Besakih di Bawah Pengaruh Kerajaan Singasari dan Majapahit: Arsitektur, Kosmologi, dan Hegemoni Spiritual
- 1.
Kertanegara dan Filosofi ‘Mandala’
- 2.
Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Penataan Besakih
- 3.
Transformasi Kosmologi: Tri Murti dan Panca Dewata
- 4.
1. Struktur Meru dan Padmasana
- 5.
2. Pembedaan Ruang (Nista, Madya, Utama Mandala)
- 6.
Formalisasi Kasta dan Kedatangan Para Dang Hyang
- 7.
Narrasi Sejarah dan Legitimasi Politik
Table of Contents
Besakih di Bawah Pengaruh Kerajaan Singasari dan Majapahit: Arsitektur, Kosmologi, dan Hegemoni Spiritual
Pura Agung Besakih, yang tersohor sebagai 'Ibu dari Segala Pura' (Mother Temple) di Bali, bukan sekadar gugusan bangunan suci; ia adalah sebuah narasi epik yang terukir dalam batu dan tradisi. Bersemayam anggun di lereng suci Gunung Agung, Besakih merupakan cermin abadi dari sinkretisme budaya, percampuran harmonis antara kepercayaan lokal Bali pra-Hindu dan gelombang masif pengaruh Hindu-Buddha yang dibawa oleh kerajaan-kerajaan besar dari Jawa Timur: Kerajaan Singasari dan, yang paling dominan, Kerajaan Majapahit. Memahami sejarah Pura Besakih berarti menyelami sebuah periode krusial di mana hegemoni politik Jawa membentuk ulang kosmologi dan arsitektur spiritual Pulau Dewata.
Artikel mendalam ini akan mengupas tuntas bagaimana Besakih, yang awalnya merupakan tempat pemujaan roh leluhur dan dewa gunung, bertransformasi menjadi pusat spiritual Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) yang terstruktur dan terpusat di bawah bayang-bayang kekuasaan Jenggala, Singasari, dan puncak kejayaan Kerajaan Majapahit. Kami akan menganalisis jejak-jejak arsitektur, filosofi keagamaan, serta struktur sosial yang ditanamkan oleh kedua kerajaan adidaya tersebut, menjadikan Besakih sebagai monumen hidup dari sebuah konektivitas sejarah yang tak terputus.
I. Besakih Sebelum Intervensi Jawa: Akar Lokal dan Dinasti Warmadewa
Jauh sebelum Singasari mengalihkan pandangannya ke timur, Besakih telah dihormati sebagai kawasan suci. Lokasinya yang strategis di kaki Gunung Agung—sebuah gunung berapi aktif yang dipandang sebagai ’palinggih’ (tempat bersemayam) para dewa—menegaskan statusnya sebagai Parahyangan Jagat, atau tempat suci alam semesta. Bukti-bukti epigrafi awal menunjuk pada keberadaan Pura Besakih setidaknya sejak abad ke-10, terkait erat dengan Dinasti Warmadewa yang berkuasa di Bali kuno.
Pada masa ini, arsitektur Besakih cenderung sederhana, fokus pada pemujaan leluhur dan elemen alam. Struktur suci utama berupa teras-teras batu berundak (mirip dengan punden berundak) mencerminkan tradisi prasejarah Austronesia yang meyakini bahwa tempat tertinggi adalah yang paling dekat dengan dewa. Namun, kontak dengan Jawa telah terjadi bahkan sebelum era Singasari, terutama melalui hubungan perkawinan politik, seperti yang dialami oleh Raja Udayana Warmadewa yang menikahi Putri Mahendradatta dari Jawa Timur.
Meskipun demikian, pada fase awal ini, pengaruh Jawa belum bersifat struktural atau hegemoni politik. Besakih masih melayani kepentingan lokal, menjadi pusat persembahan bagi subak (sistem irigasi) dan upacara kesuburan. Perubahan fundamental baru terjadi ketika ambisi ekspansionis Jawa mulai menyentuh pulau Bali secara militer dan spiritual.
II. Ekspansi Singasari: Peletak Dasar Hegemoni Jawa
Titik balik penting dalam sejarah Besakih dimulai pada akhir abad ke-13, di bawah kepemimpinan Raja Kertanegara dari Singasari (berkuasa 1268–1292). Kertanegara, dengan ambisi penyatuan Nusantara, melancarkan ekspedisi militer yang terkenal, termasuk upaya untuk menguasai Bali. Meskipun ekspansi ini terhenti oleh serangan Jayakatwang, dampaknya terhadap Besakih dan struktur agama Bali sangat signifikan.
Kertanegara dan Filosofi ‘Mandala’
Kertanegara dikenal sebagai seorang raja yang sangat mementingkan aspek spiritual dan sinkretisme Siwa-Buddha. Ketika Singasari mulai menancapkan pengaruhnya, konsep tata ruang suci di Besakih mulai beradaptasi. Konsep Mandala, pola kosmologis yang kompleks yang menjadi ciri khas arsitektur Jawa Hindu-Buddha, mulai diterapkan. Besakih, sebagai pusat spiritual, harus mencerminkan struktur kosmik kerajaan yang lebih besar.
Pengaruh Singasari juga tercermin dalam penguatan narasi dewa-dewi Hindu yang terstruktur. Meskipun Besakih tetap menghormati dewa gunung, penekanan mulai bergeser pada Dewa Siwa sebagai dewa tertinggi, sebuah konsep yang dominan di Jawa Timur saat itu. Singasari meletakkan fondasi bagi penafsiran yang lebih elitis dan terpusat terhadap spiritualitas yang kemudian disempurnakan oleh Majapahit.
Periode ini juga ditandai dengan kedatangan para cendekiawan dan pendeta dari Jawa yang mulai memperkenalkan teks-teks keagamaan dan sistem kasta (Catur Wangsa) yang lebih terstruktur ke dalam masyarakat Bali. Proses akulturasi ini, meskipun mungkin ditolak di beberapa wilayah, diterima di pusat-pusat kekuasaan spiritual seperti Besakih karena adanya dukungan politik dari penguasa yang tunduk pada Singasari.
III. Puncak Pengaruh: Era Keemasan Majapahit (Abad ke-14 hingga ke-15)
Jika Singasari meletakkan fondasi, Majapahit—di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dan Mahapatih Gajah Mada—adalah arsitek yang menyelesaikan pembangunan spiritual dan fisik Besakih menjadi bentuk yang kita kenal sekarang. Invasi total Gajah Mada ke Bali pada tahun 1343, yang menundukkan Raja Bedahulu, bukan hanya merupakan kemenangan militer; ia adalah transfer budaya dan spiritual berskala besar.
Gajah Mada, Hayam Wuruk, dan Penataan Besakih
Setelah penaklukan Bali, Majapahit menerapkan kebijakan yang sangat cerdas: membiarkan tradisi lokal bertahan sambil menyuntikkan elemen-elemen keagamaan yang mendukung legitimasi kekuasaan Jawa. Besakih, yang sudah diakui sebagai pusat spiritual, menjadi sasaran utama dari penataan ulang ini.
Dokumen sejarah utama, Nagarakretagama (ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1365), mengonfirmasi pentingnya Besakih bagi Majapahit. Di dalamnya diceritakan mengenai kunjungan Raja Hayam Wuruk ke Besakih sebagai bagian dari perjalanan spiritual (Dharma Yatra). Kunjungan ini menggarisbawahi dua hal: pertama, Majapahit mengakui dan menghormati kesucian Besakih; kedua, pengakuan ini secara efektif menempatkan Besakih di bawah otoritas dan perlindungan spiritual Majapahit.
Di bawah kendali Majapahit, Besakih diorganisir ulang secara signifikan. Area pura diperluas, dan struktur yang lebih permanen mulai dibangun. Tujuan utamanya adalah menjadikan Besakih sebagai Pura Pusat (Pura Kawitan) bagi semua wangsa (kasta) yang terkait dengan trah Majapahit, yang mulai berakar di Bali.
Transformasi Kosmologi: Tri Murti dan Panca Dewata
Pengaruh paling mendalam dari Majapahit adalah formalisasi kosmologi Hindu Bali. Meskipun konsep Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) sudah dikenal, Majapahit yang memperkuat dan memetakan pemujaan ini secara fisik di Besakih. Pura Penataran Agung, kompleks utama di Besakih, disusun untuk memuja Siwa dalam manifestasinya sebagai Ista Dewata.
- Pura Kiduling Kreteg: Didedikasikan untuk Dewa Brahma (Simbol Merah/Api), berlokasi di selatan.
- Pura Batumadeg: Didedikasikan untuk Dewa Wisnu (Simbol Hitam/Air), berlokasi di utara.
Pembagian ini bukan kebetulan; ia mencerminkan filosofi tata ruang Majapahit yang menitikberatkan pada keseimbangan kosmik berdasarkan mata angin (Nawa Sanga). Penataan ini memastikan bahwa Besakih tidak hanya memuja gunung lokal, tetapi juga berfungsi sebagai representasi mikrokosmos dari alam semesta Hindu Jawa.
Majapahit juga memperkenalkan konsep Panca Dewata (Lima Dewa utama) yang berpusat pada Siwa sebagai Sang Hyang Widhi Wasa, dikelilingi oleh empat dewa penjuru mata angin. Besakih menjadi tempat sentral untuk ritual Eka Dasa Rudra, sebuah upacara besar yang bertujuan menyeimbangkan alam semesta, yang hanya bisa dilakukan di bawah otoritas spiritual yang kuat—otoritas yang disalurkan melalui elite Jawa.
IV. Jejak Arsitektur Hindu-Jawa di Pura Besakih
Arsitektur adalah saksi bisu yang paling kentara dari pengaruh Singasari dan Majapahit. Meskipun arsitektur Besakih mempertahankan elemen khas Bali (seperti gerbang terbelah/candi bentar dan penggunaan batu alam), penambahan elemen-elemen kunci dari Jawa mengubah skala dan filosofi bangunan suci.
1. Struktur Meru dan Padmasana
Dua struktur arsitektur yang paling mencolok dan jelas dipengaruhi oleh Jawa adalah Meru dan Padmasana (atau Padmatiga).
Meru: Manifestasi Gunung Mahameru
Meru, bangunan pura dengan atap bersusun (bertingkat ganjil, biasanya 3, 5, 7, 9, atau 11), adalah tiruan dari Gunung Mahameru, pusat kosmik dalam mitologi Hindu. Konsep Meru dikembangkan secara intensif di Jawa, khususnya selama era Majapahit, sebagai simbol tempat bersemayam dewa-dewa. Di Besakih, kehadiran Meru dengan tingkatan yang tinggi, mencerminkan hierarki dewa yang diimpor dari Jawa. Meru berfungsi sebagai linggih (tempat duduk) dewa atau manifestasi Siwa, menempatkan dewa-dewa tersebut pada ketinggian spiritual dan fisik di atas pemujaan lokal.
Padmasana: Tahta Kosmik
Padmasana adalah bangunan suci berbentuk takhta batu yang sangat tinggi, biasanya menghadap Gunung Agung. Ini adalah inovasi arsitektur Hindu Jawa yang paling penting. Padmasana diciptakan sebagai tempat duduk Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) dalam manifestasi-Nya yang universal dan tunggal, sebuah konsep yang dipromosikan oleh Majapahit untuk menyatukan berbagai sekte dan kepercayaan lokal di bawah satu payung teologis.
Padmasana di Besakih adalah inti pemujaan. Tahta lotus ini secara eksplisit mengacu pada konsepsi dewa yang tunggal dan transenden, berbeda dengan pemujaan roh leluhur yang lebih bersifat lokalistik. Melalui Padmasana, Majapahit secara halus mengintegrasikan teologi tinggi Jawa ke dalam struktur spiritual Bali.
2. Pembedaan Ruang (Nista, Madya, Utama Mandala)
Pembagian kompleks pura menjadi tiga zona utama—Nista Mandala (terluar), Madya Mandala (tengah), dan Utama Mandala (inti)—merupakan standardisasi yang diperkuat selama periode Majapahit. Struktur tiga zona ini, yang juga diterapkan pada tata kota (seperti struktur kota Majapahit sendiri), mencerminkan hierarki spiritual: dari dunia profan, ke dunia transisi, hingga dunia dewa.
Di Besakih, Utama Mandala, yang menampung Meru dan Padmasana, adalah zona yang paling murni dan paling mirip dengan arsitektur candi Jawa, di mana persembahan tertinggi dilakukan. Struktur ini membantu Majapahit dalam mengorganisir ribuan pura di Bali, memastikan bahwa Besakih berfungsi sebagai induk yang mengatur tata laksana ritual di seluruh pulau, sebuah sistem yang sangat efektif untuk kontrol sosial dan keagamaan.
V. Dampak Sosial dan Keagamaan: Kedatangan Brahmana dan Babad Bali
Pengaruh Singasari dan Majapahit terhadap Besakih tidak terbatas pada batu dan atap semata; ia merembet jauh ke dalam struktur sosial dan narasi sejarah Bali.
Formalisasi Kasta dan Kedatangan Para Dang Hyang
Penaklukan Majapahit diikuti oleh migrasi massal kaum elite, termasuk bangsawan (Wesia dan Ksatria) dan, yang paling penting bagi agama, para Brahmana. Kedatangan para Brahmana, yang kemudian dikenal sebagai Dang Hyang (atau Pedanda), adalah game-changer. Mereka membawa serta kitab-kitab suci, mantra, dan sistem ritual Hindu yang jauh lebih canggih daripada praktik lokal saat itu. Mereka adalah pelaksana ritual di Besakih, yang kemudian mengukuhkan status pura tersebut sebagai pusat ritual Hindu-Bali resmi.
Meskipun figur Dang Hyang Nirartha (Pendeta suci yang dianggap menyempurnakan teologi Hindu Bali) tiba setelah keruntuhan Majapahit, fondasi spiritual dan sosial yang memungkinkannya diterima secara luas telah diletakkan oleh arus migrasi elite Majapahit abad ke-14 dan ke-15. Besakih menjadi tempat di mana sistem Catur Wangsa (Empat Kasta) diresmikan, dengan para Brahmana menduduki puncak hierarki spiritual, mengikat masyarakat Bali pada sistem yang dibawa dari Jawa.
Narrasi Sejarah dan Legitimasi Politik
Setelah keruntuhan Majapahit (sekitar abad ke-15), banyak bangsawan dan pendeta Jawa melarikan diri ke Bali, membawa serta pusaka dan legitimasi kerajaan mereka. Mereka mendirikan kerajaan-kerajaan baru (seperti Kerajaan Gelgel dan kemudian Klungkung) yang mengklaim diri sebagai penerus sah tradisi Majapahit. Besakih, sebagai pura induk, memainkan peran kunci dalam legitimasi ini.
Dalam Babad Bali (kronik sejarah Bali), Besakih selalu disebutkan sebagai pusat spiritual yang dijaga oleh trah Majapahit. Ritual-ritual di Besakih berfungsi sebagai penguat klaim kekuasaan raja-raja Bali baru yang mengklaim keturunan Majapahit. Dengan mengendalikan Besakih, raja-raja Bali (yang merupakan keturunan Jawa) memastikan bahwa spiritualitas di Pulau Dewata berputar di sekitar pusat yang mereka kontrol, mencerminkan hegemoni politik masa lalu Majapahit.
VI. Sinkretisme Abadi: Besakih Sebagai Laboratorium Budaya
Penting untuk dicatat bahwa pengaruh Singasari dan Majapahit bukanlah penghapusan budaya Bali, melainkan sebuah proses sinkretisme yang mendalam. Para pendatang dari Jawa cukup bijak untuk tidak menghancurkan tradisi lokal; sebaliknya, mereka mengintegrasikannya.
Besakih adalah contoh sempurna dari akulturasi ini:
- Pemujaan Lokal Tetap Ada: Meskipun Padmasana dan Meru berdiri tegak untuk memuja dewa Hindu Jawa, tempat pemujaan roh leluhur dan dewa gunung tidak pernah dihilangkan. Sebaliknya, mereka diberi tempat dalam tata ruang baru yang lebih besar.
- Bahasa Keagamaan: Bahasa Kawi (Jawa Kuno), bahasa istana Majapahit, diadopsi sebagai bahasa suci dalam ritual, namun disandingkan dengan bahasa Bali untuk instruksi dan pemujaan sehari-hari.
- Seni dan Ukiran: Ukiran di Besakih menggabungkan motif-motif Jawa (seperti makhluk mitologi dari epos Ramayana dan Mahabharata) dengan motif-motif lokal Bali yang bersifat naturalistik dan magis.
Proses integrasi ini memastikan bahwa Besakih menjadi entitas yang unik: bukan Pura Bali murni, dan juga bukan replika Candi Jawa, melainkan sebuah sintesis yang dikenal sebagai Hindu Dharma Bali atau Hindu Bali yang khas. Ini adalah warisan terkuat dari Majapahit—mereka memberikan kerangka kerja teologis yang masif, yang kemudian diisi dan dihidupkan oleh spirit lokal Bali.
VII. Besakih di Masa Kini: Monumen Hegemoni dan Ketahanan
Hingga hari ini, Besakih berfungsi sebagai pusat ritual bagi seluruh umat Hindu Bali. Upacara agung seperti Panca Walikrama dan Eka Dasa Rudra (yang hanya diadakan setiap 100 tahun) memperkuat statusnya sebagai Pura Jagat yang diwariskan dari era Majapahit.
Peninggalan Majapahit di Besakih bukan sekadar memori sejarah; itu adalah cetak biru yang mengatur kehidupan spiritual Bali. Struktur arsitektur yang simetris, hierarki dewa yang terorganisir, dan sistem ritual yang kompleks, semuanya berakar pada abad ke-14, ketika Hayam Wuruk dan Gajah Mada memutuskan bahwa spiritualitas Bali harus menjadi perpanjangan dari kejayaan Majapahit.
Pura Agung Besakih berdiri sebagai pengingat yang kuat bahwa agama dan spiritualitas seringkali tak terpisahkan dari politik dan kekuasaan. Dari bentukan teras-teras batu kuno, melalui invasi Singasari yang ambisius, hingga penataan ulang yang sistematis oleh Majapahit, Besakih telah menyerap setiap lapisan sejarah, menjadikannya bukan hanya tempat suci, tetapi juga museum terbuka yang menceritakan kisah penyatuan dan transformasi spiritual Nusantara.
Dengan memahami betapa Singasari dan Majapahit memengaruhi arsitektur dan teologi Besakih, kita dapat menghargai kedalaman warisan budaya Bali yang sejati—sebuah pulau yang berhasil mengambil alih kekuatan hegemoni eksternal dan melahirkannya kembali dalam wujud spiritual yang unik dan abadi.
***
(Catatan Editor: Kajian mendalam mengenai Besakih memerlukan referensi terhadap sumber primer seperti Prasasti Besakih, Nagarakretagama, dan Babad Bali, yang seluruhnya menguatkan argumentasi mengenai sentralitas Singasari dan Majapahit dalam pembentukan tata laksana spiritual Besakih dan struktur sosial Bali pasca-1343.)
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.