Subak, Lahan Pertanian, dan Jiwa Besakih: Mengupas Tuntas Pembiayaan Upacara Agung Bali

Subrata
19, Februari, 2026, 08:22:00
Subak, Lahan Pertanian, dan Jiwa Besakih: Mengupas Tuntas Pembiayaan Upacara Agung Bali

Subak, Lahan Pertanian, dan Jiwa Besakih: Mengupas Tuntas Pembiayaan Upacara Agung Bali

Bali, sebuah pulau yang kerap dijuluki ‘Pulau Dewata’, menyajikan perpaduan unik antara spiritualitas yang mendalam dan sistem agrikultur yang luar biasa. Di balik keindahan sawah terasering yang telah diakui UNESCO sebagai warisan dunia, tersembunyi sebuah mekanisme sosial-ekonomi yang kompleks: Sistem Subak. Sistem ini tidak hanya mengatur irigasi, tetapi juga berfungsi sebagai pilar utama pembiayaan upacara keagamaan terbesar di Bali, terutama yang diselenggarakan di Pura Besakih, pusat spiritual umat Hindu Dharma.

Artikel mendalam ini bertujuan untuk mengupas tuntas keterkaitan krusial antara produktivitas lahan pertanian dalam kerangka Subak dengan pembiayaan yang berkelanjutan dari Upacara Agung Besakih. Kita akan menyelami filosofi, struktur ekonomi, mekanisme pengumpulan dana, hingga tantangan modern yang mengancam keseimbangan suci ini.

Memahami Filosofi Subak: Manifestasi Tri Hita Karana

Sistem Subak adalah organisasi tradisional berbasis masyarakat yang mengatur manajemen air irigasi sawah. Namun, mendefinisikan Subak hanya sebagai sistem irigasi adalah penyederhanaan yang keliru. Subak adalah sistem holistik yang mewujudkan konsep filosofis inti Hindu Bali, Tri Hita Karana: tiga penyebab kebahagiaan—hubungan harmonis dengan Tuhan (Parhyangan), dengan sesama manusia (Pawongan), dan dengan alam (Palemahan).

Dalam konteks Subak, Parhyangan diwujudkan melalui Pura Ulun Suwi atau Pura Bedugul, tempat pemujaan Dewi Sri (Dewi Kemakmuran dan Padi). Pawongan adalah sistem organisasi sosial yang dipimpin oleh Pekaseh. Sementara Palemahan adalah pengaturan air yang adil dan efisien di lahan pertanian.

Keterlibatan spiritual ini menempatkan lahan pertanian tidak hanya sebagai sumber mata pencaharian, tetapi sebagai bagian integral dari alam semesta yang harus dijaga kesuciannya. Ketika lahan itu suci dan produktif, ia mampu menopang kehidupan spiritual yang lebih tinggi, yaitu pelaksanaan upacara besar seperti di Besakih.

Struktur Organisasi Subak dan Kewajiban Kolektif

Setiap anggota Subak (Krama Subak) memiliki kewajiban ganda: kewajiban agraris (mengolah lahan sesuai jadwal irigasi) dan kewajiban sosial-keagamaan (berkontribusi pada Pura Subak dan upacara yang lebih besar). Struktur kepemimpinan Subak sangat otonom, memastikan bahwa keputusan mengenai alokasi air, penanaman, hingga alokasi hasil panen untuk keperluan adat dilakukan secara musyawarah mufakat.

Kewajiban ini, yang disebut “Pajak Adat” atau kontribusi dalam bentuk hasil bumi, menjadi jembatan langsung antara karunia alam (hasil panen) dan pemeliharaan hubungan dengan Tuhan (upacara). Dengan demikian, kekayaan dan kesehatan lahan Subak secara harfiah adalah kas spiritual Bali.

Pura Besakih: Pusat Keseimbangan Kosmik Bali

Pura Penataran Agung Besakih, yang terletak di lereng Gunung Agung, adalah ‘Ibu dari Segala Pura’ (Mother Temple) di Bali. Sebagai Pura Kahyangan Jagat, Besakih berfungsi sebagai pusat spiritual tempat pemujaan Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa) dan permohonan keseimbangan alam semesta (Bhuwana Agung dan Bhuwana Alit).

Upacara di Besakih tidak hanya melibatkan satu desa atau kabupaten, tetapi seluruh umat Hindu Bali. Upacara-upacara besar seperti Eka Dasa Rudra (diselenggarakan setiap 100 tahun) atau Tri Bhuwana (lima puluh tahun), serta upacara tahunan seperti Bhatara Turun Kabeh, memerlukan sumber daya finansial, material, dan manusia yang luar biasa besar.

Skala Pembiayaan Upacara Agung

_n

Biaya untuk menyelenggarakan upacara agung di Besakih mencakup beragam aspek, mulai dari penyediaan sarana upakara (sesajen) yang sangat detail dan kompleks, logistik ribuan pemangku dan penari, hingga pemeliharaan infrastruktur pura. Sarana upakara saja memerlukan bahan-bahan tertentu yang seringkali harus didatangkan dari seluruh pulau, termasuk hasil pertanian primer seperti beras, buah-buahan, dan rempah-rempah yang berkualitas tinggi.

Oleh karena skala Besakih yang melampaui batas desa adat, pembiayaan tidak dapat ditanggung oleh satu entitas saja. Di sinilah Subak—yang tersebar di seluruh Bali—memainkan peran kolektifnya sebagai penyedia dana dan sumber daya.

Mekanisme Jaringan Pembiayaan Subak-Besakih: Yadnya Sesa dan Gegel

Keterkaitan antara lahan Subak dan Upacara Besakih bukan hanya bersifat moral, tetapi terstruktur melalui mekanisme adat yang telah mengakar selama ratusan tahun. Mekanisme ini memastikan bahwa hasil panen, yang merupakan anugerah dari Dewi Sri, dikembalikan sebagian untuk memelihara hubungan dengan Dewa-Dewi.

Konsep Yadnya Sesa: Kontribusi Wajib

Setiap Krama Subak memiliki kewajiban untuk menyisihkan sebagian hasil panen mereka sebagai Yadnya Sesa (sisa persembahan) atau Iuran Adat. Kontribusi ini bersifat wajib dan biasanya diukur berdasarkan luasan sawah yang dikelola atau berdasarkan persentase hasil panen (misalnya, 1% atau 2% dari total produksi padi per musim).

Kontribusi ini tidak selalu berbentuk uang tunai. Di masa lalu, dan masih relevan hingga kini, kontribusi utama adalah dalam bentuk beras atau padi kering. Beras ini, yang dikenal dengan istilah lokal Gegel atau Pungutan Adat, memiliki nilai sakral dan ekonomi yang tinggi. Kualitas dan kuantitas hasil panen Subak secara langsung menentukan seberapa besar kontribusi yang dapat diberikan.

Dana dan material yang terkumpul di tingkat Subak (melalui Lumbung Desa atau bendahara Subak) kemudian disalurkan melalui hirarki adat. Sebagian digunakan untuk upacara di Pura Ulun Suwi lokal, dan sebagian besar disalurkan ke Pura Kahyangan Jagat yang lebih tinggi tingkatannya, dengan Besakih sebagai penerima prioritas tertinggi ketika ada upacara besar.

Peran Sentral Beras sebagai Mata Uang Spiritual

Penting untuk ditekankan bahwa beras bukan hanya komoditas ekonomi di Bali, melainkan ‘mata uang’ spiritual. Beras adalah bahan utama dalam setiap Banten (sesajen). Dengan menyumbangkan beras hasil sawah Subak, Krama Subak secara langsung menyediakan bahan baku sakral untuk pemenuhan upacara besar. Hal ini menciptakan siklus karma phala yang sempurna:

  1. Subak menjaga harmonisasi alam (Tri Hita Karana), sehingga panen melimpah.
  2. Hasil panen melimpah digunakan untuk membiayai pemeliharaan spiritual Pura Besakih.
  3. Pemeliharaan spiritual Besakih menjamin perlindungan Dewa-Dewi terhadap pulau, termasuk kesuburan tanah Subak itu sendiri.

Keterlibatan Subak dalam pembiayaan Besakih secara efektif membuat setiap petani di Bali merasa memiliki tanggung jawab langsung terhadap kelangsungan spiritual pulau tersebut. Kegagalan panen atau kemerosotan lahan tidak hanya berarti kerugian ekonomi pribadi, tetapi juga potensi gangguan terhadap keseimbangan kosmik yang dijaga oleh upacara Besakih.

Analisis Ekonomi-Spiritual: Lahan Subak sebagai Aset Komunal

Dalam pandangan Barat, tanah pertanian adalah aset pribadi yang diukur dari keuntungan moneter. Namun, dalam konteks Bali, lahan Subak dipandang sebagai aset komunal dan sakral yang memiliki fungsi ganda: ekonomi dan spiritual. Status warisan dunia UNESCO yang diberikan kepada Subak memperkuat pandangan bahwa sistem ini adalah sebuah monumen hidup yang tak ternilai harganya.

Mengukur Kewajiban Berdasarkan Luasan Sawah

Sistem iuran dalam Subak sangat egaliter dan adil, disesuaikan dengan kemampuan petani. Kewajiban kontribusi dihitung berdasarkan luasnya kepemilikan lahan sawah (biasanya diukur dalam Are atau Hektare). Petani dengan sawah lebih luas memiliki kewajiban kontribusi Yadnya Sesa yang lebih besar, memastikan bahwa beban pembiayaan upacara agung didistribusikan secara proporsional di seluruh komunitas.

Mekanisme ini juga mencerminkan prinsip karma phala: semakin besar karunia yang diterima dari alam (lahan yang lebih luas), semakin besar pula tanggung jawab untuk mengembalikan karunia tersebut kepada Tuhan melalui persembahan dan pembiayaan upacara. Ini adalah sistem redistribusi kekayaan yang berbasis teologi.

Dampak Kegagalan Lahan Pertanian terhadap Besakih

Jika terjadi alih fungsi lahan besar-besaran, atau jika Subak mengalami degradasi akibat krisis air atau hama, dampaknya langsung terasa pada kas spiritual Besakih. Ketika lahan Subak berkurang, jumlah Krama Subak penyumbang juga berkurang, dan kuantitas beras (Gegel) yang dapat disumbangkan untuk upacara pun merosot tajam. Hal ini memaksa panitia upacara (Penyarikan atau Prawartaka) untuk mencari alternatif pembiayaan yang seringkali berasal dari donasi luar atau dana pemerintah, yang dapat mengurangi otonomi dan sifat sakral dari pendanaan upacara.

Oleh karena itu, menjaga kesehatan dan keberlanjutan Sistem Subak bukan sekadar isu konservasi lingkungan, melainkan isu ketahanan budaya dan spiritual Bali. Perlindungan lahan Subak adalah perlindungan terhadap kemampuan Bali untuk memelihara upacara-upacara Agung di Pura Besakih.

Tantangan Modern: Erosi Keterkaitan Subak dan Besakih

Meskipun sistem Subak telah teruji berabad-abad, gelombang modernisasi dan globalisasi membawa tantangan serius yang mengancam keseimbangan tradisional ini. Tantangan utama berkisar pada alih fungsi lahan dan perubahan pola ekonomi masyarakat.

Ancaman Alih Fungsi Lahan (Konversi Lahan)

Pertumbuhan pariwisata yang pesat telah mendorong konversi ribuan hektare lahan sawah produktif menjadi hotel, vila, dan infrastruktur pendukung lainnya. Ketika sawah diubah menjadi properti komersial, lahan tersebut otomatis keluar dari yurisdiksi Subak dan, yang terpenting, berhenti memberikan kontribusi Yadnya Sesa.

Fenomena ini menciptakan lubang besar dalam mekanisme pembiayaan Besakih. Jika semakin banyak lahan yang hilang, beban untuk menanggung upacara agung jatuh pada sedikit sisa Subak yang masih ada, yang pada akhirnya dapat memicu konflik sosial dan ketidakadilan dalam distribusi kewajiban.

Pemerintah Provinsi Bali telah berupaya keras melalui regulasi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) untuk melindungi Subak. Namun, tekanan ekonomi dan nilai jual tanah yang tinggi seringkali melebihi insentif untuk mempertahankan lahan sebagai sawah.

Perubahan Gaya Hidup dan Iuran Uang Tunai

Dalam masyarakat yang semakin monetized, kontribusi Yadnya Sesa yang awalnya berbentuk beras (Gegel) mulai digantikan oleh iuran uang tunai. Meskipun ini mempermudah logistik bagi panitia upacara, perubahan ini dapat mengikis makna spiritual beras sebagai karunia Dewi Sri. Ketika kontribusi hanya berbentuk uang, keterkaitan emosional dan filosofis antara hasil panen dan kesucian upacara menjadi kurang terasa.

Lebih jauh lagi, ketergantungan pada uang tunai rentan terhadap fluktuasi ekonomi. Jika petani mengalami gagal panen namun diwajibkan menyumbang dalam bentuk uang, mereka terpaksa menjual aset lain atau berhutang, yang bertentangan dengan prinsip kesejahteraan Subak.

Upaya Adaptasi dan Konservasi Subak untuk Besakih

Menyadari ancaman terhadap sumber pendanaan spiritual utama ini, berbagai pihak, mulai dari desa adat, pemerintah, hingga lembaga internasional, telah mengambil langkah konservasi yang adaptif.

Peran UNESCO dan Konservasi Budaya

Pengakuan UNESCO pada tahun 2012 sebagai Lanskap Budaya Subak menegaskan pentingnya sistem ini secara global. Pengakuan ini memberikan momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat regulasi perlindungan Subak dan mengintegrasikan pariwisata berbasis Subak (agrotourism) yang tidak merusak fungsi utama lahan.

Konservasi yang didukung UNESCO seringkali mencakup penguatan otonomi Pekaseh dan edukasi publik mengenai fungsi ganda Subak sebagai penyangga pangan dan penyangga spiritual Besakih.

Revitalisasi Nilai Spiritual dan Gotong Royong

Upaya revitalisasi juga berfokus pada penguatan kembali nilai-nilai gotong royong dan kesadaran spiritual. Pada upacara besar seperti Eka Dasa Rudra, mobilisasi sumber daya dilakukan melalui sistem Ngayah (kerja bakti sukarela) yang melibatkan seluruh Subak. Sistem ini memastikan bahwa selain kontribusi material (beras/dana), kontribusi tenaga kerja juga didapatkan dari komunitas petani.

Dengan demikian, pembiayaan Upacara Besakih bukan hanya sekedar urusan kas, melainkan manifestasi kolektif dari kesadaran bahwa kemakmuran Bali (yang diwujudkan melalui lahan Subak) harus dikembalikan untuk memelihara hubungan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) di Besakih.

Kesimpulan: Masa Depan Keseimbangan Bali

Keterkaitan antara Sistem Subak, lahan pertanian, dan pembiayaan Upacara Agung Besakih adalah inti dari peradaban Hindu Bali. Ini adalah model unik di mana ekonomi, ekologi, dan teologi menyatu secara sempurna di bawah payung filosofi Tri Hita Karana. Produktivitas lahan pertanian Subak adalah barometer kesehatan finansial Besakih dan, pada akhirnya, barometer keseimbangan spiritual seluruh Pulau Dewata.

Kelangsungan hidup Subak, terutama di tengah tekanan modernisasi dan konversi lahan, adalah tantangan besar. Melindungi sawah-sawah di Bali berarti melindungi bukan hanya warisan agrikultur, tetapi juga sumber dana abadi yang memelihara kehidupan spiritual Besakih. Selama Krama Subak mampu memanen dan menyisihkan hasil panen mereka, selama itu pula Pura Besakih akan mampu melaksanakan upacara agung yang menjaga keharmonisan kosmik Bali.

Pemahaman mendalam mengenai sistem pembiayaan adat ini sangat penting bagi setiap pemangku kepentingan, dari petani hingga pembuat kebijakan, untuk memastikan bahwa ‘Ibu dari Segala Pura’ tetap terawat oleh anugerah dari bumi pertiwi Bali.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.