Menguak Asa: Upaya Pengusulan Pura Besakih ke Daftar Warisan Dunia UNESCO
- 1.
Sejarah dan Integritas Sakral
- 2.
Nilai Universal Luar Biasa (OUV) Pura Besakih
- 3.
Tahap Awal: Daftar Tentatif (Tentative List)
- 4.
Penyusunan Berkas Nominasi (Nomination Dossier)
- 5.
Peran Revitalisasi Pura Besakih dalam Proses UNESCO
- 6.
1. Pemerintah Pusat (Kemendikbud dan Kemenparekraf)
- 7.
2. Pemerintah Provinsi Bali
- 8.
3. Majelis Desa Adat dan Pengempon Pura
- 9.
4. Akademisi dan Tim Ahli Konservasi
- 10.
Tantangan Konservasi: Keaslian dan Integritas
- 11.
Tantangan Pariwisata dan Komersialisasi
- 12.
Tantangan Koordinasi Multisektor
- 13.
1. Penguatan Identitas Budaya dan Kepercayaan Lokal
- 14.
2. Peningkatan Dukungan Konservasi dan Pendanaan
- 15.
3. Manajemen Pariwisata Berkelanjutan
- 16.
4. Peningkatan Kapasitas SDM Lokal
Table of Contents
Pura Besakih, yang dijuluki sebagai ‘Induk dari Segala Pura’ (Mother Temple), bukan sekadar situs ibadah, melainkan manifestasi nyata dari kosmologi spiritual, budaya, dan sejarah peradaban Bali. Berdiri megah di lereng barat daya Gunung Agung, Pura Besakih adalah pusat spiritual bagi umat Hindu Dharma di seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, upaya ambisius dan terstruktur telah digerakkan oleh berbagai pihak di Indonesia, dari pemerintah daerah hingga tingkat pusat, untuk membawa situs suci ini mendapatkan pengakuan tertinggi di panggung global: penetapan sebagai Warisan Dunia UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization).
Pengusulan Pura Besakih UNESCO adalah sebuah langkah strategis yang didorong oleh keinginan luhur untuk menjamin perlindungan abadi, promosi berkelanjutan, dan pengakuan atas Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value – OUV) yang dimiliki kompleks pura ini. Proses pengusulan ini sangat panjang, menuntut ketelitian dokumentasi, komitmen politik yang kuat, serta konsensus dari masyarakat adat, khususnya para Pengempon Pura (penjaga/pemilik pura).
Pura Besakih: Jantung Spiritual dan Arsitektur Kosmologi Bali
Sebelum mendalami proses pengusulan, penting untuk memahami kedalaman signifikansi Pura Besakih. Kompleks pura terbesar dan tersuci di Bali ini terdiri dari 23 pura yang saling berhubungan, dengan Pura Penataran Agung sebagai fokus utamanya. Penataan arsitekturalnya merefleksikan konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) dan kosmologi alam semesta Bali, menjadikannya sebuah manuskrip batu yang menceritakan sejarah spiritual pulau Dewata.
Sejarah dan Integritas Sakral
Sejarah Besakih merentang jauh ke belakang, bahkan sebelum munculnya kerajaan-kerajaan besar di Bali. Catatan tertua menunjuk pada abad ke-10 Masehi. Lokasinya yang berada di tempat tertinggi yang dianggap paling suci, lereng Gunung Agung, menunjukkan keyakinan mendalam umat Hindu Bali terhadap koneksi antara manusia, alam, dan Tuhan (konsep Tri Hita Karana). Pura Besakih juga merupakan pusat pelaksanaan Tri Bhuwana dan Catur Loka Pala, yang secara fundamental mengikat seluruh pura di Bali dalam satu jaringan spiritual yang terintegrasi.
Integritas sakral Pura Besakih tidak hanya terlihat dari struktur fisiknya yang bertahan dari letusan Gunung Agung, tetapi juga dari praktik keagamaan yang tak pernah terputus selama berabad-abad. Ribuan upacara keagamaan, termasuk upacara agung Eka Dasa Rudra dan Panca Walikrama, secara rutin dilaksanakan di sini, menegaskan peran Pura Besakih sebagai sumbu peradaban spiritual Bali.
Nilai Universal Luar Biasa (OUV) Pura Besakih
Pengajuan sebuah situs ke UNESCO harus didasarkan pada demonstrasi jelas bahwa situs tersebut memiliki OUV—nilai yang melampaui batas-batas nasional dan bersifat penting bagi generasi saat ini dan masa depan seluruh umat manusia. Untuk Pura Besakih, OUV tersebut dapat diringkas melalui beberapa kriteria UNESCO:
1. Representasi Karya Agung Manusia (Kriteria i)
Pura Besakih adalah mahakarya genius kreatif manusia Bali dalam merangkai arsitektur pura, penataan terasering, dan integrasi dengan lanskap alam. Kompleks ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang orientasi kosmik (Nawa Sanga) yang tercermin dalam tata letak pura-pura yang menghadap ke Gunung Agung.
2. Pertukaran Nilai Kemanusiaan (Kriteria ii)
Sebagai titik pertemuan berbagai tradisi Hindu Bali, Pura Besakih menjadi saksi pertukaran nilai-nilai keagamaan dan arsitektur selama lebih dari seribu tahun, yang mencakup pengaruh Jawa Kuno (Majapahit) yang diadaptasi secara unik menjadi Hindu Bali.
3. Bukti Tradisi Budaya yang Hidup (Kriteria iii)
Pura Besakih adalah bukti hidup yang tak tertandingi tentang tradisi spiritual Hindu Dharma Bali. Keberadaan sistem Pengempon, ritual yang berkelanjutan, dan keterkaitan kuat antara pura dengan sistem irigasi Subak (yang sudah menjadi Warisan Dunia UNESCO) menunjukkan kesinambungan budaya yang luar biasa.
4. Contoh Lanskap Suci (Kriteria vi)
Situs ini secara langsung dan nyata terkait dengan peristiwa, tradisi hidup, ide, dan kepercayaan yang memiliki signifikansi universal yang luar biasa. Pura Besakih adalah situs ziarah utama yang mewakili hubungan antara gunung sebagai tempat bersemayamnya Dewata dan laut sebagai sumber kehidupan.
Dinamika Proses Pengusulan Warisan Dunia UNESCO
Proses pengusulan situs Warisan Dunia UNESCO adalah maraton birokrasi dan ilmiah yang ketat, dikelola oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), berkoordinasi erat dengan Pemerintah Provinsi Bali.
Tahap Awal: Daftar Tentatif (Tentative List)
Langkah pertama yang esensial adalah memasukkan situs ke dalam Daftar Tentatif (Tentative List) Indonesia. Daftar ini adalah inventaris situs-situs yang dipertimbangkan oleh negara untuk diusulkan di masa depan. Meskipun Bali telah memiliki Warisan Dunia (Sistem Subak), penambahan Pura Besakih memerlukan analisis mendalam agar tidak terjadi tumpang tindih nilai, namun justru memperkuat narasi lanskap budaya Bali secara keseluruhan.
Keputusan untuk menominasikan Pura Besakih sebagai situs tunggal atau sebagai bagian dari nominasi seri (misalnya, sebagai 'Situs Suci Hindu Bali' yang mencakup pura-pura penting lainnya) menjadi pertimbangan krusial. Saat ini, fokus utama adalah memperkuat narasi Besakih sebagai entitas tunggal dengan OUV yang unik, meskipun keterkaitannya dengan Subak dan Gunung Agung tidak dapat dipisahkan.
Penyusunan Berkas Nominasi (Nomination Dossier)
Ini adalah tahap yang paling memakan waktu dan paling krusial. Berkas nominasi adalah dokumen setebal ratusan halaman yang harus memenuhi semua persyaratan teknis UNESCO. Dokumen ini harus mencakup:
A. Deskripsi Lengkap OUV dan Justifikasi
Tim ahli, terdiri dari arkeolog, sejarawan, arsitek, dan ahli agama Hindu, harus menyajikan argumentasi yang tak terbantahkan mengenai mengapa Besakih memenuhi kriteria OUV, didukung oleh data sejarah, etnografi, dan arsitektur yang valid dan terbaru.
B. Perbatasan dan Zona Penyangga (Boundary and Buffer Zones)
Penentuan batas fisik Pura Besakih dan zona penyangga di sekitarnya sangat sensitif, terutama dalam konteks pembangunan modern dan aktivitas pariwisata. Zona penyangga berfungsi untuk melindungi integritas visual dan fungsional pura dari ancaman pembangunan yang tidak sesuai.
C. Rencana Pengelolaan (Management Plan)
UNESCO sangat menekankan pada keberlanjutan. Rencana pengelolaan harus mendemonstrasikan bagaimana situs akan dikelola setelah penetapan, termasuk aspek konservasi, mitigasi risiko bencana alam (khususnya aktivitas Gunung Agung), dan manajemen pariwisata yang berkelanjutan yang menghormati kesakralan situs.
Dalam konteks Pengusulan Pura Besakih, Rencana Pengelolaan harus secara eksplisit mengintegrasikan nilai-nilai adat dan agama, memastikan bahwa otoritas modern (Pemerintah) bekerja harmonis dengan otoritas tradisional (Majelis Desa Adat dan Pengempon Pura). Pendekatan konservasi harus berdasarkan filosofi Bali, bukan hanya konservasi fisik semata.
Peran Revitalisasi Pura Besakih dalam Proses UNESCO
Dalam beberapa tahun terakhir, Pemerintah Provinsi Bali telah meluncurkan program revitalisasi besar-besaran di kawasan Besakih. Revitalisasi ini, yang meliputi penataan area parkir, akses masuk, dan fasilitas pendukung, sangat penting. Meskipun proyek fisik ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan peziarah dan wisatawan, secara strategis, revitalisasi ini juga menunjukkan komitmen serius Pemerintah Indonesia terhadap standar pengelolaan internasional yang diwajibkan oleh UNESCO.
Penataan infrastruktur yang lebih baik, seperti sistem zonasi yang memisahkan aktivitas profan (wisata) dari aktivitas sakral (peribadatan), adalah kunci untuk menjawab tantangan 'Integritas dan Keaslian' yang selalu disoroti oleh Komite Warisan Dunia.
Kolaborasi Stakeholder Kunci
Keberhasilan Upaya Pengusulan Pura Besakih sangat bergantung pada sinergi multisektor yang kuat:
1. Pemerintah Pusat (Kemendikbud dan Kemenparekraf)
Pemerintah Pusat memiliki peran administratif utama dalam mengajukan berkas ke UNESCO di Paris. Kemendikbud bertanggung jawab atas penyusunan dan penerjemahan dokumen, sementara Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) berperan dalam memastikan bahwa rencana pariwisata sejalan dengan prinsip konservasi.
2. Pemerintah Provinsi Bali
Pemerintah Provinsi Bali, di bawah kepemimpinan Gubernur, merupakan motor penggerak di lapangan. Mereka memfasilitasi koordinasi dengan masyarakat adat, menyediakan dana konservasi dan revitalisasi, serta memastikan bahwa regulasi daerah (Perda) mendukung perlindungan situs. Komitmen lokal ini dilihat sebagai indikator kesiapan yang sangat positif oleh UNESCO.
3. Majelis Desa Adat dan Pengempon Pura
Ini adalah stakeholder yang paling kritis. Pura Besakih adalah milik umat, dan nilai sakralnya dijaga oleh para Pengempon. Dukungan penuh dari Majelis Desa Adat (MDA) dan seluruh krama Bali adalah prasyarat mutlak. Berkas nominasi harus mencerminkan bahwa pengelolaan situs sepenuhnya menghormati dan mengintegrasikan hukum adat (Awig-Awig) yang berlaku.
4. Akademisi dan Tim Ahli Konservasi
Tim ahli bertugas melakukan riset mendalam dan menyiapkan data pendukung ilmiah. Dalam kasus Pura Besakih, studi tentang mitigasi bencana Gunung Agung, analisis termal bangunan, serta kajian mendalam tentang kronologi ritual menjadi bagian integral dari berkas nominasi. Keakuratan data ini menentukan kredibilitas usulan di mata ICOMOS (Dewan Internasional Monumen dan Situs), badan penasihat teknis UNESCO.
Tantangan Menuju Pengakuan Warisan Dunia
Meskipun memiliki OUV yang tak terbantahkan, jalan menuju penetapan Warisan Dunia dipenuhi tantangan yang harus diatasi dengan solusi yang cermat dan berkelanjutan.
Tantangan Konservasi: Keaslian dan Integritas
Pura Besakih telah mengalami berbagai proyek pemugaran (restorasi) selama beberapa dekade. Tantangannya adalah membuktikan kepada UNESCO bahwa pemugaran tersebut dilakukan dengan mempertahankan keaslian material dan teknik konstruksi tradisional Bali. Dokumentasi sejarah yang rinci tentang setiap proyek restorasi harus disajikan untuk menunjukkan bahwa integritas (keutuhan) situs tetap terjaga.
Selain itu, tantangan abadi datang dari alam: abu vulkanik dan gempa bumi. Rencana manajemen harus mencakup strategi konservasi proaktif yang dapat memitigasi kerusakan akibat bencana alam tanpa mengubah esensi historis dari struktur pura.
Tantangan Pariwisata dan Komersialisasi
Bali adalah tujuan pariwisata dunia, dan Pura Besakih adalah salah satu daya tarik utama. Tekanan pariwisata yang masif berpotensi mengganggu kesakralan situs dan merusak bangunan fisik. Isu seperti penataan pedagang, sistem pemandu yang tidak terstandarisasi, dan potensi komersialisasi ritual harus dikelola secara ketat.
Solusi yang diterapkan adalah melalui penerapan zonasi ketat—zona suci yang hanya diperuntukkan bagi ritual, zona madya untuk ziarah dan observasi budaya, dan zona nista untuk fasilitas pendukung. Dengan demikian, pengalaman spiritual peziarah tetap terjaga, sementara wisatawan dapat mengagumi keindahan budaya dari area yang ditetapkan.
Tantangan Koordinasi Multisektor
Karena melibatkan dimensi adat, agama, pemerintah provinsi, dan pusat, koordinasi dapat menjadi hambatan. Memastikan bahwa keputusan di tingkat pusat selaras dengan praktik adat di tingkat desa membutuhkan mekanisme komunikasi yang transparan dan inklusif. Pendekatan Ngayah (kerja sukarela berbasis komunitas) yang sering diterapkan dalam pemeliharaan pura harus diakui dan didukung dalam struktur manajemen formal.
Dampak Positif Penetapan Pura Besakih sebagai Warisan Dunia
Jika Pura Besakih berhasil ditetapkan oleh Komite Warisan Dunia, manfaatnya akan berlipat ganda, melampaui sekadar pengakuan global.
1. Penguatan Identitas Budaya dan Kepercayaan Lokal
Penetapan UNESCO akan menjadi validasi internasional terhadap kebenaran dan pentingnya filosofi Hindu Bali dan konsep Tri Hita Karana. Ini akan memperkuat rasa bangga dan tanggung jawab masyarakat lokal, terutama generasi muda, untuk melestarikan warisan leluhur mereka.
2. Peningkatan Dukungan Konservasi dan Pendanaan
Situs Warisan Dunia mendapatkan akses prioritas terhadap dana konservasi internasional, termasuk dari Dana Warisan Dunia (World Heritage Fund) dan organisasi pelestarian global lainnya. Hal ini sangat penting untuk memastikan pemeliharaan jangka panjang bangunan suci yang memerlukan perawatan yang sangat spesifik dan mahal.
3. Manajemen Pariwisata Berkelanjutan
Pengakuan UNESCO akan memaksa implementasi standar manajemen pariwisata yang lebih tinggi. Alih-alih hanya berfokus pada kuantitas kunjungan, penekanan akan beralih ke kualitas pengalaman dan minimisasi dampak negatif. Hal ini akan mendukung pariwisata berbasis budaya dan spiritual, sesuai dengan visi pembangunan Bali yang berkelanjutan.
4. Peningkatan Kapasitas SDM Lokal
Proses pengelolaan situs Warisan Dunia menuntut peningkatan kapasitas sumber daya manusia (SDM) lokal dalam bidang arkeologi, konservasi, dan interpretasi situs. Pelatihan ini akan menciptakan ahli-ahli konservasi baru di Bali yang mampu mengelola warisan budaya mereka sendiri sesuai standar internasional.
Langkah Selanjutnya dan Optimisme
Pengusulan Pura Besakih ke UNESCO adalah cerminan dari komitmen bangsa Indonesia untuk melindungi warisan spiritual dan budaya yang tak ternilai. Saat ini, tim nominasi terus menyempurnakan berkas berdasarkan masukan dari ICOMOS dan Komite Warisan Dunia.
Waktu yang dibutuhkan untuk pengusulan berkas dapat mencapai beberapa tahun, mengingat ketelitian yang dituntut dalam setiap detail. Namun, optimisme tinggi hadir dari fakta bahwa Bali telah membuktikan kemampuannya dalam mengelola Warisan Dunia (Sistem Subak) yang menunjukkan integrasi sempurna antara praktik budaya dan lanskap alam.
Keberhasilan penetapan Pura Besakih akan menempatkan situs suci ini sejajar dengan warisan spiritual terpenting di dunia, menjamin bahwa suara spiritual Gunung Agung akan terus bergema dan menjadi sumber inspirasi bagi umat manusia selama berabad-abad mendatang. Seluruh umat Hindu di Bali, bersama dengan Pemerintah Indonesia, bersatu dalam doa dan upaya untuk mewujudkan mimpi besar ini.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.