Membongkar Sejarah: Upaya Konservasi dan Restorasi Situs Dimulai pada Periode Kolonial, Termasuk Pembersihan Lumut dan Penggalian Area Sekitarnya

Subrata
26, Agustus, 2026, 08:56:00
Membongkar Sejarah: Upaya Konservasi dan Restorasi Situs Dimulai pada Periode Kolonial, Termasuk Pembersihan Lumut dan Penggalian Area Sekitarnya

Membongkar Sejarah: Upaya Konservasi dan Restorasi Situs Dimulai pada Periode Kolonial, Termasuk Pembersihan Lumut dan Penggalian Area Sekitarnya

Indonesia, dengan kekayaan arkeologi yang tak terhingga, memiliki situs-situs purbakala yang usianya telah mencapai ribuan tahun. Pelestarian warisan ini bukanlah fenomena baru. Jauh sebelum kemerdekaan, tantangan pelestarian terhadap situs-situs megah seperti Borobudur, Prambanan, dan reruntuhan di Jawa Timur telah dihadapi. Namun, sejarah modern dari intervensi struktural dan konservasi terorganisir di Nusantara sangat terikat pada kehadiran pemerintah kolonial Belanda.

Artikel premium ini akan menganalisis secara mendalam bagaimana dan mengapa upaya konservasi dan restorasi situs dimulai pada periode kolonial, termasuk pembersihan lumut dan penggalian area sekitarnya, serta dampaknya terhadap praktik arkeologi dan pelestarian cagar budaya di Indonesia hingga saat ini. Kita akan menelusuri motivasi para sarjana dan insinyur kolonial, metodologi yang mereka terapkan, dan warisan ambivalen yang mereka tinggalkan.

Mengapa Konservasi Situs Kuno Dimulai pada Periode Kolonial? (Motivasi dan Latar Belakang)

Ketika VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) fokus pada perdagangan, pelestarian situs kuno hampir tidak menjadi prioritas. Situs-situs besar sering kali tersembunyi di bawah hutan lebat dan tertutup abu vulkanik. Perhatian serius baru muncul pada awal abad ke-19, seiring pergeseran fokus dari eksploitasi murni ke administrasi wilayah secara keseluruhan.

Transisi dari Eksplorasi ke Pelestarian

Periode peralihan, terutama di bawah kekuasaan Inggris (1811–1816) yang dipimpin oleh Sir Thomas Stamford Raffles, menandai dimulainya fase eksplorasi yang lebih terstruktur. Raffles, seorang yang memiliki minat besar pada budaya Jawa, memerintahkan pembersihan situs-situs utama dan membuat dokumentasi awal.

  • Kesadaran Awal: Borobudur, yang ditemukan kembali secara formal oleh Hermanus Christiaan Cornelius (bawahan Raffles), hanyalah tumpukan batu yang tertutup vegetasi. Keadaan ini memicu kesadaran bahwa warisan tersebut akan hilang tanpa intervensi.
  • Motif Romantisme dan Ilmiah: Abad ke-19 di Eropa didominasi oleh gerakan Romantisisme yang mengagungkan masa lalu eksotis. Bagi Belanda, pelestarian situs-situs ini juga menjadi alat legitimasi untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam mengelola peradaban tingkat tinggi, serta menjadi bahan penelitian ilmiah yang bergengsi.
  • Ancaman Struktural: Banyak candi yang berada dalam kondisi kritis, miring, ambruk, atau tertekan oleh akar pohon raksasa. Para insinyur Belanda menyadari bahwa mereka harus bergerak cepat jika ingin mempertahankan artefak ini, bukan hanya sebagai peninggalan sejarah tetapi juga sebagai monumen arsitektur.

Peran Tokoh Kunci Awal dan Pembentukan OD

Langkah-langkah konservasi yang serius dimulai dengan ditunjuknya beberapa ahli untuk mengawasi peninggalan purbakala. Pada tahun 1901, dibentuklah Komisi Penelitian Arkeologi di Jawa dan Madura, yang kemudian berkembang menjadi Oudheidkundige Dienst (OD) atau Dinas Purbakala pada tahun 1913.

Tokoh-tokoh seperti Dr. J.L.A. Brandes dan N.J. Krom meletakkan dasar metodologi dokumentasi dan katalogisasi. Namun, implementasi konservasi skala besar—sebagaimana yang terkandung dalam upaya pembersihan dan penggalian—sepenuhnya berada di tangan para insinyur dan arsitek militer, yang paling terkenal adalah Theodor van Erp.

Metodologi Kunci: Upaya Konservasi dan Restorasi Situs Dimulai pada Periode Kolonial (Fokus pada Teknik Awal)

Tugas awal Oudheidkundige Dienst sangat fundamental: menyelamatkan situs dari kehancuran alam. Pekerjaan ini berfokus pada dua area utama yang disebutkan dalam keyword: pembersihan vegetasi dan penggalian sistematis.

Pembersihan Lumut, Gulma, dan Vegetasi Perusak

Vegetasi adalah musuh utama batu candi tropis. Di iklim lembap Indonesia, alga, lumut, jamur, dan tumbuhan parasit dapat tumbuh dengan cepat, menutupi relief, dan yang paling penting, merusak struktur batu.

  • Kerusakan Fisik dan Kimiawi: Lumut dan liken mengeluarkan asam humat yang secara perlahan mengikis permukaan batu. Selain itu, perakaran pohon besar dapat menembus sela-sela batu, memperlebar retakan, dan menyebabkan blok batu bergeser atau jatuh—fenomena yang lazim dijumpai di Borobudur dan Prambanan.
  • Teknik Pembersihan Awal: Pada periode kolonial awal, metode pembersihan cenderung bersifat mekanis. Pekerja pribumi (sering kali tanpa pelatihan khusus) menggunakan sikat, pahat, dan air untuk membersihkan permukaan. Dokumentasi menunjukkan penggunaan air panas atau larutan kimia sederhana, meskipun sering kali tanpa pemahaman penuh mengenai dampak jangka panjangnya terhadap jenis batu vulkanik (misalnya andesit) yang digunakan.
  • Tujuan Estetika dan Struktural: Pembersihan ini bukan hanya bertujuan mengembalikan penampilan asli candi (estetika), tetapi juga untuk memungkinkan insinyur menginspeksi kerusakan struktural di bawah lapisan biologis tersebut. Setelah lumut dibersihkan, peta kerusakan bisa dibuat, yang menjadi dasar perencanaan restorasi yang lebih ambisius.

Strategi Penggalian dan Penemuan Kembali Area Sekitar

Mayoritas situs kuno ditemukan dalam keadaan terkubur atau tertutup timbunan tanah dan puing-puing, entah karena aktivitas vulkanik (seperti di Borobudur), banjir, atau pengabaian selama berabad-abad. Oleh karena itu, penggalian adalah langkah krusial dalam upaya konservasi dan restorasi situs dimulai pada periode kolonial, termasuk pembersihan lumut dan penggalian area sekitarnya.

Penggalian oleh OD memiliki beberapa tujuan strategis:

  1. Menemukan Batu yang Hilang: Ribuan blok batu telah jatuh dari struktur utama. Penggalian area di sekitar candi dilakukan secara metodis untuk menemukan batu-batu ini, yang kemudian dikatalogkan dan dicoba untuk dikembalikan ke posisi semula (teknik anastylose).
  2. Memahami Tata Letak Situs: Penggalian membantu menentukan batas asli kompleks candi, menemukan pondasi bangunan-bangunan pendukung (seperti perwara atau gapura), dan memahami sistem drainase kuno.
  3. Stabilisasi Pondasi: Untuk candi yang didirikan di atas tanah rawa atau bukit yang tidak stabil, penggalian area dasar sering kali diikuti dengan pekerjaan teknik sipil untuk memperkuat pondasi, seperti yang dilakukan Van Erp di Borobudur dengan memasukkan beton atau sistem pengairan baru.

Tantangan Dokumentasi dan Klasifikasi

Salah satu kontribusi terbesar dari periode kolonial adalah standarisasi dokumentasi. Para ahli Belanda menyadari bahwa setiap batu yang dipindahkan atau digali harus dicatat dengan akurat. Hal ini melahirkan metode katalogisasi yang rumit, menggunakan sistem penomoran dan pemetaan yang detail.

Meskipun alat ukur modern belum tersedia, ketelitian dalam membuat gambar teknik, foto, dan deskripsi tekstual membantu generasi konservator berikutnya memahami status asli situs sebelum intervensi restorasi. Kumpulan data ini—yang kini menjadi arsip vital Balai Konservasi—adalah bukti pengalaman dan otoritas yang terbentuk pada era tersebut.

Studi Kasus Kolonial: Restorasi Candi Borobudur oleh Van Erp

Tidak ada pembahasan mengenai konservasi kolonial yang lengkap tanpa menyinggung restorasi Borobudur yang monumental yang dipimpin oleh Letnan Kolonel (Insinyur) Th. van Erp antara tahun 1907 dan 1911. Proyek ini adalah manifestasi paling ambisius dari upaya konservasi dan restorasi situs dimulai pada periode kolonial.

Skala Proyek dan Inovasi Teknis

Borobudur saat itu berada dalam kondisi kritis. Tingkat ketiga dan keempatnya mulai miring, dan stupa-stupa kecil di teras bundar berada dalam risiko ambruk. Masalah utamanya adalah air: drainase yang buruk menyebabkan air meresap ke dalam pondasi dan mengisi sel-sel di dalam teras, menyebabkan tekanan hidrostatik dan pertumbuhan tanaman yang parah.

Langkah-langkah kunci restorasi Van Erp meliputi:

  • Pembongkaran Struktural Parsial: Van Erp membongkar sebagian teras bundar dan stupa untuk memperbaiki sistem drainase internal.
  • Penguatan Pondasi: Struktur pondasi diperkuat dengan material modern (semen dan beton) untuk pertama kalinya, sebuah keputusan kontroversial tetapi pragmatis untuk menghentikan kemiringan candi.
  • Pembersihan Ekstensif: Seluruh permukaan relief dan patung dibersihkan secara intensif dari lumut, kotoran, dan jamur. Van Erp bahkan menutupi stupa induk dengan timah hitam (sebelumnya dianggap perunggu) sebagai upaya perlindungan dari cuaca.

Kritik Terhadap Pendekatan Awal

Meskipun restorasi Van Erp menyelamatkan Borobudur dari keruntuhan yang segera, pendekatannya tidak lepas dari kritik berdasarkan standar konservasi kontemporer:

  1. Penggunaan Semen: Penggunaan semen Portland dalam skala besar terbukti tidak kompatibel dengan batu andesit. Semen memiliki sifat kapiler yang berbeda, menarik air, dan mempercepat pelapukan batu asli (salting), yang akhirnya harus diperbaiki dalam restorasi UNESCO pada tahun 1970-an.
  2. Terlalu Berani: Van Erp sering kali membuat rekonstruksi berdasarkan asumsi, bukan bukti arkeologis. Beberapa bagian, seperti bentuk stupa induk, direkonstruksi berdasarkan interpretasi arsitektur Belanda pada saat itu.
  3. Kurangnya Respek terhadap Lapisan Historis: Fokus utama adalah mengembalikan kemegahan candi, kadang-kadang dengan mengorbankan konteks arkeologis sekitarnya yang mungkin hilang selama pembersihan dan penggalian massal.

Pembentukan Lembaga Resmi: Peran Oudheidkundige Dienst (OD)

Terlepas dari kekurangan metode awal, pembentukan OD pada tahun 1913 adalah titik balik yang menentukan. Lembaga ini memberikan kerangka kerja hukum dan administrasi yang diperlukan untuk melanjutkan upaya pelestarian yang sistematis, melampaui kepentingan pribadi para sarjana.

Standardisasi Prosedur Konservasi

OD mulai menyusun undang-undang dan peraturan pertama mengenai cagar budaya di Hindia Belanda. Ini mencakup:

  • Inventarisasi Nasional: Menyusun daftar resmi situs-situs bersejarah yang dilindungi.
  • Pelatihan Tenaga Lokal: Meskipun posisi puncak dipegang oleh orang Belanda, OD mulai merekrut dan melatih tenaga kerja pribumi yang ahli dalam pembersihan, penggalian, dan penataan batu.
  • Pengawasan Ekskavasi: Setiap penggalian, yang merupakan bagian integral dari upaya konservasi dan restorasi situs dimulai pada periode kolonial, harus diawasi ketat dan dilaporkan secara berkala, mengurangi risiko penjarahan artefak.

Salah satu proyek konservasi sukses OD lainnya adalah di Candi Prambanan. Meskipun Prambanan hancur lebih parah daripada Borobudur akibat gempa dan erosi, OD berhasil melakukan identifikasi, pemetaan, dan penataan ribuan batu lepas. Proses penggalian di area sekitarnya berhasil menemukan kembali sebagian besar batu yang diperlukan untuk memulai restorasi candi Siwa yang ambisius.

Warisan dan Pondasi Arkeologi Indonesia Modern

Ketika Indonesia merdeka, OD bertransformasi menjadi Dinas Purbakala Republik Indonesia (kemudian menjadi berbagai lembaga di bawah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan). Warisan terbesar yang ditinggalkan era kolonial adalah fondasi ilmu pengetahuan yang kokoh.

Indonesia mewarisi ribuan dokumen, foto, peta, dan metodologi kerja yang sangat berharga. Prinsip-prinsip dasar yang diterapkan dalam pembersihan dan penggalian—meskipun disempurnakan seiring waktu—tetap menjadi tulang punggung praktik konservasi modern, seperti pentingnya dokumentasi in-situ dan penggunaan anastilosis (penyusunan kembali) sebagai prinsip utama restorasi.

Dampak Jangka Panjang dan Pelajaran dari Era Kolonial

Konservasi kolonial adalah kisah tentang niat baik yang bercampur dengan keterbatasan teknologi dan bias budaya. Keberhasilan dalam membersihkan vegetasi dan menggali kembali situs-situs raksasa memungkinkan dunia melihat kembali kemegahan peradaban masa lalu Indonesia. Namun, pelajaran yang dipetik sangatlah penting bagi konservator modern.

Tantangan Konservasi Batu di Iklim Tropis

Era kolonial mengajarkan betapa sulitnya melestarikan struktur batu di lingkungan tropis. Pembersihan lumut dan penggalian area sekitarnya adalah pekerjaan tanpa akhir. Setelah membersihkan candi, kolonialisme menyadari bahwa masalah akan kembali dalam beberapa tahun. Hal ini memaksa pengembangan strategi jangka panjang, yang kini berfokus pada pencegahan biologis (bio-konservasi) daripada sekadar pembersihan agresif.

Etika Konservasi

Saat ini, etika konservasi sangat menekankan reversibilitas, penggunaan bahan yang kompatibel, dan minimalisasi intervensi. Ini adalah reaksi langsung terhadap pendekatan “rekonstruksi total” yang kadang-kadang diterapkan oleh insinyur kolonial.

  • Reversibilitas: Para konservator modern berusaha memastikan bahwa semua perbaikan yang mereka lakukan dapat dibatalkan di masa depan tanpa merusak bahan asli.
  • Penghargaan terhadap Konteks: Penggalian saat ini jauh lebih hati-hati, memastikan bahwa konteks stratigrafi situs tidak hilang, yang sering terjadi pada penggalian kolonial yang berfokus pada penemuan artefak besar atau batu struktur.

Pengalaman dari Borobudur mengajarkan bahwa inovasi teknis harus diimbangi dengan pengetahuan material lokal. Proyek restorasi Borobudur kedua (1970–1983) adalah upaya besar untuk membatalkan kerusakan akibat semen kolonial dan menerapkan prinsip-prinsip konservasi modern.

Kesimpulan

Sejarah konservasi situs di Indonesia adalah cerminan dari interaksi kompleks antara warisan kuno, kekuasaan kolonial, dan ilmu pengetahuan. Fakta bahwa upaya konservasi dan restorasi situs dimulai pada periode kolonial, termasuk pembersihan lumut dan penggalian area sekitarnya, merupakan titik awal yang tidak terhindarkan untuk pelestarian cagar budaya di Nusantara.

Meskipun metode yang digunakan insinyur kolonial terkadang kasar, ambisi mereka untuk menyelamatkan warisan ini dari kehancuran alam sangatlah bernilai. Mereka berhasil menciptakan kerangka kerja institusional (OD) dan menyediakan dokumentasi yang sangat detail, yang menjadi fondasi bagi Balai Konservasi Indonesia hari ini. Dengan memahami sejarah upaya konservasi kolonial ini, kita dapat menghargai tantangan yang dihadapi para pendahulu dan terus menyempurnakan strategi pelestarian warisan budaya bangsa yang tak ternilai harganya.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.