Jejak Prasejarah: Indikasi Situs Pemujaan Megalitik Pra-Hindu di Besakih, Saksi Bisu Awal Peradaban Bali

Subrata
16, Januari, 2026, 08:45:00
Jejak Prasejarah: Indikasi Situs Pemujaan Megalitik Pra-Hindu di Besakih, Saksi Bisu Awal Peradaban Bali

Besakih, yang terletak megah di lereng Gunung Agung, seringkali dikenal sebagai Pura Kahyangan Jagat atau 'Pura Ibu' bagi umat Hindu di Bali. Kompleks pura yang masif ini adalah pusat spiritual yang tak tertandingi, melambangkan semesta dan tempat persemayaman para dewa. Namun, bagi para arkeolog dan sejarawan budaya, Besakih menyimpan lapisan sejarah yang jauh lebih tua daripada kedatangan pengaruh India atau pembentukan sistem Hindu Dharma yang kita kenal saat ini. Di balik keindahan arsitektur Padmasana dan pelinggih-pelinggih yang dihiasi ukiran rumit, tersembunyi Jejak Prasejarah yang menunjukkan bahwa lokasi Besakih telah menjadi situs sakral dan pusat pemujaan, jauh sebelum nyanyian mantra Veda bergema di sana. Indikasi kuat menunjukkan adanya Situs Pemujaan Megalitik Pra-Hindu di Lokasi Besakih.

Memahami Fondasi Spiritual Kuno: Besakih dan Orientasi Kosmologis

Untuk memahami klaim bahwa Besakih memiliki akar Megalitik, kita harus terlebih dahulu memahami orientasi spasial dan kosmologisnya. Besakih tidak dibangun secara acak. Ia menempati posisi strategis yang sangat sakral, yakni berada di lereng barat daya Gunung Agung, gunung tertinggi di Bali yang dianggap sebagai Pusat Semesta (Mahameru) dalam kosmologi lokal. Lokasi ini dikenal sebagai tempat bertemunya elemen kaja (arah gunung, suci) dan kelod (arah laut, profan) dalam tatanan yang harmonis. Pemilihan lokasi yang ekstrem ini, di ketinggian ribuan meter di atas permukaan laut, sangat selaras dengan tradisi pemujaan leluhur kuno yang berkembang selama era Neolitikum hingga awal Zaman Perunggu di Nusantara.

Dalam periode Pra-Hindu, masyarakat kuno di Asia Tenggara, termasuk Bali, mempraktikkan Pemujaan Roh Leluhur. Roh-roh leluhur diyakini bersemayam di tempat yang lebih tinggi, dekat dengan langit, yaitu di puncak-puncak gunung. Maka, lokasi di lereng Gunung Agung secara alami sudah dianggap sebagai gerbang menuju alam roh. Pembangunan struktur di lokasi ini, bahkan yang paling sederhana sekalipun, berfungsi sebagai medium penghubung antara dunia manusia dan dunia roh. Ini adalah esensi dari pemujaan Megalitik, sebuah tradisi yang ditandai dengan pendirian batu-batu besar (mega=besar, lithos=batu) untuk keperluan ritual dan memorial.

Ketika kita membahas Situs Megalitik Besakih, fokus utama bukan hanya pada keberadaan batu besar secara harfiah, melainkan pada arsitektur dan tata letak kompleksnya. Struktur fisik Pura Penataran Agung Besakih, pura utama dalam kompleks tersebut, merupakan bukti arkeologis yang paling mencolok mengenai kesinambungan budaya Pra-Hindu. Pura ini dibangun dalam pola terasering yang menanjak. Terasering ini, yang secara lokal dikenal sebagai punden berundak, adalah ciri khas utama arsitektur pemujaan di Asia Tenggara sebelum masuknya Hindu-Buddha. Punden berundak berfungsi ganda: secara fisik, ia meniru bentuk gunung sebagai tempat suci, dan secara spiritual, ia melambangkan tingkatan spiritualitas yang harus dilalui oleh pemuja untuk mendekati puncak atau roh leluhur.

Punden Berundak: Bukti Tak Terbantahkan Budaya Megalitik

Konsep Punden Berundak adalah fondasi dari argumentasi keberadaan Jejak Prasejarah di Besakih. Dalam konteks Megalitik, Punden Berundak di Besakih tidak hanya sekadar tangga atau landasan, melainkan struktur sakral yang dibangun dengan usaha komunal yang besar, menunjukkan tingginya tingkat penghormatan terhadap roh leluhur yang bersemayam di gunung. Pura Penataran Agung Besakih, dengan anak tangga dan halaman-halaman yang bertingkat, merupakan manifestasi sempurna dari tradisi ini.

Setiap tingkatan dalam punden berundak tersebut melambangkan tahapan alam semesta atau alam roh. Semakin tinggi letak suatu tempat suci, semakin dekat ia dengan puncak sakral Gunung Agung, dan semakin murni pula pemujaan yang dilakukan. Praktik arsitektur semacam ini sudah ada di Jawa (seperti yang terlihat pada situs-situs Megalitik di Gunung Padang dan Sukawana) dan di berbagai tempat lain di Nusantara jauh sebelum abad ke-8 Masehi. Kehadiran pola ini di pusat spiritual Bali menunjukkan resistensi dan keberlanjutan tradisi lokal yang luar biasa kuat.

Struktur Punden Berundak di Besakih ini tidak hanya sekadar desain, tetapi juga mengandung elemen-elemen batu yang diyakini merupakan artefak asli dari periode Megalitik. Meskipun banyak struktur telah dirombak dan dihiasi sesuai dengan kaidah Hindu Bali pasca-Majapahit, beberapa elemen batu kuno, seringkali berupa batu yang tidak diolah atau hanya dipahat minimalis, tetap dipertahankan posisinya. Batu-batu ini berfungsi sebagai menhir (batu tegak) atau fondasi bagi pelinggih-pelinggih yang lebih modern. Dalam tradisi Megalitik, Menhir adalah media utama untuk memanggil dan mengikat roh leluhur. Ketika Hindu Dharma masuk, batu-batu ini tidak dibuang, melainkan diintegrasikan, mungkin diubah menjadi Lingga atau Yoni simbolis, atau dijadikan tempat berdirinya arca dewa, sebuah proses yang disebut sinkretisme atau akulturasi.

Indikasi Artefaktual: Batu-Batu Kuno dan Simbol Non-Hindu

Selain struktur keseluruhan, para peneliti juga menyoroti keberadaan beberapa artefak spesifik di dalam kompleks Besakih yang memiliki karakteristik Pra-Hindu. Beberapa di antaranya meliputi:

1. Pelinggih Dasar yang Berbentuk Sederhana

Di beberapa sudut kompleks Besakih, terutama di bagian-bagian yang dianggap paling tua atau yang paling jarang disentuh renovasi besar, terdapat pelinggih-pelinggih yang sangat sederhana, hanya berupa batu datar atau batu tegak yang ditopang, tanpa ornamen Hindu yang rumit. Batu-batu ini diyakini merupakan perwujudan langsung dari praktik pemujaan batu atau roh leluhur dari era Jejak Prasejarah. Bentuknya yang minimalis dan bahan bakunya yang merupakan batu vulkanik lokal menunjukkan asal-usul yang lebih tua dari pahatan-pahatan batu andesit yang datang belakangan.

2. Pengaruh Dolmen dan Kubur Batu

Meskipun tidak ditemukan Dolmen (meja batu) yang utuh sebagai makam di dalam area ritual utama Besakih, konsep penempatan sesaji di atas batu datar yang dianggap suci masih tercermin dalam praktik ritual modern. Dalam tradisi Megalitik, Dolmen sering digunakan untuk meletakkan sesaji bagi roh leluhur. Di Besakih, meskipun fungsinya telah disesuaikan dengan upacara Hindu, gagasan bahwa 'batu adalah tempat persembahan' tetap dipertahankan. Beberapa peneliti bahkan berpendapat bahwa dasar dari Candi Bentar (gapura terbelah) yang khas Bali juga memiliki akar dari pembukaan batu tegak yang melambangkan gerbang menuju alam suci.

3. Orientasi Arkeo-Astronomi

Salah satu aspek penting dari situs Megalitik adalah orientasinya terhadap fenomena alam, khususnya pergerakan matahari, bulan, atau bintang tertentu. Besakih memiliki orientasi utama yang jelas, menghadap ke barat daya, namun keseluruhan kompleksnya seolah-olah ‘menyambut’ matahari terbit dari atas puncak Gunung Agung. Orientasi ini bukan semata-mata estetika, melainkan merupakan penanda waktu ritual yang penting bagi masyarakat agraris Megalitik. Pemujaan terhadap sumber kehidupan, yang dilambangkan oleh matahari yang muncul dari gunung, adalah praktik kuno yang sangat relevan dengan pola pikir Pemujaan Megalitik Pra-Hindu.

Megalitik: Jembatan Menuju Hindu Bali Modern

Kehadiran Situs Pemujaan Megalitik Besakih tidak berarti bahwa Pura Besakih adalah peninggalan non-Hindu; sebaliknya, hal ini menunjukkan proses akulturasi yang mendalam dan unik di Bali. Ketika para pendeta Hindu dari Jawa atau India tiba, mereka tidak perlu menghancurkan situs yang sudah ada. Masyarakat lokal sudah memiliki sistem pemujaan yang kuat, fokus pada gunung dan leluhur. Para pemuka agama Hindu dengan cerdas mengintegrasikan ajaran baru mereka ke dalam struktur spiritual yang sudah mapan.

Proses integrasi ini terlihat jelas:

  • Roh Leluhur Menjadi Dewa: Pemujaan roh leluhur yang tadinya diwakili oleh batu polos dialihkan menjadi pemujaan terhadap Dewa Siwa, atau manifestasi Dewa Trimurti (Brahma, Wisnu, Siwa), yang diyakini bersemayam di puncak Agung. Transformasi ini memudahkan transisi keyakinan tanpa mengorbankan kesakralan lokasi.
  • Punden Berundak Menjadi Mandala: Struktur Punden Berundak yang asli diubah dan diperluas sesuai dengan konsep mandala Hindu, menciptakan tata ruang yang lebih kompleks namun tetap mempertahankan garis vertikalitas yang melambangkan tangga menuju surga.
  • Simbolisme Lingga-Yoni: Batu-batu tegak (Menhir) kuno, yang melambangkan maskulinitas dan kekuatan roh, diinterpretasikan ulang sebagai Lingga (simbol Siwa), sementara batu datar (Dolmen) diinterpretasikan sebagai Yoni. Dengan demikian, tradisi lokal diberikan makna Hindu yang universal.

Akulturasi ini sangat penting karena menjelaskan mengapa Hindu Bali (dikenal sebagai Hindu Dharma) begitu berbeda dengan Hindu di India atau di tempat lain. Hindu Bali sangat dipengaruhi oleh tradisi lokal Bali Aga, yang merupakan pewaris langsung dari budaya Megalitik Pra-Hindu. Kepatuhan terhadap adat (tradisi leluhur) seringkali setara, atau bahkan melebihi, kepatuhan terhadap teks-teks dharma.

Analisis Komparatif: Besakih dalam Konteks Megalitik Nusantara

Untuk memperkuat argumen tentang Jejak Prasejarah Besakih, perlu dilakukan perbandingan dengan situs-situs Megalitik lain di Nusantara. Hampir setiap pusat keagamaan kuno di Indonesia dibangun di atas fondasi Megalitik atau Neolitik, dari Borobudur (Jawa Tengah) hingga situs Bada (Sulawesi Tengah).

Di Jawa, situs-situs seperti Candi Sukuh atau Candi Ceto (yang dibangun di lereng gunung) jelas menunjukkan pengadopsian gaya Punden Berundak dan penggambaran relief yang cenderung lokal dan kurang dipengaruhi India. Besakih berada dalam lini sejarah yang sama. Lokasi Besakih, sebagai situs pemujaan pegunungan (kegunungagungan), berbagi DNA spiritual dengan situs-situs di Dieng atau Gunung Penanggungan. Hal ini menunjukkan adanya praktik keagamaan pra-nasional yang seragam, di mana gunung adalah fokus utama spiritual.

Tradisi Megalitik seringkali mencakup pendirian tugu untuk menghormati orang yang dihormati atau pemimpin yang telah meninggal. Meskipun Besakih kini didominasi oleh Pura yang didedikasikan kepada dewa, akar pemujaan terhadap leluhur (khususnya leluhur raja-raja yang berkuasa di Bali) tidak pernah hilang. Pura Besakih juga berfungsi sebagai pura dinasti kerajaan, tempat para leluhur bangsawan dihormati. Ini merupakan perpanjangan langsung dari pemujaan leluhur Megalitik: roh yang kuat membantu komunitas yang hidup.

Penggunaan batu sebagai bahan utama juga menjadi kunci. Dalam banyak kasus Megalitik, batu diyakini memiliki kekuatan magis atau *taksu*. Batu yang dipilih dan ditegakkan dalam upacara khusus menjadi benda sakral. Di Besakih, banyak pelinggih yang masih mengandalkan bahan batu lokal yang minimalis sebagai inti spiritualnya. Bahkan ketika pelinggih tersebut direnovasi dengan bahan bata atau kayu, inti batu kuno di dalamnya seringkali tetap dipertahankan, sebagai pengakuan atas asal usulnya yang sakral dan Pra-Hindu.

Aspek Kontinuitas Budaya dan Nilai Pelestarian

Mengetahui bahwa Besakih berdiri di atas fondasi Megalitik memberikan wawasan mendalam tentang kontinuitas budaya Bali. Hal ini menunjukkan bahwa spiritualitas Bali bukanlah produk impor yang diserap mentah-mentah, melainkan hasil sintesis yang cerdas dan berakar pada tradisi leluhur selama ribuan tahun. Bali berhasil menjaga identitas spiritualnya melalui akomodasi, bukan asimilasi total.

Jejak Prasejarah di Besakih ini tidak hanya penting bagi arkeologi, tetapi juga bagi pelestarian kearifan lokal. Ketika kita melihat kompleks Besakih, kita tidak hanya melihat abad ke-16 atau era Majapahit, tetapi kita melihat kembali ke masa Neolitikum, ketika manusia pertama kali mulai membangun tempat pemujaan permanen di Pulau Dewata. Penghormatan terhadap struktur Punden Berundak, orientasi ke arah Gunung Agung, dan pemujaan terhadap batu-batu kuno yang masih tersisa adalah cara Bali menghormati warisan spiritual leluhur yang tak ternilai harganya.

Studi lebih lanjut mengenai Situs Pemujaan Megalitik Pra-Hindu di Lokasi Besakih sangat diperlukan. Penelitian arkeologis yang teliti, terutama di bawah lapisan-lapisan Pura Penataran Agung yang paling tua, dapat mengungkap lebih banyak artefak dan struktur yang mendukung hipotesis ini. Penggalian dan analisis stratigrafi dapat menentukan usia pasti dari fondasi terasering tersebut, membandingkannya dengan temuan-temuan Megalitik di Bali lainnya, seperti yang ada di Trunyan atau situs-situs di Karangasem.

Penting untuk dicatat bahwa kesakralan Besakih tidak pernah berkurang, melainkan bertambah kuat karena kedalaman historisnya. Pemahaman bahwa leluhur kuno telah memilih lokasi ini karena kekuatan spiritual yang melekat pada Gunung Agung memberikan legitimasi yang lebih besar terhadap status Besakih sebagai Pura Kahyangan Jagat. Ini adalah narasi tentang bagaimana Bali telah secara konsisten memelihara garis keturunan spiritualnya, dari pemujaan roh yang diwakili oleh batu hingga pencerahan melalui ajaran Hindu.

Tantangan dan Masa Depan Penelitian Arkeologi di Besakih

Meskipun indikasi adanya situs Megalitik sangat kuat, penelitian arkeologi di Besakih menghadapi tantangan besar. Besakih adalah situs ibadah yang sangat aktif. Setiap upaya penggalian atau analisis mendalam harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak mengganggu ritual keagamaan atau merusak struktur yang dianggap suci oleh umat Hindu. Oleh karena itu, penelitian seringkali harus berupa analisis non-invasif, seperti pemetaan geofisika atau analisis komparatif arsitektur.

Tantangan lain adalah penafsiran kembali artefak. Seiring berjalannya waktu dan masuknya berbagai pengaruh, banyak artefak yang tadinya Megalitik (misalnya, batu berukir sederhana) telah diinterpretasikan ulang sebagai simbol Hindu (seperti Lingga atau Padmasana). Memisahkan lapisan interpretasi budaya ini membutuhkan kolaborasi erat antara arkeolog, sejarawan, dan pemangku adat setempat.

Namun, harapan untuk mengungkap lebih banyak tentang Situs Megalitik Pra-Hindu di Besakih tetap tinggi. Setiap kali terjadi renovasi atau perbaikan struktural, ada peluang kecil bagi para arkeolog untuk mencatat dan mendokumentasikan fondasi-fondasi yang sangat kuno. Dokumentasi ini akan memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana pemujaan kuno di Besakih berkembang dari tradisi Punden Berundak ke kompleks Pura terbesar di Bali, sebuah proses yang memakan waktu ribuan tahun.

Intinya, Besakih adalah monumen hidup dari akulturasi spiritual yang berhasil. Ia adalah tempat di mana batu-batu dari masa Jejak Prasejarah bertemu dengan ajaran Dharma, menciptakan identitas spiritual Bali yang unik. Menghargai dan meneliti fondasi Megalitik ini adalah kunci untuk memahami spiritualitas Bali secara keseluruhan, bukan hanya sebagai agama impor, tetapi sebagai peradaban yang berakar kuat pada bumi dan roh leluhurnya.

Kompleks Pura Besakih hari ini berdiri sebagai kesaksian nyata terhadap ketahanan spiritual dan kemampuan adaptasi budaya Bali. Struktur Punden Berundak yang menjadi inti Pura Penataran Agung bukan sekadar arsitektur kuno; itu adalah peta spiritual yang diturunkan dari generasi Megalitik. Ini adalah warisan yang harus terus dikaji dan dilestarikan, memastikan bahwa cerita tentang Pemujaan Megalitik Pra-Hindu di Lokasi Besakih tidak pernah hilang ditelan waktu, melainkan terus mencerahkan pemahaman kita tentang sejarah suci Pulau Dewata.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.