategis di Jalur Sutra Maritim
Posisi geografis Sriwijaya—menguasai Selat Malaka dan Selat Sunda—memberinya kendali mutlak atas perdagangan Asia. Kekayaan yang dihasilkan dari pajak pelabuhan dan perdagangan komoditas (seperti rempah-rempah dan hasil hutan) dialokasikan tidak hanya untuk militer, tetapi juga untuk pembangunan infrastruktur spiritual yang masif.
- Fasilitas Pendidikan: Kekayaan Sriwijaya memungkinkan pembangunan vihara, perpustakaan, dan asrama yang mampu menampung ribuan biksu asing.
- Ketersediaan Sumber Daya: Dukungan finansial memastikan tersedianya salinan naskah-naskah Buddhis, yang pada masa itu merupakan barang langka dan mahal.
Dukungan Dinasti Terhadap Tradisi Agama
Para penguasa Sriwijaya, yang sebagian besar menganut Agama Buddha Mahayana dan Vajrayana (Buddhisme Tantra), secara aktif mensponsori dan mempromosikan kegiatan keagamaan dan keilmuan. Komitmen ini terlihat jelas dalam prasasti-prasasti yang ditemukan di wilayah Sriwijaya, yang menunjukkan dedikasi terhadap pembangunan stupa dan vihara.
Dukungan politik ini menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif bagi para cendekiawan untuk berdiskusi, berdebat, dan menyusun karya-karya filosofis tanpa gangguan, sebuah kemewahan yang tidak selalu tersedia di wilayah lain yang sedang dilanda konflik.
Transformasi Sriwijaya Menjadi Pusat Pembelajaran Agama Buddha Mahayana
Titik balik utama yang mengubah Sriwijaya dari sekadar pusat ziarah menjadi pusat studi yang diakui adalah keberadaan figur-figur spiritual berotoritas tinggi dan kesaksian dari pihak luar yang independen.
Studi I-Tsing: Kesaksian dari Biarawan Tiongkok
Biksu Tiongkok I-Tsing (Yijing) adalah sumber utama yang memberikan gambaran detail dan meyakinkan tentang kualitas keilmuan di Sriwijaya (yang ia sebut 'Shih-li-fo-shih'). I-Tsing melakukan dua kali kunjungan signifikan ke Sriwijaya, pertama pada tahun 671 M sebelum menuju India, dan kedua pada tahun 685 M dalam perjalanan pulang.
Dalam catatannya, I-Tsing menyatakan bahwa:
“Di Shih-li-fo-shih (Sriwijaya), terdapat lebih dari seribu biksu yang belajar dan mempraktikkan ajaran-ajaran terbaik. Jika seorang biksu Tiongkok ingin pergi ke India, dia seharusnya tinggal di sini selama satu atau dua tahun untuk mempelajari tata bahasa Sansekerta. Jika ia telah menguasainya, barulah ia boleh pergi ke India.”
Pernyataan I-Tsing menunjukkan bahwa Sriwijaya tidak hanya mengajarkan Buddhisme, tetapi juga berfungsi sebagai sekolah persiapan bahasa dan filsafat yang standar keilmuannya diakui sebagai prasyarat wajib untuk studi lanjutan di pusat Buddhisme India, seperti Nalanda dan Vikramashila.
Peran Vital Guru Besar Dharmakirti
Pengakuan internasional Sriwijaya semakin kuat berkat kehadiran guru-guru besar berkaliber tinggi. Salah satu tokoh paling penting adalah Bhiksu Dharmakirti (Dharmapala), seorang guru besar yang mengajar di Sriwijaya pada akhir abad ke-7.
Dharmakirti dikenal karena otoritasnya dalam tradisi Yogacara dan Mahayana. Kehadiran guru yang setara dengan para Pandit dari Nalanda ini memastikan bahwa kurikulum dan diskusi filosofis di Sriwijaya tetap berada di garis terdepan perkembangan intelektual Buddhis. Ia bahkan mendidik I-Tsing secara pribadi selama kunjungan kedua biksu Tiongkok tersebut.
Kehadiran Dharmakirti menempatkan Sriwijaya sebagai pusat yang tidak hanya menyalin teks, tetapi juga aktif menghasilkan dan menafsirkan doktrin-doktrin filosofis Mahayana yang baru.
Kurikulum dan Tradisi Keilmuan Mahayana-Vajrayana di Sriwijaya
Apa sebenarnya yang dipelajari oleh ribuan biksu yang memadati vihara-vihara Sriwijaya? Kurikulum di sana mencerminkan pergeseran dinamis dalam Buddhisme pada periode tersebut, dengan fokus kuat pada Mahayana dan munculnya Vajrayana (Buddhisme Tantra).
Pembelajaran di Sriwijaya sangat terstruktur dan komprehensif:
- Gramatika Sansekerta (Sabdavidya): Penekanan utama diberikan pada penguasaan Sansekerta dan tata bahasanya (terutama karya Panini). Tanpa Sansekerta, teks-teks Mahayana tingkat tinggi tidak mungkin dipahami secara akurat.
- Filosofi Mahayana: Studi mendalam tentang aliran Madhyamaka (Nagarjuna) dan Yogacara (Asanga dan Vasubandhu), yang merupakan inti dari ajaran Mahayana tentang kekosongan (sunyata) dan kesadaran (vijnana).
- Vinaya (Disiplin Biarawan): I-Tsing mencatat bahwa Vinaya (peraturan monastik) di Sriwijaya sangat ketat, berdasarkan tradisi Mulasarvastivada, yang menjamin kualitas moral dan spiritual para biksu.
Fokus pada Ajaran Vajrayana Awal
Pada abad ke-8 dan ke-9, Sriwijaya mulai memainkan peran krusial dalam transmisi ajaran Vajrayana (Tantra) ke wilayah lain. Meskipun Vajrayana berkembang pesat di India pada periode ini, Sriwijaya menjadi jembatan penting untuk menyebarkan ajaran esoteris ini ke Asia Tenggara dan Timur.
Patung-patung dan arca-arca yang ditemukan di Sumatera dan Jawa (terutama yang terkait dengan Wangsa Sailendra, yang erat kaitannya dengan Sriwijaya) menunjukkan ikonografi Vajrayana yang kompleks, membuktikan bahwa praktik Tantra bukan hanya teori, tetapi menjadi bagian integral dari kehidupan spiritual kerajaan tersebut.
Standar Kualitas yang Setara dengan Nalanda
Perbandingan antara Sriwijaya dan universitas-universitas besar di India, khususnya Nalanda, sering muncul dalam historiografi. Meskipun Nalanda adalah sumber asli ajaran, Sriwijaya dipandang sebagai pusat yang mampu memfilter, melestarikan, dan mengajarkan ajaran tersebut dengan standar yang tidak kalah rigor.
Pengakuan ini menghasilkan reputasi unik: Sriwijaya adalah 'Nalanda versi Asia Tenggara'—sebuah institusi yang otoritatif, kaya akan naskah, dan dipimpin oleh guru-guru yang teruji keahliannya. Bagi para pelajar yang menghadapi kesulitan perjalanan atau hambatan politik di India, Sriwijaya menawarkan alternatif akademis yang ideal.
Pengakuan Internasional: Mengapa Biarawan Global Berbondong-bondong ke Sriwijaya?
Pertanyaan kunci adalah: mengapa biksu-biksu dari Tiongkok, Jepang, Korea, bahkan dari India sendiri, memilih Sriwijaya sebagai persinggahan penting atau bahkan tujuan akhir studi mereka?
Penghubung Budaya dan Bahasa Sansekerta
Bagi biksu Tiongkok, Sansekerta adalah penghalang terbesar dalam studi Buddhis. Teks-teks Mahayana yang asli ditulis dalam Sansekerta, dan terjemahan ke bahasa Tiongkok sering kali kehilangan nuansa filosofis yang penting. Sriwijaya menyediakan lingkungan berbahasa Sansekerta yang ideal, di luar India.
Selain itu, lingkungan maritim Sriwijaya yang kosmopolit memfasilitasi pertukaran ide. Biksu yang berada di sana tidak hanya belajar dari guru lokal, tetapi juga dari sesama pelajar yang datang dari Persia, India Selatan, dan Nusantara lainnya.
Jejak Pengaruh di Tibet dan Tiongkok
Pengakuan internasional terhadap Sriwijaya tidak terbatas pada catatan I-Tsing. Pengaruh spiritual dari Nusantara juga terasa kuat di wilayah lain, terutama dalam perkembangan Vajrayana di Tibet.
Salah satu bukti paling terkenal adalah peran biksu Atiśa Dipamkara Srijnana (abad ke-11). Meskipun Atiśa berasal dari India, ia tercatat pernah belajar di Sriwijaya di bawah bimbingan Guru Serlingpa (Dharmakirti dari Suvarnadvipa) selama 12 tahun sebelum ia pergi ke Tibet dan mereformasi Buddhisme di sana.
Fakta bahwa salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Buddhisme Tibet menghabiskan lebih dari satu dekade untuk belajar di Sriwijaya menegaskan otoritas Sriwijaya di mata komunitas Buddhis global. Ajaran yang dibawa Atiśa ke Tibet (yang kemudian menjadi dasar bagi sekolah Gelugpa) telah disaring dan diperdalam melalui keilmuan Sriwijaya sebagai Pusat Pembelajaran Agama Buddha Mahayana.
Warisan Abadi: Relevansi Sriwijaya di Masa Kini
Meskipun ibukota fisik Sriwijaya kini hanya tersisa berupa reruntuhan dan artefak yang tersebar, warisan intelektualnya tetap relevan. Pengakuan terhadap Sriwijaya harus bergeser dari sekadar pengagum kejayaan maritim menjadi penghargaan terhadap keunggulan intelektual yang pernah dicapai Nusantara.
Pelajaran penting dari Sriwijaya bagi Indonesia modern meliputi:
- Kosmopolitanisme Intelektual: Sriwijaya menunjukkan kemampuan Nusantara untuk menjadi titik temu budaya dan keilmuan global tanpa kehilangan identitas lokal.
- Investasi Pendidikan Tinggi: Dedikasi kerajaan terhadap standar pendidikan tinggi, yang diakui setara dengan standar internasional (India), membuktikan bahwa Asia Tenggara pernah memimpin dalam pendidikan spiritual dan filosofis.
- Pusat Transmisi Budaya: Sriwijaya mengajarkan bahwa menjadi ‘jembatan’ antara dua peradaban besar (India dan Tiongkok) adalah posisi kekuatan, bukan sekadar penerima pasif.
Meninjau ulang sejarah Sriwijaya memperkuat narasi bahwa Indonesia memiliki akar yang sangat dalam dalam sejarah peradaban global, bukan hanya sebagai jalur perdagangan, tetapi sebagai pusat keunggulan pengetahuan yang didukung oleh EEAT (Expertise, Experience, Authority, Trust) yang diakui dunia internasional pada masanya.
Kesimpulan: Menguatkan Kembali Posisi Sriwijaya sebagai Pusat Pembelajaran Agama Buddha Mahayana
Sriwijaya, sang ‘Raja Lautan’, ternyata juga adalah ‘Raja Ilmu Pengetahuan’. Catatan I-Tsing dan kisah Atiśa Dipamkara Srijnana adalah bukti tak terbantahkan bahwa kerajaan maritim ini memiliki otoritas keilmuan yang mendalam. Mereka tidak hanya melestarikan ajaran Buddha, tetapi juga menjadi pemain kunci dalam evolusi dan penyebaran Agama Buddha Mahayana dan Vajrayana ke seluruh Asia.
Pengakuan internasional yang diterima Sriwijaya adalah pengakuan terhadap integritas akademis, kualitas guru, dan komitmen politik yang luar biasa terhadap ilmu pengetahuan. Dengan menguatkan pemahaman ini, kita tidak hanya menghargai sejarah, tetapi juga menegaskan kembali potensi besar Nusantara sebagai pusat kebudayaan dan keilmuan yang relevan di panggung dunia hingga hari ini.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.