Mitologi Awal: Besakih sebagai Titik Temu Kosmik Gunung Semeru dan Gunung Padma Bhuwana

Subrata
17, Januari, 2026, 08:19:00
Mitologi Awal: Besakih sebagai Titik Temu Kosmik Gunung Semeru dan Gunung Padma Bhuwana

Pura Besakih, yang terletak megah di lereng barat daya Gunung Agung, bukanlah sekadar kompleks candi terbesar di Bali. Ia adalah Mandala Agung Nusantara, titik poros spiritual yang menautkan dimensi mitologis dengan realitas ritual. Dalam narasi sejarah dan teologi Hindu Dharma Bali, Besakih memegang peran sentral sebagai lokasi terjadinya peristiwa kosmik yang sangat penting: titik pertemuan dua gunung purba yang vital bagi kestabilan bumi, yaitu Gunung Semeru yang dipindahkan dari Jawa, dan Gunung Padma Bhuwana, gunung kosmis yang sudah ada di Bali sejak awal penciptaan.

Kisah ini, yang tertuang dalam berbagai lontar kuno seperti Usana Bali dan Babad Bali, menjelaskan mengapa Bali — dan khususnya Besakih — dianggap sebagai pusat spiritual dunia. Memahami Besakih berarti menyelami mitologi awal pembentukan pulau dewata, di mana para dewa turun tangan untuk 'memaku' bumi agar tidak lagi terombang-ambing. Artikel mendalam ini akan mengupas tuntas mitologi di balik Besakih sebagai titik temu kosmik, menjelajahi peran Semeru, misteri Padma Bhuwana, dan implikasi filosofisnya terhadap kehidupan spiritual masyarakat Bali.

Keagungan Pura Besakih sebagai Puncak Spiritual Bali

Pura Besakih sering dijuluki sebagai ‘Pura Ibu’ (Mother Temple), karena fungsinya sebagai pusat ritual yang melingkupi seluruh tingkatan masyarakat, dari upacara personal hingga upacara jagat raya. Kompleks ini terdiri dari lebih dari 86 pura, dengan Pura Penataran Agung Besakih sebagai pusatnya. Lokasinya yang berada pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut memberikan kesan sakral yang tak tertandingi, seolah-olah memang diposisikan untuk menjadi gerbang penghubung antara Bhuwana Agung (makrokosmos) dan Bhuwana Alit (mikrokosmos).

Secara arsitektur, Besakih merefleksikan konsep kosmologi yang rumit, yang terbagi dalam tiga tingkatan utama (Nista, Madya, Utama Mandala) dan sembilan arah mata angin (Nawa Sanga). Struktur ini bukan hanya indah, tetapi juga merupakan representasi visual dari keyakinan bahwa Besakih adalah pusat spiritual yang mengendalikan keseimbangan semesta. Pengaturan pura di sana didasarkan pada pemujaan Tri Murti (Brahma, Wisnu, Siwa) yang berpusat pada Siwa di Pura Penataran Agung. Namun, sebelum adanya pemujaan Tri Murti yang terstruktur seperti sekarang, Besakih telah dikenal sebagai tempat pemujaan roh leluhur yang sangat kuno.

Fungsi Besakih sebagai titik temu kosmik inilah yang menjadikannya tempat dilaksanakannya upacara-upacara besar seperti Eka Dasa Rudra dan Panca Wali Krama, yang bertujuan untuk menjaga keharmonisan alam semesta dari ancaman kehancuran. Tanpa Besakih sebagai poros, stabilitas Bali—dan bahkan dunia—dipercaya akan terganggu.

Konsep Paku Bhuwana: Kebutuhan akan Titik Pusat

Dalam mitologi penciptaan Hindu, bumi pada awalnya adalah sesuatu yang tidak stabil, mengambang di atas samudra raya (Ksira Sagara), berputar dan bergoncang tanpa henti. Kondisi ini digambarkan sebagai kekacauan primordial yang menghalangi kehidupan. Para dewa lantas menyadari bahwa agar kehidupan dapat berkembang, bumi harus dipaku, diikat, atau distabilkan. Konsep inilah yang melahirkan mitos Paku Bhuwana (Paku Dunia).

Di Jawa, Paku Bhuwana diidentifikasi sebagai Gunung Semeru. Namun, kestabilan yang diciptakan Semeru di Jawa dirasa belum cukup untuk menstabilkan seluruh kawasan Nusantara. Menurut beberapa versi lontar, para dewa, dipimpin oleh Dewa Siwa atau Dewa Wisnu, memutuskan bahwa Bali juga harus memiliki paku yang kuat, dan paku tersebut harus berhubungan langsung dengan Semeru sebagai sumber kekuatan yang telah teruji.

Semeru dan Misi Penyeimbangan Jagat

Kisah pemindahan Gunung Semeru ke Bali adalah salah satu narasi paling dramatis dalam mitologi Bali-Jawa. Semeru, yang merupakan gunung tertinggi di Jawa dan secara teologis dianggap sebagai kediaman para dewa (Mahameru), diperintahkan untuk dipindahkan oleh Dewa Pasupati.

Dalam proses pemindahan, Semeru yang sangat besar dan berat itu dibawa melintasi lautan. Karena beban yang luar biasa, Semeru mengalami keretakan dan pembelahan. Bagian Semeru yang jatuh dan menjadi gunung-gunung kecil di sepanjang rute Jawa-Bali diyakini sebagai gunung-gunung seperti Gunung Bromo, Ijen, dan kemungkinan Gunung Rinjani di Lombok (meskipun Rinjani memiliki mitosnya sendiri).

Transformasi dan Pembelahan: Semeru Menjadi Agung

Ketika Semeru tiba di Bali, ia ditanamkan di timur laut, namun gunung tersebut masih terlalu besar, menyebabkan Bali miring. Dewa Pasupati kemudian membagi puncaknya menjadi dua bagian. Bagian yang lebih besar dan utama ditanamkan sebagai Gunung Agung (Tóhan Hyang Agûng), yang berarti ‘Puncak Hyang Besar’ atau ‘Yang Mulia’. Gunung Agung inilah yang secara teologis diyakini sebagai manifestasi fisik langsung dari Gunung Semeru di Bali, menjadikannya gunung paling suci di pulau tersebut, tempat bersemayamnya Dewa Siwa atau roh leluhur agung.

Secara geografis, Gunung Agung kini berfungsi sebagai Paku Bhuwana Bali, yang menancap kokoh dan memberikan kesuburan spiritual dan fisik (air, mineral, lava) bagi seluruh pulau. Pura Besakih dibangun tepat di lerengnya, bukan di puncaknya, menunjukkan bahwa Pura Besakih adalah stasiun penghubung, tempat manusia berinteraksi dengan kekuatan kosmik yang berdiam di puncak Agung/Semeru.

Menguak Misteri Gunung Padma Bhuwana: Simbol Kosmis Penciptaan

Jika Gunung Semeru/Agung mewakili kekuatan yang dipindahkan dan menstabilkan, lalu apa peran Gunung Padma Bhuwana? Padma Bhuwana adalah elemen yang sering terlupakan dalam narasi populer, padahal ia adalah kunci utama yang menjelaskan mengapa Besakih menjadi ‘titik temu’ yang unik dan sakral.

Padma Bhuwana, secara harfiah berarti ‘Teratai Dunia’ (Padma = Teratai, Bhuwana = Dunia/Semesta). Tidak seperti Semeru yang memiliki manifestasi fisik jelas (Gunung Agung), Padma Bhuwana sering diinterpretasikan sebagai gunung spiritual, metafisik, atau kondisi primordial Bali sebelum adanya intervensi para dewa.

Makna Filosofis Padma (Lotus) dalam Hindu Dharma

Dalam ajaran Hindu, teratai (Padma) adalah simbol kosmik yang paling murni. Ia tumbuh dari lumpur (dunia material) tetapi bunganya tetap bersih dan mengarah ke atas (spiritualitas). Teratai melambangkan penciptaan, kemurnian, dan pusat alam semesta. Dewi Laksmi, Dewa Brahma, dan Dewa Wisnu seringkali digambarkan duduk di atas teratai.

Dengan demikian, Gunung Padma Bhuwana bukanlah gunung fisik yang bisa dilihat, melainkan poros kosmis (Sumeru/Meru) yang bersifat spiritual, yang sudah ada di lokasi Besakih sebelum kedatangan Semeru. Lokasi ini dianggap sebagai ‘pusat’ alami Bali, tempat di mana energi kosmik murni selalu memancar. Gunung Padma Bhuwana mewakili Bhuwana Pura, alam yang murni, tempat di mana energi ketuhanan berdiam secara pasif dan menunggu untuk diaktifkan.

Titik di mana Semeru/Agung diposisikan dan di mana Padma Bhuwana secara metafisik bersemayam (yaitu Besakih) menciptakan kondisi spiritual yang sempurna. Semeru membawa energi sakti (kekuatan aktif) dari luar, sementara Padma Bhuwana memberikan energi sthana (landasan suci) dari dalam.

Padma Bhuwana sebagai Representasi Purusha dan Prakerti

Jika kita menganalisis lebih dalam melalui lensa Sankhya Yoga, mitologi ini dapat diinterpretasikan sebagai penyatuan dua prinsip fundamental penciptaan: Purusha (kesadaran, energi maskulin, Semeru) dan Prakerti (materi, alam, energi feminin, Padma Bhuwana). Gunung Semeru (melalui Gunung Agung) adalah kekuatan yang bergerak, yang menancapkan kekuatannya. Gunung Padma Bhuwana adalah wadah suci, landasan murni yang menerima dan menahan kekuatan tersebut.

Besakih, sebagai titik temu mereka, menjadi tempat di mana Purusha dan Prakerti menyatu sempurna, menghasilkan harmoni abadi yang disebut Rwa Bhineda yang telah diseimbangkan. Keharmonisan ini kemudian dipelihara melalui upacara-upacara agung yang diselenggarakan secara berkala.

Titik Temu Mitologis: Penyeimbangan Rwa Bhineda di Besakih

Konsep Titik Temu Gunung Semeru dan Gunung Padma Bhuwana di Besakih adalah inti dari kosmologi Bali. Besakih bukan sekadar berdiri di lereng Agung; ia adalah persimpangan yang secara teologis paling krusial.

Titik temu ini menghasilkan sebuah keseimbangan: di satu sisi ada kekuatan eksternal, yang berasal dari gunung yang dipindahkan (Semeru/Agung), melambangkan kedinamisan, kejantanan, dan kekuasaan dewa. Di sisi lain, ada kekuatan internal dan purba, Padma Bhuwana, yang melambangkan kemurnian, landasan spiritual, dan asal mula.

Pura Penataran Agung, yang merupakan pusat Besakih, secara spesifik dirancang untuk mengakomodasi penyatuan ini. Di sinilah tempat Palinggih utama (tempat pemujaan) dari Dewa Siwa berada. Siwa adalah dewa pelebur dan dewa penyeimbang. Kehadiran Siwa di titik pertemuan ini menegaskan peran Besakih sebagai poros yang menyelaraskan segala dualitas.

Poros Utara-Selatan dan Keseimbangan Jagat

Dalam kosmologi Bali, Gunung Agung berada di utara (Kaja), melambangkan kedewataan dan kesucian. Laut berada di selatan (Kelod), melambangkan alam roh dan energi negatif yang harus disucikan. Besakih terletak di tengah-tengah garis imajiner yang menghubungkan utara dan selatan ini, menjadikannya jembatan spiritual. Titik temu Semeru dan Padma Bhuwana memastikan bahwa energi dari utara (kekuatan gunung) dapat disalurkan secara benar dan bersih ke seluruh pulau.

Jika Semeru/Agung adalah manifestasi dari kaja (atas/gunung), maka Padma Bhuwana dapat diinterpretasikan sebagai representasi spiritual dari kelod (bawah/samudra), yang kemudian dilebur dan disucikan di Besakih. Dengan demikian, Besakih berfungsi sebagai katup pengaman kosmik, menyeimbangkan dua kutub energi fundamental dalam tradisi Bali.

Para arsitek spiritual Besakih, pada masa kerajaan kuno, sengaja meletakkan kompleks pura di lokasi ini karena mereka memahami betul narasi mitologis ini. Struktur terasering yang naik ke atas menuju Penataran Agung adalah perjalanan spiritual menuju titik temu kosmik yang suci ini, menapaki jalur dari Bhuwana Alit menuju Bhuwana Agung.

Warisan Mitologi dalam Upacara Agung Bali

Mitologi Titik Temu Semeru dan Padma Bhuwana tidak hanya berhenti pada kisah purba; ia terus dihidupkan dalam ritual Panca Wali Krama (upacara lima tahunan) dan Eka Dasa Rudra (upacara seratus tahunan). Upacara-upacara ini selalu dipusatkan di Besakih dan memiliki tujuan tunggal: nyomia (menetralkan) energi negatif dan menegaskan kembali kestabilan kosmik yang pertama kali diciptakan oleh penyatuan kedua gunung mitologis tersebut.

Ketika upacara agung dilaksanakan, seluruh Bali seolah kembali berpusat pada Besakih. Hal ini adalah pengulangan simbolis dari tindakan para dewa yang menstabilkan dunia. Melalui persembahan, doa, dan prosesi yang masif, masyarakat Bali berpartisipasi aktif dalam memelihara Paku Bhuwana yang telah ditancapkan di titik temu Semeru dan Padma Bhuwana. Ini adalah pengingat bahwa keharmonisan hidup sehari-hari (Tri Hita Karana) bergantung pada stabilitas fondasi mitologis yang diletakkan di Besakih.

Dampak Teologis: Mengapa Gunung Agung Sangat Sakral?

Titik temu ini juga menjelaskan mengapa Gunung Agung memiliki tingkat kesakralan yang jauh melampaui gunung-gunung lain di Bali, bahkan lebih sakral daripada Gunung Batur atau Batukaru. Agung adalah manifestasi dari Semeru, dewa gunung yang dibawa langsung dari Mahameru. Oleh karena itu, semua ritual yang berhubungan dengan *dewa pitara* (leluhur) dan *dewa sthana* (dewa pelindung) sering merujuk ke arah Agung/Besakih.

Ketika terjadi erupsi Gunung Agung, seperti yang terjadi pada tahun 1963 dan beberapa tahun terakhir, peristiwa tersebut tidak dilihat hanya sebagai bencana alam biasa, tetapi sebagai peringatan kosmik atau pembersihan yang dilakukan oleh Dewa Siwa. Letusan adalah cara gunung itu sendiri, sebagai Paku Bhuwana, menegaskan kembali kekuatannya, mengingatkan manusia akan pentingnya menjaga kesucian titik temu tersebut.

Implikasi Budaya dan Jati Diri Bali

Mitologi Besakih sebagai titik temu ini membentuk jati diri spiritual Bali. Pulau ini tidak sekadar dihuni oleh manusia; ia dipandang sebagai kapal kosmik yang diselamatkan dari kehancuran oleh intervensi ilahi. Kesadaran ini menanamkan rasa hormat yang mendalam terhadap alam dan tata ruang. Konsep kaja-kelod (utara-selatan) yang mendominasi tata ruang desa dan pura di Bali adalah warisan langsung dari penetapan Gunung Agung/Besakih sebagai poros utama.

Filosofi titik temu ini juga mengajarkan pentingnya keselarasan. Semeru adalah kekuatan dari luar yang membawa tata tertib Hindu yang baru, sementara Padma Bhuwana adalah spiritualitas asli, energi purba Bali. Penyatuan keduanya di Besakih menghasilkan Hindu Dharma Bali yang unik, yang menggabungkan tradisi leluhur (dewa-dewa lokal) dengan tradisi India (Tri Murti).

Dengan demikian, Besakih adalah monumen hidup yang menceritakan kisah penciptaan Bali. Ia adalah tempat di mana sejarah, mitologi, teologi, dan geografi menyatu menjadi satu kesatuan yang utuh, yang terus dihormati dan dipelihara oleh masyarakat Bali hingga kini.

Penutup: Besakih sebagai Pusat Stabilitas Universal

Pura Besakih adalah lebih dari sekadar tujuan wisata religi; ia adalah cetak biru kosmologi Bali. Mitologi awal tentang Besakih sebagai Titik Temu Gunung Semeru dan Gunung Padma Bhuwana memberikan pemahaman yang mendalam mengenai bagaimana Bali meyakini dirinya dibentuk dan distabilkan oleh para dewa.

Gunung Semeru, melalui perwujudan fisiknya sebagai Gunung Agung, menancapkan dirinya sebagai Paku Bhuwana yang dinamis. Sementara itu, Gunung Padma Bhuwana menawarkan fondasi spiritual yang murni dan pasif. Penyatuan kedua kekuatan ini di Besakih menghasilkan kondisi harmoni universal, yang terus dijaga melalui praktik ritual dan keyakinan Hindu Dharma.

Kunjungan ke Besakih adalah perjalanan menelusuri poros spiritual ini, memahami bahwa di bawah keindahan arsitekturnya terdapat kisah kuno tentang penyelamatan jagat raya. Besakih adalah pengingat abadi bahwa di tengah dualitas dunia, selalu ada titik temu yang mampu menghasilkan keseimbangan sempurna.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.