Barong Mongah: Senjata Kultural dan Alat Legitimasi Perlawanan terhadap Monopoli Belanda

Subrata
12, Februari, 2026, 08:43:00
Barong Mongah: Senjata Kultural dan Alat Legitimasi Perlawanan terhadap Monopoli Belanda

Barong Mongah: Senjata Kultural dan Alat Legitimasi Perlawanan terhadap Monopoli Belanda

Dalam narasi panjang sejarah Indonesia, perlawanan terhadap kolonialisme Belanda seringkali disajikan melalui lensa perang fisik dan diplomasi politik. Namun, di balik barisan senjata dan meja perundingan, terdapat medan perang kultural yang jauh lebih mendalam, di mana simbol-simbol tradisi menjadi katalisator bagi mobilisasi massa. Salah satu fenomena kultural yang paling menarik dan jarang dikaji adalah peran Barong Mongah sebagai Alat Legitimasi Perlawanan Terhadap Kebijakan Monopoli Belanda.

Barong Mongah, sebuah entitas simbolik yang mewakili keberanian, kemarahan ilahi, dan kekuatan alam yang tak terkendali, bukan sekadar kesenian rakyat. Ia adalah teknologi sosial-politik yang digunakan oleh masyarakat pribumi—terutama di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah—untuk menyublimasikan frustrasi, memobilisasi kekuatan spiritual, dan yang terpenting, memberikan legitimasi moral dan ilahi atas tindakan pemberontakan yang oleh rezim kolonial dianggap sebagai kriminalitas. Artikel ini akan menganalisis bagaimana simbolisme Mongah diangkat dari panggung seni rakyat menjadi standar perang spiritual yang efektif melawan hegemoni ekonomi dan politik VOC maupun Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Kebijakan Monopoli Belanda: Akar Penderitaan dan Krisis Legitimasi Kolonial

Untuk memahami mengapa simbol seperti Barong Mongah menjadi begitu vital, kita harus menilik kembali kekejaman struktural yang ditimbulkan oleh kebijakan monopoli Belanda. Sejak VOC hingga era Hindia Belanda, tujuan utama kebijakan ekonomi adalah eksploitasi sumber daya dengan mengorbankan kesejahteraan petani dan penguasa lokal.

Sistem Tanam Paksa dan Cekikan Ekonomi

Penerapan Cultuurstelsel (Tanam Paksa) pada tahun 1830 dan ekspansi sistem perkebunan swasta (liberal) pada paruh kedua abad ke-19 adalah manifestasi nyata dari kebijakan monopoli. Kebijakan ini mewajibkan petani menanam komoditas ekspor (kopi, gula, nila) yang harganya ditetapkan sepihak, seringkali jauh di bawah nilai pasar. Ini bukan sekadar penindasan ekonomi; ini adalah perampasan hak asasi rakyat untuk menentukan nasib dan penghidupan mereka sendiri. Konsekuensinya:

  • Kemiskinan struktural yang meluas.
  • Ketergantungan total petani terhadap sistem birokrasi kolonial.
  • Kelaparan dan epidemi sebagai akibat gagal panen pangan.

Krisis ekonomi ini menimbulkan krisis legitimasi ganda. Bagi Belanda, mereka adalah penguasa sah. Bagi rakyat, penguasa kolonial telah melanggar prinsip keadilan kosmis (dharma), menciptakan kebutuhan mendesak akan intervensi kekuatan ilahi untuk memulihkan tatanan.

Degradasi Otoritas Tradisional

Kebijakan monopoli juga didukung oleh perombakan struktur kekuasaan tradisional. Raja, Sultan, atau Bupati dipaksa menjadi perpanjangan tangan birokrasi kolonial, kehilangan otoritas spiritual dan moral mereka di mata rakyat. Ketika otoritas sekuler dan spiritual gagal melindungi rakyat, simbol-simbol perlawanan harus muncul dari akar budaya itu sendiri—di sinilah Barong, yang merupakan penjaga tatanan kosmis, mengambil peran ‘Mongah’ atau ‘mengamuk’.

Barong Mongah: Definisi, Simbolisme, dan Konteks Perlawanan

Untuk konteks historis Jawa, Barong Mongah harus dipahami sebagai personifikasi semangat perlawanan kolektif yang mencapai titik didih. Istilah ‘Barong’ merujuk pada sosok mitologis atau binatang buas yang disakralkan, sering dikaitkan dengan pelindung desa dan penyeimbang kosmis. Sementara ‘Mongah’ secara literal berarti marah, mengamuk, atau memberontak dengan kemarahan yang tak tertahankan.

Barong Mongah sebagai Alat Legitimasi Perlawanan Terhadap Kebijakan Monopoli Belanda berfungsi sebagai titik fokus spiritual yang mengubah protes sosial menjadi jihad atau perang suci melawan ketidakadilan.

Melampaui Sekadar Kesenian: Barong sebagai Manifestasi Kekuatan

Dalam kebudayaan Jawa dan Sunda, pertunjukan Barong tidak hanya sekadar hiburan; ia adalah ritual yang mengandung kekuatan magis. Ketika Barong dipentaskan dalam konteks perlawanan, ia menyerap dan memproyeksikan kekuatan massa yang marah. Ia menjadi:

  1. Simbol Anarki Terkendali: Barong yang mengamuk mewakili pembalasan alam atas pelanggaran hegemoni kolonial.
  2. Wadah Trance dan Kekebalan: Ritual Barong sering melibatkan kerasukan (trance), di mana para pelaku merasa kebal terhadap senjata musuh (Belanda), meningkatkan keberanian militer mereka secara psikologis.
  3. Ikon Kuno yang Abadi: Barong mengaitkan perlawanan kontemporer dengan masa lalu mitologis, menyiratkan bahwa perjuangan ini adalah bagian dari takdir kosmis, bukan sekadar pemberontakan politik sesaat.

Konsep ‘Mongah’ dalam Spiritualitas Jawa/Sunda

‘Mongah’ tidaklah sama dengan kemarahan biasa. Ia adalah luapan kekuatan purba yang hanya dilepaskan ketika tatanan semesta (jagad) terancam. Dalam konteks kolonial, ancaman tersebut diwujudkan oleh kebijakan monopoli yang merusak keharmonisan agraria dan moral. Dengan mempersonifikasikan Barong sebagai ‘Mongah’, para pemimpin perlawanan (Kyai atau tokoh lokal) berhasil:

  • Menciptakan citra musuh (Belanda) sebagai kekuatan anti-kosmis yang harus dihancurkan.
  • Menyucikan niat para pejuang. Jika Barong, pelindung sakral, telah ‘mengamuk’, maka tindakan kekerasan melawan penindas adalah perintah ilahi, bukan pilihan pribadi.

Strategi Legitimasi: Bagaimana Barong Mongah Memobilisasi Massa

Barong Mongah adalah instrumen utama dalam strategi counter-hegemony. Ia bekerja pada tingkat psikologis, spiritual, dan sosial untuk membalikkan narasi kolonial yang mengklaim superioritas peradaban dan militer.

Mengubah Ketakutan Menjadi Keberanian Ilahi

Salah satu hambatan terbesar dalam perlawanan massal adalah rasa takut terhadap kekuatan militer modern Belanda. Barong Mongah mengatasi ketakutan ini melalui ritual yang meyakinkan partisipan bahwa mereka dilindungi oleh kekuatan yang jauh lebih besar daripada senapan dan meriam kolonial.

Legitimasi perlawanan ini tidak lagi berasal dari surat perintah raja yang telah tunduk kepada Belanda, melainkan dari manifestasi kekuatan spiritual rakyat itu sendiri. Ketika Barong ‘mongah’ di hadapan massa, itu adalah janji perlindungan: peluru tidak akan mempan, dan kemenangan sudah ditakdirkan.

Fenomena ini terlihat jelas dalam berbagai gerakan mesianis dan pemberontakan petani di Jawa pada abad ke-19 dan awal abad ke-20, di mana benda-benda pusaka, mantra, dan performa Barong sering mendahului atau menyertai serangan terhadap pos-pos Belanda atau pabrik-pabrik gula hasil monopoli.

Pemersatu Identitas Komunal dan Penghancur Dualisme Kekuasaan

Kebijakan monopoli Belanda sering berhasil karena memecah belah komunitas dan mengadu domba elit lokal. Barong Mongah, sebagai simbol komunal yang dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat (petani, buruh, santri, abangan), berhasil meruntuhkan batas-batas tersebut. Beberapa fungsi pemersatu Barong Mongah meliputi:

  1. Bahasa Perlawanan Universal: Simbol Barong mudah dipahami dan melampaui hambatan literasi, memastikan bahwa pesan perlawanan tersebar luas dan cepat.
  2. Pusat Kumpul Ritual: Pertunjukan Barong berfungsi sebagai pertemuan rahasia di bawah kedok seni, tempat rencana perlawanan didiskusikan dan diresapi dengan semangat kolektif.
  3. Sertifikat Kehormatan: Mereka yang berada di bawah panji Barong Mongah diberi status pejuang suci (mujahidin atau wong bener), yang meningkatkan komitmen mereka dibandingkan sekadar menjadi pemberontak politik.

Studi Kasus Historis: Barong Mongah di Wilayah Tapal Kuda Jawa Timur

Di wilayah Tapal Kuda (misalnya Jember, Banyuwangi), di mana kebijakan monopoli perkebunan sangat menindas, Barong (khususnya varian Jaranan Buto atau Barong Osing) sering kali menjadi bagian integral dari gerakan protes agraria. Meskipun tidak selalu disebut spesifik ‘Barong Mongah’ dalam catatan Belanda, karakteristik performanya—agresif, menantang, dan dipimpin oleh tokoh karismatik yang mengklaim mandat spiritual—jelas mencerminkan semangat ‘Mongah’.

Para peneliti mencatat bahwa ketika pajak terlalu tinggi atau tanah dirampas untuk tebu, pertunjukan Barong tiba-tiba berubah menjadi demonstrasi kekuatan supernatural. Ini adalah upaya final untuk menegaskan bahwa kedaulatan atas tanah bukan milik rezim kolonial dan kebijakan monopolinya, melainkan milik roh leluhur dan kekuatan alam yang diwakili oleh Barong.

Keberhasilan strategis Barong Mongah terletak pada kemampuannya mengalihkan narasi dari 'kejahatan' (pemberontakan sipil) menjadi 'tugas sakral' (memulihkan tatanan kosmis). Ini adalah legitimasi yang tak dapat dibantah oleh hukum kolonial.

Reaksi Kolonial dan Kriminalisasi Budaya

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sangat menyadari bahaya yang ditimbulkan oleh simbolisme yang terorganisasi seperti Barong Mongah sebagai Alat Legitimasi Perlawanan Terhadap Kebijakan Monopoli Belanda. Reaksi mereka pun bersifat ganda: represif secara fisik dan delegitimasi secara kultural.

Perspektif Belanda: Kriminalisasi Budaya

Dalam laporan-laporan kolonial, setiap perlawanan yang didukung oleh ritual budaya atau klaim spiritual selalu dikategorikan sebagai 'fanatisme', 'pemberontakan bandit', atau 'tindakan tak beradab'. Tujuannya adalah untuk menafikan legitimasi moral perlawanan tersebut.

  • Pelarangan Ritual: Belanda sering melarang pertunjukan kesenian rakyat yang dianggap terlalu mengandung unsur mistis atau dapat memobilisasi massa, terutama di wilayah-wilayah yang rentan terhadap agitasi anti-monopoli.
  • Penangkapan Pemimpin Kultural: Para dalang, Kyai, atau tokoh yang menjadi pusat ritual Barong sering ditangkap dan diasingkan, dianggap sebagai provokator politik.

Represi ini membuktikan bahwa Belanda tidak hanya takut pada massa yang marah, tetapi juga takut pada legitimasi spiritual yang diberikan oleh simbol-simbol seperti Barong Mongah, yang secara efektif menantang klaim kekuasaan absolut kolonial.

Warisan Barong Mongah dalam Historiografi Perlawanan

Meskipun gerakan perlawanan berbasis kultural ini sering kali berakhir dengan kekalahan militer karena ketidakseimbangan teknologi persenjataan, dampak jangka panjangnya terhadap semangat nasionalisme sangat signifikan. Barong Mongah meninggalkan warisan penting dalam cara kita memahami resistensi pribumi.

Resiliensi Budaya dan Kelanjutan Semangat

Bahkan setelah perlawanan fisik berhasil dipadamkan, semangat ‘Mongah’ tidak pernah mati. Ia tersimpan dalam memori kolektif dan terus dimanifestasikan dalam seni, cerita rakyat, dan gerakan politik yang muncul kemudian.

Barong Mongah mengajarkan bahwa perlawanan bukan hanya tentang merebut kekuasaan, tetapi juga tentang merebut kembali narasi dan martabat yang dirampas oleh rezim kolonial. Mereka menunjukkan bahwa, di tengah kebijakan monopoli yang merusak, masyarakat pribumi memiliki mekanisme adaptif yang kuat untuk menciptakan legitimasi tandingan (counter-legitimacy) melalui kekayaan budaya mereka.

Kisah Barong Mongah menegaskan bahwa politik dan spiritualitas adalah dua sisi mata uang yang sama dalam konteks pra-nasionalisme Indonesia, dan bahwa simbol budaya bisa menjadi senjata yang jauh lebih tajam dan tahan lama daripada pedang.

Kesimpulan Akhir

Sejarah perlawanan terhadap kolonialisme Belanda penuh dengan kisah heroisme yang bersumber dari kekayaan budaya lokal. Barong Mongah sebagai Alat Legitimasi Perlawanan Terhadap Kebijakan Monopoli Belanda bukan sekadar catatan kaki sejarah; ia adalah studi kasus penting tentang bagaimana rakyat yang tertindas menggunakan modal kultural dan spiritual mereka untuk membalikkan krisis legitimasi yang ditimbulkan oleh penindasan ekonomi.

Dengan mempersonifikasikan kemarahan kolektif sebagai entitas ilahi yang mengamuk (Mongah), masyarakat berhasil mengubah tindakan yang dianggap 'kriminal' oleh Belanda menjadi perang suci yang sah di mata moral dan spiritual. Ini memungkinkan mobilisasi massa, pemupukan keberanian, dan penanaman benih kesadaran kolektif yang kemudian akan menjadi pondasi bagi gerakan nasionalis modern.

Pada akhirnya, Barong Mongah mengingatkan kita bahwa kekuatan sejati suatu bangsa terletak pada kemampuannya untuk menemukan senjata terkuatnya—bukan di pabrik senjata, tetapi di jantung tradisi, simbol, dan semangat pantang menyerah.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.