Inskripsi Kedukan Bukit (683 M): Penanda Pembentukan Kerajaan Sriwijaya dan Ekspedisi Siddhayatra

Subrata
05, Februari, 2026, 08:03:00
Inskripsi Kedukan Bukit (683 M): Penanda Pembentukan Kerajaan Sriwijaya dan Ekspedisi Siddhayatra

Inskripsi Kedukan Bukit (683 M): Penanda Pembentukan Kerajaan Sriwijaya dan Ekspedisi Siddhayatra

Di antara seluruh artefak sejarah yang terpendam di bumi Nusantara, beberapa memiliki kekuatan monumental untuk mengubah narasi masa lalu kita. Salah satunya adalah Inskripsi Kedukan Bukit (683 M). Bagi para sejarawan dan pengamat arkeologi, batu kecil bertuliskan aksara Pallawa ini bukan sekadar peninggalan, melainkan proklamasi resmi yang menandai kelahiran salah satu kemaharajaan maritim terbesar di Asia Tenggara: Sriwijaya.

Ketika kita membahas asal-usul dan fondasi Sriwijaya, perhatian kita secara tak terhindarkan tertuju pada Palembang, Sumatera Selatan, tempat inskripsi ini ditemukan. Namun, signifikansi Kedukan Bukit jauh melampaui lokasi penemuannya. Ia berfungsi sebagai akta pendirian, memuat detail mengenai sebuah perjalanan suci dan militeristik—Ekspedisi Siddhayatra—yang dipimpin oleh tokoh pendiri Sriwijaya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa Inskripsi Kedukan Bukit dianggap sebagai dokumen paling krusial dalam sejarah awal Indonesia, menganalisis pesan tersembunyi di balik terminologi keagamaan, dan menilik perannya dalam proses pembentukan kerajaan yang menguasai jalur perdagangan Selat Malaka selama berabad-abad.

Mengurai Pesan Sakral Inskripsi Kedukan Bukit (683 M)

Ditemukan pada tahun 1920 oleh M. Batenburg di tepi Sungai Tatang, anak Sungai Musi, Inskripsi Kedukan Bukit berukuran kecil, sekitar 45 x 80 sentimeter, namun bobot historisnya sangatlah besar. Batu ini tidak hanya memberikan tanggal pasti (tahun 683 Masehi), tetapi juga memberikan konteks geopolitik dan spiritual yang menjadi landasan bagi Dinasti Sailendra.

Lokasi Penemuan dan Kondisi Fisik

Penemuan Inskripsi Kedukan Bukit di Palembang menegaskan pusat kekuasaan awal Sriwijaya berada di sekitar aliran Sungai Musi, area yang strategis untuk mengendalikan perdagangan pedalaman dan akses menuju lautan. Meskipun sudah mengalami pelapukan, teks pada prasasti ini masih dapat dibaca dan diterjemahkan dengan sangat baik, terutama berkat jasa interpretasi oleh para ahli filologi seperti George Coedès dan Johannes Gonda.

Bahasa dan Aksara: Jejak Melayu Kuno

Inskripsi ini ditulis menggunakan aksara Pallawa yang berasal dari India Selatan, namun bahasa yang digunakan sangatlah unik dan transformatif: Bahasa Melayu Kuno. Keberadaan Melayu Kuno dalam inskripsi resmi pada abad ke-7 ini memiliki implikasi besar:

  • Status Bahasa Resmi: Ini menunjukkan bahwa Melayu Kuno sudah menjadi bahasa komunikasi dan administrasi pemerintahan di wilayah tersebut, jauh sebelum ia diangkat menjadi Bahasa Indonesia modern.
  • Aksara Kuno: Penggunaan aksara Pallawa adalah bukti kuat pengaruh budaya India (terutama Hindu-Buddha) dalam sistem penulisan dan legitimasi kekuasaan kerajaan.
  • Kosa Kata Lokal: Meskipun tata bahasanya terpengaruh Sanskerta, banyak kata yang merupakan cikal bakal bahasa Melayu kontemporer, menunjukkan adanya proses akulturasi yang mendalam.

Ekspedisi Siddhayatra: Perjalanan Suci Penuh Keberuntungan

Bagian inti dari Inskripsi Kedukan Bukit adalah deskripsi mengenai ‘Siddhayatra’. Kata ini sering diterjemahkan sebagai ‘perjalanan yang berhasil/sukses’ atau ‘perjalanan suci/pengambilan berkah’. Teks prasasti mencatat bahwa pada hari pertama bulan terang Waisaka tahun 605 Saka (sekitar 23 April 683 M), Dapunta Hyang berangkat naik perahu (sampan) untuk melaksanakan Siddhayatra.

Dalam kurun waktu beberapa bulan, tepatnya pada tanggal 8 bulan Asadha (sekitar 16 Juni 683 M), Dapunta Hyang diceritakan telah kembali setelah menaklukkan ‘bhumi’ (wilayah) dan membawa 20.000 tentara. Keberhasilan ekspedisi ini kemudian dirayakan dengan didirikannya wanua (pemukiman atau benteng).

Makna Filosofis Siddhayatra dalam Konteks Sriwijaya

Siddhayatra mengandung dualisme makna yang kompleks, menggabungkan aspek spiritual dan militeristik. Di satu sisi, ia adalah perjalanan spiritual yang dipimpin oleh Dapunta Hyang (yang memiliki gelar keagamaan tinggi) untuk mencari berkah dan legitimasi kekuasaan dari dewa.

Di sisi lain, narasi 20.000 tentara yang kembali sukses menaklukkan wilayah menunjukkan bahwa Siddhayatra adalah sebuah kampanye militer yang sangat efektif. Para ahli menduga, perjalanan ini bertujuan untuk menguasai jalur perdagangan penting di wilayah Sumatera bagian selatan, yang vital bagi Sriwijaya untuk memproklamirkan dirinya sebagai kekuatan regional.

Keberhasilan Siddhayatra bukan hanya soal penaklukan, tetapi juga tentang pengabsahan Dapunta Hyang sebagai pemimpin yang diberkahi. Kemenangan ini memberikan dasar spiritual dan praktis bagi pembentukan kerajaan yang stabil.

Kronologi dan Tujuan Militeristik

Meskipun inskripsi ini tidak secara spesifik menyebutkan wilayah mana yang ditaklukkan, kronologi dua bulan perjalanan memberikan petunjuk:

  1. Awal April (683 M): Dapunta Hyang berangkat dari Menanga Tamwan (lokasi yang masih diperdebatkan, diperkirakan Muara Takus atau pertemuan dua sungai).
  2. Juni (683 M): Kedatangan kembali dengan pasukan besar dan keberhasilan penaklukan.

Para sejarawan cenderung berpendapat bahwa tujuan ekspedisi ini adalah untuk mengintegrasikan wilayah-wilayah kecil yang sebelumnya independen atau menguasai titik-titik strategis seperti Jambi atau pesisir Bangka, demi mengamankan basis ekonomi Sriwijaya.

Penetapan Wanua: Fondasi Pembentukan Kekuatan Sriwijaya

Salah satu poin paling krusial yang diumumkan oleh Inskripsi Kedukan Bukit adalah penetapan wanua. Istilah wanua sering diartikan sebagai desa, pemukiman, atau bahkan kota benteng. Penetapan wanua ini adalah hasil langsung dari keberhasilan Siddhayatra dan menandai titik balik dari sebuah pemukiman kecil menjadi pusat kekuasaan (kerajaan).

Teks prasasti selanjutnya berisi doa dan kutukan. Doa bagi mereka yang setia kepada Dapunta Hyang dan kutukan mengerikan bagi siapa pun yang mencoba merusak wanua tersebut. Ini adalah indikasi formal bahwa kekuasaan telah didirikan dan harus dihormati—sebuah ciri khas dari pembentukan negara atau kerajaan yang berdaulat.

Peran Dapunta Hyang Sri Jayanasa

Dapunta Hyang Sri Jayanasa, yang namanya abadi dalam prasasti ini, diyakini sebagai pendiri sekaligus raja pertama Sriwijaya. Gelar 'Dapunta Hyang' menyiratkan otoritas spiritual dan politis yang tinggi. Kehadirannya sebagai pemimpin Ekspedisi Siddhayatra memastikan bahwa legitimasi kekuasaan Sriwijaya bersifat ilahiah (diberkahi) sekaligus militeristik (kuat).

Inskripsi ini memberikan bukti otentik mengenai kedaulatan, wilayah, dan figur pemimpin pada periode paling awal Sriwijaya, menjadikannya salah satu dokumen terpenting dalam sejarah Asia Tenggara.

Hubungan Kedukan Bukit dengan Inskripsi Talang Tuo dan Kota Kapur

Untuk memahami sepenuhnya Kedukan Bukit, kita harus melihatnya dalam konteks ‘Prasasti Persumpahan Sriwijaya’ yang lain, yang semuanya berasal dari periode yang sangat dekat (683–686 M):

1. Prasasti Talang Tuo (684 M)

Ditemukan di dekat Palembang setahun setelah Kedukan Bukit. Prasasti ini mencatat pendirian taman yang disebut Śrīkṣetra oleh Dapunta Hyang. Isinya berfokus pada Buddhisme, khususnya Mahayana, dan memuat doa-doa untuk kesejahteraan semua makhluk hidup. Talang Tuo melengkapi Kedukan Bukit dengan menunjukkan aspek spiritual dan kesejahteraan publik dari kepemimpinan Sri Jayanasa.

2. Prasasti Kota Kapur (686 M)

Ditemukan di Pulau Bangka. Prasasti ini berisi kutukan yang jauh lebih keras, ditujukan kepada mereka yang memberontak atau tidak mengakui kekuasaan Sriwijaya. Prasasti Kota Kapur memberikan bukti bahwa pada tahun 686 M, Sriwijaya sedang gencar melakukan ekspansi militer atau menghadapi pemberontakan, menunjukkan bahwa Ekspedisi Siddhayatra di Kedukan Bukit hanyalah awal dari serangkaian konsolidasi kekuasaan.

Ketiga prasasti ini, yang dikenal sebagai 'Prasasti Tahun Tua Sriwijaya', secara kolektif melukiskan gambaran yang kohesif mengenai bagaimana Sriwijaya didirikan, bagaimana ia melegitimasi kekuasaannya (melalui agama dan militer), dan bagaimana ia mulai melakukan ekspansi regional dalam waktu tiga tahun.

Dampak Jangka Panjang: Warisan Kedukan Bukit bagi Nusantara

Sebagai dokumen tertua yang mendeskripsikan secara eksplisit tindakan pendirian negara di Nusantara, Inskripsi Kedukan Bukit menawarkan lebih dari sekadar data sejarah. Ia memberikan fondasi bagi pemahaman kita tentang evolusi peradaban Melayu dan maritim.

Kebangkitan Bahasa Melayu Kuno

Kehadiran Melayu Kuno sebagai bahasa resmi tertulis pada tahun 683 M adalah tonggak sejarah yang tak terbantahkan. Hal ini menegaskan bahwa Melayu Kuno sudah menjadi lingua franca di Selat Malaka. Sejak saat itu, bahasa Melayu terus berkembang dan menyebar berkat dominasi Sriwijaya dalam perdagangan dan pendidikan, yang akhirnya menjadi dasar bagi Bahasa Indonesia modern. Inskripsi ini adalah bukti paling awal dari peran sentral bahasa Melayu dalam geopolitik regional.

Bukti Otentik Awal Mula Maritim Indonesia

Narasi tentang Dapunta Hyang yang berangkat dengan perahu dan kembali dengan 20.000 tentara menekankan dimensi maritim Sriwijaya. Kekuatan ini tidak didasarkan pada pertanian semata, melainkan pada penguasaan lautan, pelayaran, dan perdagangan. Kedukan Bukit mengukuhkan identitas Sriwijaya sebagai kerajaan maritim pertama yang terorganisir di wilayah ini.

Fokus pada Ekspedisi Siddhayatra menyoroti pentingnya jalur pelayaran dalam strategi pembentukan kerajaan. Mereka tidak hanya menaklukkan daratan, tetapi juga mengamankan rute air, yang merupakan urat nadi ekonomi Asia kuno.

Mengapa Inskripsi Kedukan Bukit Relevan Hingga Hari Ini?

Inskripsi ini memberikan jawaban definitif atas pertanyaan: Kapan dan bagaimana Sriwijaya lahir? Sebelum penemuannya, Sriwijaya hanyalah nama yang dikenal dari catatan Tiongkok (Shih-li-fo-shih). Kedukan Bukit memberikan suara otentik dari dalam kerajaan itu sendiri.

Nilai keahlian (EEAT) dalam memahami sejarah ini terletak pada kemampuan untuk membedakan antara mitos dan catatan sejarah yang dikuatkan oleh bukti fisik. Kedukan Bukit adalah bukti fisik yang paling kuat dari fondasi kekuasaan di Sumatera.

Pelajaran yang dapat dipetik dari inskripsi ini adalah model bagaimana sebuah entitas politik dapat menggunakan kombinasi legitimasi spiritual (Siddhayatra), kekuatan militer (20.000 tentara), dan administrasi terpusat (penetapan wanua) untuk melakukan pembentukan kerajaan yang bertahan ratusan tahun.

Dalam konteks modern, narasi ini mengajarkan tentang pentingnya visi kepemimpinan (Dapunta Hyang) dan kemampuan untuk mengintegrasikan berbagai kekuatan (militer, spiritual, bahasa) demi mencapai kedaulatan regional.

Kesimpulan: Manifestasi Kedaulatan Sriwijaya

Inskripsi Kedukan Bukit (683 M) adalah titik nol dalam kronologi sejarah Sriwijaya. Lebih dari sekadar batu bertulis, ia adalah manifesto politik, spiritual, dan militer. Dokumentasi mengenai Ekspedisi Siddhayatra bukan hanya catatan perjalanan suci, melainkan kisah keberhasilan konsolidasi kekuatan Dapunta Hyang Sri Jayanasa dalam proses pembentukan kerajaan yang monumental.

Dengan memuat detail tanggal, tokoh, dan hasil penaklukan, Inskripsi Kedukan Bukit memberikan landasan kokoh bagi para sejarawan untuk merekonstruksi awal mula peradaban maritim Indonesia. Ia mengukuhkan Palembang sebagai pusat peradaban kuno yang berbahasa Melayu, dan menjadi saksi bisu kebangkitan salah satu kerajaan terbesar yang pernah menguasai Selat Malaka. Warisannya memastikan bahwa narasi kedaulatan dan identitas bangsa Indonesia berakar kuat pada pencapaian gemilang masa lampau.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.