Kedatangan Dang Hyang Nirartha: Pemurnian Ajaran dan Penguatan Konsep Tri Murti di Besakih
- 1.
Latar Belakang Sang Dwijendra: Dari Jawa Timur ke Pulau Dewata
- 2.
Standardisasi Ritual dan Penguatan Sistem Yadnya
- 3.
Konsep Tat Twam Asi sebagai Pilar Etika
- 4.
Transformasi Besakih oleh Dang Hyang Nirartha
- 5.
Konsep Padmasana Tiga di Pura Penataran Agung
- 6.
Konsep Siwa Sidhanta: Manifestasi Tunggal
- 7.
Hubungan Kosmologi dengan Pura Kawitan
- 8.
1. Pembentukan Soroh Brahmana Siwa
- 9.
2. Pembangunan Pura Ikonik
- 10.
3. Kontribusi Sastra dan Kesusastraan
- 11.
Penutup: Stabilitas yang Dibangun di Atas Kesatuan
Table of Contents
Kedatangan seorang maharesi, seorang sulinggih agung dari seberang lautan, sering kali menandai babak baru dalam peradaban. Di Bali, kedatangan Dang Hyang Nirartha pada abad ke-16 Masehi bukan sekadar peristiwa sejarah, melainkan sebuah revolusi spiritual yang membentuk wajah Hindu Dharma hingga hari ini. Dikenal juga sebagai Pedanda Sakti Wawu Rauh atau Sang Dwijendra, beliau datang di tengah gejolak politik dan spiritual pasca-keruntuhan Majapahit, membawa misi tunggal: memurnikan ajaran, menyelaraskan sekte-sekte yang tercerai berai, dan menancapkan kembali fondasi keagamaan yang kokoh, berpusat pada konsep Tri Murti di Pura Agung Besakih. Esensi dari warisan beliau adalah penguatan doktrin Siwa Sidhanta yang menjadi pilar utama Hindu Bali, menjadikannya sistem kepercayaan yang terstruktur, inklusif, dan abadi.
Gejolak Spiritual Pra-Nirartha: Bali di Persimpangan Jalan
Sebelum kehadiran Dang Hyang Nirartha, Bali berada dalam fase transisi spiritual yang kompleks. Meskipun Hindu telah berakar kuat sejak zaman Bali Kuno, sinkretisme yang mendalam—perpaduan antara ajaran Siwaistik, Buddha Mahayana, kepercayaan lokal (animisme dan dinamisme), serta tradisi Bali Aga—telah menciptakan lanskap keagamaan yang bervariasi. Kerajaan Gelgel, di bawah kepemimpinan Dalem Waturenggong, berusaha menyatukan kekuasaan politik, namun legitimasi spiritualnya memerlukan penguatan dari figur otoritas keagamaan tertinggi.
Ajaran yang dominan saat itu cenderung dipengaruhi oleh unsur-unsur Tantrayana dan praktik lokal yang belum terstandardisasi secara filosofis. Para sulinggih dan pemuka agama memiliki aliran yang berbeda-beda, yang terkadang menimbulkan interpretasi dan ritual yang kontradiktif. Akibatnya, sistem upacara (yadnya) tidak seragam, dan pemahaman teologis tentang Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) terpecah belah menjadi pemujaan dewa-dewa lokal atau manifestasi tertentu tanpa kerangka konseptual yang menyeluruh. Kebutuhan akan seorang reformator, yang mampu merumuskan kembali ajaran Hindu ke dalam bentuk yang sistematis dan universal, adalah mutlak.
Latar Belakang Sang Dwijendra: Dari Jawa Timur ke Pulau Dewata
Dang Hyang Nirartha diyakini berasal dari Kerajaan Daha (Jawa Timur) dan merupakan keturunan brahmana Siwa yang terpelajar. Setelah kejatuhan total Majapahit dan menguatnya Islamisasi di Jawa, migrasi kaum brahmana dan bangsawan ke Bali menjadi gelombang besar yang membawa serta tradisi kesusastraan dan spiritual Jawa Kuno yang kaya. Nirartha, yang disebut dalam beberapa sumber sebagai putra dari Mpu Semeru, mewakili puncak kematangan ajaran Siwa di Jawa.
Beliau meninggalkan Jawa, mencari suaka spiritual dan tempat untuk melanjutkan misi ajaran. Setelah singgah sebentar di Lombok dan Sumbawa (di mana beliau juga meninggalkan jejak spiritual), Dang Hyang Nirartha akhirnya menginjakkan kaki di Bali pada sekitar tahun 1537 M. Kedatangan ini dianggap sebagai pemenuhan ramalan yang dinanti-nantikan oleh Dalem Waturenggong, yang melihatnya sebagai simbol legitimasi spiritual bagi Kerajaannya.
Misi Pemurnian Ajaran Hindu Dharma di Bali
Tugas pertama dan utama Dang Hyang Nirartha adalah restrukturisasi doktrin keagamaan. Beliau tidak menghapus tradisi lokal yang telah ada, tetapi menyaring, mengintegrasikannya, dan menempatkannya dalam kerangka filosofis yang lebih tinggi dan universal—yaitu Siwa Sidhanta. Siwa Sidhanta menekankan konsep penyatuan roh individu (Atman) dengan Tuhan (Paramasiwa), melalui jalan karma, jnana, bhakti, dan yoga.
Standardisasi Ritual dan Penguatan Sistem Yadnya
Salah satu kontribusi terbesar DHN adalah standardisasi upacara keagamaan. Beliau merumuskan secara rinci tata cara pelaksanaan Panca Yadnya (lima jenis kurban suci) yang mencakup Dewa Yadnya, Rsi Yadnya, Pitra Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. Standardisasi ini penting untuk memastikan keseragaman praktik di seluruh pulau, mengurangi kebingungan, dan memperkuat identitas keagamaan Hindu Bali yang khas.
Sebelumnya, ritual sering kali terpengaruh oleh interpretasi lokal yang berbeda-beda. Nirartha mengajarkan bahwa inti dari upacara adalah ketulusan (sradha) dan pemahaman filosofis, bukan sekadar aspek magis atau mistis semata. Beliau menyusun teks-teks panduan upacara yang kemudian menjadi acuan bagi para sulinggih Brahmana Siwa, yang hingga kini dikenal sebagai Brahmana Siwa, yang merupakan keturunan beliau.
Konsep Tat Twam Asi sebagai Pilar Etika
Selain ritual, Nirartha juga memperkuat pilar etika dan moral. Beliau menghidupkan kembali ajaran fundamental seperti Tat Twam Asi (Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku), yang mengajarkan kesatuan dan saling keterhubungan antara semua makhluk. Konsep ini menjadi dasar bagi harmonisasi sosial (Tri Hita Karana), yang kemudian berkembang menjadi filosofi hidup masyarakat Bali, menekankan pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam.
Pemurnian ajaran oleh Dang Hyang Nirartha juga melibatkan penertiban praktik-praktik spiritual yang dianggap menyimpang atau terlalu ekstrem. Beliau menekankan jalan tengah, menyeimbangkan praktik meditasi yang mendalam (yoga) dengan pelaksanaan ritual sehari-hari (bhakti). Hasil dari upaya ini adalah terciptanya sistem keagamaan yang terstruktur, dengan garis keturunan brahmana yang jelas (Brahmana Siwa), yang bertindak sebagai pemegang otoritas ritual tertinggi—suatu struktur yang sangat dibutuhkan untuk stabilitas spiritual Bali.
Pura Besakih: Sentrum Kosmis dan Penguatan Tri Murti
Kedatangan Dang Hyang Nirartha memiliki dampak paling monumental pada Pura Agung Besakih. Besakih, yang telah lama menjadi pura induk (Pura Penataran Agung) bagi kerajaan-kerajaan Bali, memiliki makna historis dan mistis yang mendalam, namun fungsinya sebagai pusat pemujaan Tri Murti belum diformalkan secara eksplisit sebelum kehadiran beliau.
Transformasi Besakih oleh Dang Hyang Nirartha
Dang Hyang Nirartha, dengan kebijaksanaannya, menyadari bahwa untuk menyatukan beragam sekte dan kepercayaan di Bali, diperlukan sebuah titik fokus yang tidak hanya sakral secara lokal, tetapi juga universal dalam konteks Hindu. Besakih adalah jawabannya. Beliau memposisikan Besakih sebagai Pusat Jagat, Axis Mundi Bali, tempat manifestasi tertinggi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dipuja dalam wujud Tri Murti.
Tri Murti—Brahma (Sang Pencipta), Wisnu (Sang Pemelihara), dan Siwa (Sang Pelebur)—adalah inti dari kosmologi Hindu. Dengan menguatkan pemujaan Tri Murti di Besakih, Nirartha berhasil menyatukan pemujaan terhadap berbagai dewa lokal (yang kemudian diinterpretasikan sebagai manifestasi Tri Murti) di bawah satu atap doktrinal yang kuat. Ini adalah strategi jenius untuk inklusivitas spiritual.
Konsep Padmasana Tiga di Pura Penataran Agung
Kontribusi arsitektural dan ritual terpenting Nirartha di Besakih adalah penguatan atau peresmian pemujaan Tri Murti melalui pembangunan Padmasana Tiga (Tiga Tempat Duduk Teratai) di Pura Penataran Agung Besakih, area paling suci dalam kompleks pura tersebut. Meskipun struktur Padmasana mungkin sudah ada, Nirartha memformalkan penempatan dan orientasinya sesuai dengan arah mata angin dan fungsinya:
- Padmasana Timur: Dipersembahkan kepada Dewa Brahma, dilambangkan dengan warna Merah, sebagai simbol penciptaan.
- Padmasana Utara: Dipersembahkan kepada Dewa Wisnu, dilambangkan dengan warna Hitam/Biru, sebagai simbol pemeliharaan.
- Padmasana Pusat (Tengah): Dipersembahkan kepada Dewa Siwa (Sadha Siwa, Parama Siwa), dilambangkan dengan warna Putih/Campuran, sebagai simbol peleburan dan kembalinya ke asal (kesatuan).
Melalui formalisasi ini, Besakih menjadi model tata ruang suci yang kemudian direplikasi di pura-pura utama lainnya di Bali. Besakih bukan lagi sekadar pura warisan kerajaan, melainkan pusat kosmik di mana keseimbangan alam semesta (Rwa Bhineda) dijaga melalui pemujaan terpusat kepada Tri Murti.
Mengurai Filosofi Tri Murti dalam Siwa Sidhanta
Penguatan konsep Tri Murti oleh Dang Hyang Nirartha harus dipahami dalam konteks ajaran Siwa Sidhanta. Dalam filosofi ini, Tri Murti bukanlah tiga dewa yang berdiri sendiri, melainkan tiga aspek fungsi (karma) dari satu entitas tertinggi yang tak terwujudkan: Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Brahman).
Konsep Siwa Sidhanta: Manifestasi Tunggal
Siwa Sidhanta mengajarkan monoteisme filosofis yang disebut Sang Hyang Tunggal. Nirartha menjelaskan bahwa Dewa Siwa, sebagai manifestasi tertinggi yang dipuja di Besakih, meliputi seluruh alam semesta. Brahma dan Wisnu adalah kekuatan operasional Siwa yang bertanggung jawab atas siklus penciptaan (Utpatti), pemeliharaan (Sthiti), dan peleburan (Pralina). Ini adalah pemurnian dari pemujaan dewa-dewa yang terpisah menjadi pemujaan terhadap satu Tuhan dengan beragam fungsi.
Pendekatan ini memiliki implikasi besar terhadap persatuan umat. Dengan menetapkan Besakih sebagai pusat pemujaan universal Tri Murti, Nirartha memungkinkan setiap aliran dan sekte untuk melihat dewa yang mereka sembah sebagai bagian dari satu kesatuan kosmik yang lebih besar, menghilangkan potensi konflik teologis yang dapat mengancam stabilitas kerajaan.
Hubungan Kosmologi dengan Pura Kawitan
Nirartha juga berperan dalam memperjelas hubungan antara Pura Besakih (sebagai Pura Kahyangan Jagat—pura universal) dengan Pura Kawitan (pura leluhur) dan Pura Kahyangan Tiga (pura desa). Beliau mengukuhkan hierarki spiritual, di mana Besakih berdiri sebagai simbol keagamaan yang mencakup seluruh Bali, sementara pura-pura di tingkat desa dan keluarga melayani kebutuhan spiritual yang lebih spesifik. Struktur hirarkis ini—dari tingkat makro (Besakih/Tri Murti) hingga mikro (kawitan/leluhur)—memastikan bahwa setiap aspek kehidupan spiritual memiliki tempatnya dalam tata ruang keagamaan yang dipimpin oleh Siwa Sidhanta.
Warisan Abadi Sang Dwijendra
Dampak Dang Hyang Nirartha tidak terbatas hanya pada Besakih atau Gelgel, tetapi meliputi seluruh Pulau Dewata. Kedatangan beliau sering disebut sebagai era “Hindu Dharma” modern di Bali. Warisan beliau dapat dilihat dari berbagai aspek:
1. Pembentukan Soroh Brahmana Siwa
Anak cucu dan murid-murid Dang Hyang Nirartha membentuk garis keturunan brahmana yang dikenal sebagai Brahmana Siwa (Pedanda Siwa), yang menjadi otoritas utama dalam pelaksanaan upacara besar (Yadnya) dan penentuan hari baik (wariga). Garis keturunan ini berpusat di beberapa gria (kompleks tempat tinggal brahmana) di Bali, khususnya Gria di Mas, Gria di Kamasan, dan Gria di Sidemen. Keberadaan Brahmana Siwa memastikan keberlanjutan dan kemurnian ajaran Siwa Sidhanta hingga kini.
2. Pembangunan Pura Ikonik
Selama perjalanannya (Tirta Yatra) di Bali, DHN mendirikan atau memperkuat banyak pura ikonik yang kini menjadi daya tarik spiritual dan kultural Bali. Pura-pura seperti Pura Luhur Uluwatu, Pura Tanah Lot, Pura Rambut Siwi, dan Pura Pulaki, adalah bukti nyata jejak langkah spiritualnya. Setiap pura ini sering kali memiliki koneksi dengan unsur alam (laut, tebing, gunung), menunjukkan filosofi beliau dalam mengintegrasikan pemujaan kepada manifestasi Tuhan dengan kekuatan alam.
Misalnya, pendirian Pura Tanah Lot didasarkan pada keinginan beliau untuk menemukan tempat yang tenang dan sakral di tengah laut, melambangkan pemujaan Dewa Baruna (Dewa Laut) sebagai manifestasi Wisnu, namun tetap dalam kerangka kesatuan Siwa Sidhanta.
3. Kontribusi Sastra dan Kesusastraan
Dang Hyang Nirartha juga meninggalkan warisan berupa karya sastra keagamaan, yang paling terkenal adalah Dwijendra Tattwa dan beberapa lontar yang mengatur tata cara upacara. Karya-karya ini menjadi pedoman teologis dan ritual, memperkuat basis ajaran Hindu Dharma dengan landasan filosofis yang kuat dan terstruktur, menjembatani ajaran dari masa Majapahit dengan praktik di Bali.
Relevansi Abadi Bagi Hindu Bali Kontemporer
Pada akhirnya, pemurnian ajaran oleh Dang Hyang Nirartha bukanlah sekadar revisi, melainkan konsolidasi identitas. Tanpa intervensi beliau, Hindu Bali mungkin akan terpecah belah menjadi berbagai sekte tanpa titik temu filosofis yang kuat. Dengan memusatkan teologi pada Tri Murti di Besakih, dan memimpin brahmana ke dalam sistem Siwa Sidhanta yang terstruktur, beliau memberikan Bali sebuah tameng spiritual yang tahan banting terhadap perubahan zaman.
Hingga saat ini, Pura Agung Besakih tetap menjadi 'Ibu' dari semua pura, tempat setiap umat Hindu Bali bersembahyang, menyadari bahwa mereka semua berada di bawah naungan Tri Murti, manifestasi tunggal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Warisan Dang Hyang Nirartha adalah harmoni spiritual yang kita saksikan di Bali hari ini: perpaduan unik antara tradisi lokal yang kaya dengan filosofi Hindu yang universal dan mendalam, yang terus hidup dan berkembang seiring waktu.
Penutup: Stabilitas yang Dibangun di Atas Kesatuan
Kisah kedatangan Dang Hyang Nirartha di Bali adalah narasi tentang reformasi, integrasi, dan penyatuan. Beliau adalah sosok yang mampu melihat melampaui keragaman ritual dan menembus inti ajaran, menemukan kesatuan dalam Tri Murti dan menjadikannya jangkar abadi bagi Hindu Dharma di Pulau Dewata. Besakih, dengan megahnya Padmasana Tiga, adalah monumen hidup bagi keberhasilan misi Sang Dwijendra: menciptakan kesatuan spiritual yang kokoh, yang menopang peradaban Bali hingga ribuan tahun ke depan.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.