Arsitektur Abadi: Menguak Jejak Pengaruh Hindu-Jawa Kuno dalam Kemegahan Pura Penataran Agung

Subrata
22, Januari, 2026, 08:28:00
Arsitektur Abadi: Menguak Jejak Pengaruh Hindu-Jawa Kuno dalam Kemegahan Pura Penataran Agung

Arsitektur, dalam konteks kebudayaan Nusantara, bukanlah sekadar seni membangun, melainkan manifestasi nyata dari kosmologi, filosofi, dan sejarah yang panjang. Di antara sekian banyak warisan budaya yang memukau, Pura Penataran Agung di Bali berdiri sebagai monumen monumental yang merekam jejak transisi peradaban. Lebih dari sekadar tempat ibadah, struktur Pura ini adalah museum hidup yang menyimpan rapat-rapat pengaruh agung dari era Hindu-Jawa Kuno, terutama dari Kerajaan Majapahit, yang menemukan pelabuhan terakhirnya di Pulau Dewata. Untuk memahami kemegahan Pura Penataran Agung, kita harus menyelam jauh ke dalam ‘Arsitektur Awal’ – sebuah periode di mana filosofi Jawa kuno diintegrasikan secara holistik ke dalam lanskap spiritual dan fisik Bali.

Jejak Sejarah: Migrasi dan Integrasi Budaya Hindu-Jawa

Periode akhir kekuasaan Majapahit di Jawa pada abad ke-15 Masehi merupakan titik balik penting yang membentuk wajah arsitektur suci di Bali. Keruntuhan dinasti besar ini tidak berarti hilangnya tradisi; sebaliknya, terjadi migrasi besar-besaran elit politik, pendeta, seniman, dan intelektual ke Bali. Mereka membawa serta kitab suci, tradisi lisan, sistem pemerintahan (dharma dan artha), dan, yang terpenting, cetak biru arsitektur candi yang telah disempurnakan selama berabad-abad di Jawa Timur.

Pura Penataran Agung, sebagai sebuah ‘Pura Kahyangan Jagat’ atau pura umum yang penting, menjadi wadah sempurna bagi sinkretisme budaya ini. Nama ‘Penataran’ sendiri merujuk pada tata letak candi-candi utama kerajaan di Jawa, seperti Candi Penataran di Blitar, yang merupakan pusat spiritual Kerajaan Majapahit. Konsep penataan ruang, orientasi (kawasan atau kiblat), dan hierarki fungsi yang terlihat jelas pada Pura Penataran Agung merupakan replika filosofis dari struktur Parhyangan (tempat suci) Jawa Kuno, di mana tempat persembahan utama selalu berada di lokasi tertinggi atau paling suci.

Pengaruh ini tidak hanya bersifat struktural, tetapi juga kosmologis. Dalam tradisi Hindu-Jawa Kuno, struktur keagamaan harus mencerminkan alam semesta (Bhuwana Agung) dan tubuh manusia (Bhuwana Alit). Prinsip ini dibawa langsung ke Bali dan diwujudkan melalui sistem tata ruang yang dikenal sebagai Tri Mandala, sebuah konsep fundamental yang membedakan pura-pura Bali dari struktur keagamaan lainnya di Asia Tenggara.

Tri Mandala: Blueprint Kosmologi Hindu-Jawa

Tri Mandala, yang secara harfiah berarti ‘Tiga Zona’, adalah inti dari desain arsitektur Pura Penataran Agung. Konsep ini adalah penerjemahan spasial dari filosofi Tri Loka (Tiga Dunia) Hindu-Jawa: Bhurloka (dunia manusia dan setan), Bhuwarloka (dunia perantara), dan Swarloka (dunia dewa-dewa). Setiap zona dalam Pura Penataran Agung didesain untuk merepresentasikan tingkat kesucian yang berbeda, memandu umat dari dunia profan menuju dunia sakral.

1. Nista Mandala (Jaba Pisan): Dunia Luar dan Profan

Nista Mandala adalah zona paling luar, yang melambangkan Bhurloka. Area ini berfungsi sebagai ruang publik dan transisi. Dalam konteks Hindu-Jawa Kuno, area luar candi sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan Bhuta Yajna (upacara penyucian elemen bawah). Di Pura Penataran Agung, Nista Mandala dicirikan oleh elemen-elemen yang menunjukkan koneksi langsung dengan kehidupan sosial dan persiapan upacara.

Elemen arsitektur khas Jawa Kuno yang sangat menonjol di Nista Mandala adalah Candi Bentar. Gerbang pembelah ini, yang menyerupai sebuah candi yang dipotong simetris, adalah warisan murni dari arsitektur Majapahit. Di Jawa, Candi Bentar ditemukan di banyak kompleks candi dan keraton (seperti Trowulan), berfungsi sebagai gerbang tanpa pintu, melambangkan keterbukaan sekaligus batas fisik antara dunia luar dan area kompleks. Di Pura Penataran Agung, Candi Bentar ini berfungsi sebagai pintu masuk utama, menekankan pemisahan yang jelas antara dunia profan dan sakral.

Selain Candi Bentar, Nista Mandala biasanya menampung Bale Kulkul (menara penanda waktu dan bahaya), dan Paon (dapur upacara). Penempatan fungsional ini menunjukkan bahwa, sebagaimana candi-candi di Jawa, Pura adalah pusat komunitas yang kompleks, tidak hanya fokus pada ritual internal, tetapi juga pada manajemen logistik masyarakat.

2. Madya Mandala (Jaba Tengah): Zona Perantara dan Persiapan

Madya Mandala adalah zona tengah, yang melambangkan Bhuwarloka. Ini adalah area perantara, di mana umat mempersiapkan diri secara spiritual dan fisik sebelum memasuki area paling suci. Secara arsitektural, Madya Mandala Pura Penataran Agung memperlihatkan struktur yang lebih terorganisir dan terpusat daripada Nista Mandala.

Di sinilah pengaruh arsitektur Jawa Kuno dalam pengaturan balai-balai pertemuan menjadi kentara. Area ini seringkali diisi dengan Bale Agung (balai pertemuan besar) dan Bale Gong (balai gamelan). Tata letak balai-balai ini mengikuti prinsip simetri dan hierarki yang ketat, mengingatkan pada tata ruang mandala yang digunakan dalam pembangunan kompleks pura dan keraton Majapahit. Balai-balai ini bukan hanya tempat fungsional, melainkan juga panggung di mana seni (seperti tari sakral dan musik gamelan) berperan sebagai bagian integral dari ritual (Upacara Yajna).

Gerbang yang menghubungkan Madya Mandala dengan Utama Mandala adalah Kori Agung atau Paduraksa. Berbeda dengan Candi Bentar yang terbelah, Kori Agung adalah gerbang bertutup yang berbentuk menyerupai rumah atau candi utuh, lengkap dengan atap dan relief yang rumit. Kori Agung adalah simbol yang sangat kuat dari tradisi Jawa Kuno, seringkali dijaga oleh patung-patung penjaga (Dwarapala) dan dihiasi dengan ukiran kala-makara di atas ambang pintu, elemen-elemen yang menjadi ciri khas seni pahat Hindu di Jawa sejak era Singhasari dan Majapahit. Kori Agung di Pura Penataran Agung, dengan kemegahan ukirannya, secara efektif memproklamasikan transisi ke tingkat kesucian tertinggi.

3. Utama Mandala (Jeroan): Inti Kesucian dan Swarloka

Utama Mandala adalah inti suci pura, yang melambangkan Swarloka, tempat bersemayamnya para dewa. Area ini adalah lokasi di mana upacara inti (Dewa Yajna) dilaksanakan. Pengaruh Jawa Kuno dalam Utama Mandala Pura Penataran Agung sangat terlihat dalam pemilihan struktur utama (Pelinggih) dan orientasinya.

Struktur paling penting di sini adalah Padmasana atau Padmasana Agung. Meskipun bentuk Padmasana (takhta batu teratai) adalah khas Bali, filosofi penempatannya mengikuti prinsip arsitektur Jawa Kuno, yaitu mencari lokasi tertinggi dan paling murni (kaja atau Gunung Agung). Padmasana mewakili takhta Acintya (Tuhan Yang Maha Esa dalam manifestasi tunggal-Nya) dan seringkali dirancang menghadap ke arah gunung atau sumber air suci. Di Jawa Kuno, candi utama selalu diletakkan di sumbu imajiner yang menghubungkan dunia manusia dengan kosmos.

Selain Padmasana, Utama Mandala di Pura Penataran Agung dipenuhi dengan berbagai bentuk pelinggih, seperti Meru (struktur beratap tumpang ganjil yang melambangkan Gunung Mahameru, pusat kosmos Hindu) dan Balai Paruman (tempat duduk para dewa secara simbolis). Konsep Meru, meskipun diadaptasi dalam gaya Balinese, berakar pada arsitektur punden berundak dan stupa bertingkat dari Jawa pra-Islam, yang menekankan ketinggian sebagai jalur komunikasi spiritual.

Arsitektur Struktural dan Filosofi Konstruksi Jawa Kuno

Di luar pembagian Tri Mandala, ada beberapa elemen struktural Pura Penataran Agung yang menunjukkan kontinuitas langsung dengan tradisi arsitektur Hindu-Jawa Kuno, terutama yang berkaitan dengan materialitas dan orientasi.

1. Penggunaan Batu Andesit dan Bata Merah

Arsitektur candi di Jawa Timur (Majapahit) didominasi oleh penggunaan batu andesit (untuk ukiran dan struktur dasar) dan bata merah (untuk dinding dan badan candi, seperti terlihat pada Candi Brahu atau Penataran). Ketika tradisi ini berpindah ke Bali, meskipun terjadi penyesuaian dengan material lokal seperti batu paras (tufa) yang lebih lembut dan mudah diukir, tradisi menggunakan material yang bersifat abadi (batu dan bata) untuk struktur penting tetap dipertahankan. Fondasi dan beberapa dinding di Pura Penataran Agung masih menggunakan teknik konstruksi yang kokoh, menekankan durabilitas struktural ala Jawa Kuno yang dirancang untuk bertahan lama sebagai simbol keabadian dharma.

2. Konsep Ukiran dan Hiasan Kala-Makara

Seni pahat adalah jembatan paling visual antara Jawa Kuno dan arsitektur Pura. Relief dan ukiran yang menghiasi gerbang dan struktur Pelinggih di Pura Penataran Agung seringkali menampilkan motif-motif klasik Hindu-Jawa: Kala (Wajah raksasa tanpa rahang bawah yang melambangkan waktu dan kekuatan destruktif, ditempatkan di atas gerbang untuk menolak roh jahat) dan Makara (makhluk air mitologis, sering digambarkan sebagai naga atau gajah laut, melambangkan kesuburan dan asal mula kehidupan).

Di Jawa Kuno, Kala-Makara adalah elemen arsitektur wajib di hampir setiap pintu masuk candi. Di Pura Penataran Agung, meskipun detail pahatannya telah diolah dengan gaya Balinese yang lebih dinamis dan penuh ornamen, fungsi perlindungan dan penempatan Kala-Makara di ambang Kori Agung tetap mengikuti konvensi Jawa Kuno secara persis. Hal ini menunjukkan bahwa para undagi (arsitek tradisional) Bali awal adalah keturunan langsung dari seniman Majapahit yang melarikan diri.

Adaptasi dan Sinkretisme: Transformasi Hindu-Jawa menjadi Hindu-Bali

Meskipun pengaruh Jawa Kuno sangat mendalam, arsitektur Pura Penataran Agung bukanlah salinan pasif. Ia adalah hasil dari sinkretisme yang cerdas, di mana cetak biru Jawa diadaptasi untuk memenuhi lanskap, material, dan kepercayaan lokal Bali yang sudah ada, terutama dalam konteks Pura Kahyangan Jagat (Pura besar yang melayani seluruh komunitas).

1. Perubahan Fungsional Candi Menjadi Pelinggih

Di Jawa Kuno, candi berfungsi sebagai makam (tempat penyimpanan abu jenazah raja atau dewa yang diwujudkan) sekaligus tempat pemujaan. Di Bali, konsep makam raja di candi dihilangkan. Struktur candi Majapahit diubah menjadi Pelinggih (tempat duduk/takhta simbolis) bagi dewa-dewa atau leluhur yang telah disucikan. Meru di Utama Mandala Pura Penataran Agung, misalnya, bukan lagi makam, melainkan manifestasi Gunung Mahameru sebagai pusat spiritual dan takhta bagi dewa tertentu yang distanakan di pura tersebut.

2. Dominasi Ruang Terbuka

Candi-candi di Jawa Kuno cenderung berbentuk monolitik, tertutup, dan padat (misalnya Candi Prambanan atau Candi Singhasari), yang berfokus pada ruang internal untuk arca utama. Sebaliknya, Pura Penataran Agung didominasi oleh ruang terbuka (jeroan atau halaman) di Utama Mandala. Pelinggih-pelinggih utama diletakkan di halaman yang luas. Pergeseran ini mencerminkan kebutuhan ritual Bali yang lebih kolektif dan melibatkan banyak orang, berbeda dengan ritual Jawa yang mungkin lebih fokus pada individu raja atau pendeta. Namun, tata letak balai-balai terbuka yang mengelilingi pusat suci ini (Padmasana) tetap mempertahankan prinsip hierarki sentral ala mandala Jawa.

Sistem Dimensi dan Pengukuran Tradisional (Asta Kosala Kosali)

Pengaruh Majapahit juga terasa kuat dalam sistem pengukuran arsitektur. Meskipun Bali mengembangkan sistem Asta Kosala Kosali (pedoman tata letak dan ukuran bangunan suci), dasar dari sistem ini—yang menggunakan ukuran tubuh manusia (depa, musti, tampak, hasta) sebagai unit pengukuran—berakar pada tradisi arsitektur kuna di Jawa, yang memastikan bahwa bangunan suci berharmoni dengan tubuh kosmik. Ketika Pura Penataran Agung dibangun atau direnovasi, para Undagi (arsitek) menerapkan pengukuran ini untuk memastikan keselarasan spiritual (sekala-niskala) dari setiap elemen, mulai dari lebar Kori Agung hingga tinggi Meru, mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang vastu shastra Hindu.

Orientasi Kosmik: Kiblat Kaja-Kelod

Salah satu aspek paling fundamental dari arsitektur Hindu-Jawa yang diwariskan ke Pura Penataran Agung adalah orientasi kosmik. Di Jawa, candi seringkali menghadap ke gunung berapi (sebagai pusat spiritual atau tempat dewa) atau ke arah matahari terbit. Di Bali, konsep ini diterjemahkan menjadi orientasi Kaja-Kelod (Gunung-Laut).

Pura Penataran Agung selalu diarahkan menuju Kaja—yaitu Gunung Agung, yang dianggap sebagai takhta para dewa (Parahyangan). Orientasi ini mengatur seluruh tata letak Tri Mandala. Utama Mandala (zona paling suci) selalu berada di posisi paling kaja, sementara Nista Mandala (zona profan) berada di posisi paling kelod. Pemeliharaan orientasi yang ketat ini bukan hanya preferensi estetika; ini adalah manifestasi konkret dari kepercayaan Hindu-Jawa bahwa spiritualitas harus mengalir dari sumber tertinggi (gunung) ke arah lautan (tempat peleburan dan pemurnian).

Studi Kasus: Pura Besakih dan Konsolidasi Pengaruh Majapahit

Pura Penataran Agung seringkali dikaitkan dalam kompleks yang lebih besar, atau bahkan secara metaforis, dengan Pura Besakih—yang merupakan 'Ibu' dari segala pura di Bali. Pura Besakih sendiri adalah contoh paling ekstrem dari warisan Hindu-Jawa Kuno. Tata letak teraseringnya (punden berundak), yang mendaki lereng Gunung Agung, adalah struktur arsitektur yang secara harfiah meniru tradisi megalitik kuno dan arsitektur candi Majapahit yang terletak di kaki gunung (seperti Candi Sukuh atau Candi Ceto).

Pura Penataran Agung, meskipun mungkin lebih kecil atau memiliki fungsi lokal yang berbeda dari Besakih, mengadopsi prinsip yang sama: pengakuan akan hierarki kosmik yang diwujudkan melalui tangga dan tingkatan. Setiap langkah yang diambil umat dari Nista ke Utama Mandala di Pura Penataran Agung adalah refleksi fisik dari pendakian spiritual yang diyakini oleh leluhur Hindu-Jawa.

Signifikansi Kontemporer dan Pelestarian Warisan

Struktur Pura Penataran Agung hari ini tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai dokumen sejarah yang tak ternilai. Mempelajari arsitektur Pura ini berarti memahami bagaimana peradaban dapat bermigrasi dan beradaptasi tanpa kehilangan esensi spiritualnya. Pura Penataran Agung adalah bukti fisik dari kelangsungan budaya Majapahit yang bersemi kembali di Bali, menjadikannya unik dalam khazanah arsitektur Asia Tenggara.

Pelestarian Pura Penataran Agung melibatkan upaya ganda: menjaga struktur fisiknya dari kerusakan zaman, serta memastikan bahwa prinsip-prinsip arsitektur Hindu-Jawa Kuno (Tri Mandala, orientasi Kaja-Kelod, penggunaan Asta Kosala Kosali) terus dihormati dalam setiap renovasi. Kegagalan untuk memahami filosofi di balik arsitektur ini akan mengubah Pura menjadi sekadar bangunan, bukan lagi manifestasi kosmik.

Pura Penataran Agung mengajarkan kita bahwa arsitektur suci Hindu di Bali adalah hasil sintesis yang kaya: akulturasi Majapahit yang canggih dengan tradisi lokal Bali yang sudah ada. Setiap batu, setiap ukiran Kala-Makara, setiap langkah tangga di Candi Bentar, menceritakan kisah migrasi, keruntuhan, dan kelahiran kembali sebuah peradaban agung.

Kesimpulan

Arsitektur Pura Penataran Agung adalah perwujudan sempurna dari transfer budaya Hindu-Jawa Kuno. Dari gerbang Candi Bentar yang membelah dunia, Kori Agung yang bertutup, hingga penempatan Meru dan Padmasana yang menghormati arah Kaja, setiap detail memancarkan warisan Majapahit. Struktur Tri Mandala bukan hanya tata ruang, melainkan cetak biru spiritual yang dibawa dari Jawa, dikembangkan, dan disempurnakan di Bali. Bagi para penikmat sejarah dan arsitektur, Pura Penataran Agung menawarkan jendela tak tertandingi ke masa lalu, di mana fondasi spiritualitas Bali modern diletakkan dengan kemegahan dan kearifan arsitektur kuno. Pura ini adalah sumbu kosmik yang abadi, menghubungkan masa kini dengan kejayaan Hindu-Jawa Kuno.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.