Catatan Emas I-Tsing: Menyingkap Kunjungan Biksu Tiongkok dan Deskripsi Kehidupan Biara di Sriwijaya Abad Ke-7
- 1.
Latar Belakang dan Misi Perjalanan
- 2.
Perbedaan Fokus dengan Fa Xian dan Xuanzang
- 3.
Geopolitik dan Peran Sriwijaya sebagai Pusat Maritim
- 4.
Mengapa I-Tsing Memilih Sriwijaya untuk Studi Jangka Panjang?
- 5.
Kualitas Pendidikan dan Bahasa Pengantar
- 6.
Praktik Ritual dan Kepatuhan Vinaya (Disiplin Monastik)
- 7.
Struktur Monastik dan Hubungan dengan Kerajaan
- 8.
Sumber Utama Sejarah Nusantara yang Terlupakan
- 9.
Bukti Otentik Aliran Buddha di Sumatera
Table of Contents
Sejarah maritim Asia Tenggara kuno seringkali diselimuti kabut legenda dan interpretasi, namun ada beberapa pilar dokumentasi yang tetap kokoh memberikan kita pandangan jernih. Salah satu pilar terpenting tersebut adalah catatan perjalanan seorang biksu Tiongkok legendaris bernama I-Tsing (Yi Jing). Kunjungan Biksu Tiongkok I-Tsing ke Nusantara, khususnya Sriwijaya pada abad ke-7, bukan sekadar persinggahan, melainkan studi mendalam yang menghasilkan deskripsi terperinci tentang kehidupan biara di Sriwijaya, sebuah kerajaan maritim yang saat itu menjadi pusat intelektual Buddhisme kelas dunia.
Artikel ini akan membawa Anda menelusuri kembali jejak perjalanan I-Tsing, memahami mengapa Sriwijaya menjadi persinggahan wajib bagi para cendekiawan Buddha, dan membedah secara rinci bagaimana I-Tsing mendokumentasikan disiplin monastik, kurikulum, serta struktur sosial keagamaan yang berkembang pesat di jantung Sumatera. Catatan ini bukan hanya bernilai sejarah, tetapi merupakan bukti otentik supremasi kebudayaan Nusantara jauh sebelum era modern.
I-Tsing (Yi Jing): Sang Penjelajah, Penerjemah, dan Ahli Dharma
Ketika kita membicarakan penjelajah spiritual dari Tiongkok ke India (Tanah Suci Buddhisme), kebanyakan orang mungkin langsung teringat pada Fa Xian atau Xuanzang. Namun, I-Tsing, yang hidup sekitar dua abad setelah Fa Xian dan sejaman dengan Xuanzang, memiliki peran yang tak kalah monumental. Perjalanan I-Tsing berfokus pada jalur maritim dan memiliki tujuan yang sangat spesifik: mengumpulkan dan menerjemahkan teks-teks Vinaya Piṭaka—aturan disiplin monastik.
Latar Belakang dan Misi Perjalanan
Lahir di Qizhou, Tiongkok, pada tahun 635 Masehi, I-Tsing adalah seorang biksu yang sangat terobsesi dengan kemurnian praktik Buddhisme. Ia meyakini bahwa ajaran Buddha di Tiongkok telah menyimpang karena kekurangan teks-teks Vinaya yang asli dan lengkap. Pada usia 37 tahun (671 M), ia memulai perjalanannya, bukan melalui Jalur Sutra darat yang berbahaya, melainkan melalui jalur laut yang menantang, membawa kapal dari Guangzhou menuju Nusantara.
Misi utamanya dapat dirangkum dalam beberapa poin:
- Mengumpulkan Naskah Asli: Secara khusus mencari naskah-naskah Vinaya (aturan monastik) dari aliran Sarvāstivāda.
- Mempelajari Bahasa dan Ajaran: Menguasai bahasa Sanskerta dan Melayu Kuno untuk memfasilitasi penerjemahan.
- Mendokumentasikan Kehidupan Biara: Mencatat secara rinci praktik dan disiplin yang dijalankan di berbagai biara yang dikunjungi, memastikan standar keagamaan yang tinggi.
Perbedaan Fokus dengan Fa Xian dan Xuanzang
Meskipun ketiga biksu besar ini sama-sama melakukan perjalanan luar biasa, fokus I-Tsing berbeda. Fa Xian (awal abad ke-5) lebih fokus pada pencarian sutra-sutra Mahayana. Xuanzang (abad ke-7) fokus pada teks-teks Yogācāra dan filsafat, serta menghabiskan waktu di Nalanda sebagai mahasiswa dan guru terkemuka.
Sebaliknya, I-Tsing sangat pragmatis dan berorientasi pada disiplin (Vinaya). Ia tidak hanya mencari teks, tetapi juga mencari lingkungan di mana praktik Vinaya dijalankan dengan kemurnian tertinggi. Lingkungan inilah yang ia temukan, secara mengejutkan, di Sriwijaya.
Sriwijaya Abad ke-7: Jantung Pendidikan Buddha di Asia Tenggara
Saat I-Tsing tiba pada tahun 671 M, dan terutama dalam periode studinya yang panjang (685-695 M), Sriwijaya tidak hanya sekadar pelabuhan niaga besar. Kerajaan yang berpusat di sekitar Palembang modern ini telah bertransformasi menjadi pusat pembelajaran Buddha yang setara dengan Nalanda di India, setidaknya sebagai tempat persinggahan dan persiapan studi.
Geopolitik dan Peran Sriwijaya sebagai Pusat Maritim
Sriwijaya memanfaatkan posisi strategisnya di Selat Malaka, menjadikannya pengendali jalur perdagangan antara Tiongkok dan India. Kemakmuran ekonomi yang luar biasa ini memungkinkan para raja Sriwijaya (Dapunta Hyang Sri Jayanasa dan penerusnya) untuk mendanai pembangunan institusi keagamaan yang megah dan mendukung ribuan biksu.
I-Tsing mencatat bahwa Sriwijaya (disebutnya sebagai ‘Shih-li-fo-shih’ atau ‘Che-li-fo-che’) merupakan pusat di mana para biksu dari berbagai penjuru Asia berkumpul. Ini menunjukkan otoritas Sriwijaya tidak hanya di bidang politik dan ekonomi, tetapi juga di bidang spiritual dan intelektual.
Mengapa I-Tsing Memilih Sriwijaya untuk Studi Jangka Panjang?
Dalam catatannya, I-Tsing secara eksplisit merekomendasikan para biksu Tiongkok yang ingin belajar di India agar terlebih dahulu singgah dan menetap di Sriwijaya selama satu atau dua tahun. Mengapa demikian? Ada tiga alasan utama:
- Persiapan Bahasa Sanskerta: I-Tsing melihat Sriwijaya sebagai “Sekolah Bahasa” terbaik. Di sana, bahasa pengantar dan studi teks suci adalah Sanskerta, tetapi dengan lingkungan yang lebih kondusif bagi pelajar asing dibandingkan biara-biara di India yang padat.
- Standar Ajaran yang Tinggi: Ia memuji bahwa aturan dan praktik agama Buddha di Sriwijaya mengikuti standar yang sangat ketat, hampir identik dengan yang berlaku di Magadha, India.
- Ketersediaan Sumber Daya: Kerajaan mendukung penuh kegiatan monastik, menyediakan makanan, tempat tinggal, dan salinan naskah untuk dipelajari sebelum para biksu melanjutkan perjalanan mereka ke biara-biara besar di India (seperti Nalanda atau Bodh Gaya).
Deskripsi Detil I-Tsing tentang Kehidupan Biara di Sriwijaya
Inti dari warisan Kunjungan Biksu Tiongkok I-Tsing adalah deskripsinya yang hidup mengenai rutinitas sehari-hari di biara-biara Sriwijaya. Catatan ini, yang terhimpun dalam karyanya A Record of Buddhist Practices Sent Home from the Southern Sea (Nanhai Jigui Neifa Zhuan), memberikan kita potret yang sangat spesifik mengenai disiplin monastik.
Kualitas Pendidikan dan Bahasa Pengantar
I-Tsing mencatat bahwa pendidikan di biara Sriwijaya sangat mendalam dan sistematis. Sebelum mempelajari Vinaya atau sutra tingkat lanjut, para biksu harus menguasai serangkaian tata bahasa Sanskerta dasar, yang dikenal sebagai ‘lima ilmu pengetahuan’ (Pañca Vidyāsthāna).
- Tata Bahasa (Śabda-vidyā): Fokus pada studi Panini dan Vyakaraṇa (tata bahasa Sanskerta), yang merupakan fondasi untuk memahami teks-teks filosofis.
- Kurikulum: Setelah menguasai bahasa, mereka akan beralih ke Vinaya (disiplin) aliran Mūlasarvāstivāda, yang saat itu dominan di Nusantara. I-Tsing sendiri menghabiskan bertahun-tahun untuk menyalin dan menerjemahkan teks-teks Vinaya di sini.
- Jumlah Biksu: I-Tsing menyebutkan bahwa terdapat lebih dari 1000 biksu yang belajar di ibukota Sriwijaya, menunjukkan besarnya skala institusi pendidikan tersebut.
Fakta bahwa I-Tsing merekomendasikan Sriwijaya sebagai tempat untuk menghafal Sanskerta menunjukkan betapa tingginya tingkat literasi dan akademik di kerajaan tersebut—sebuah klaim yang jarang dijumpai dalam sejarah Asia Tenggara pra-modern.
Praktik Ritual dan Kepatuhan Vinaya (Disiplin Monastik)
Salah satu alasan utama kekaguman I-Tsing adalah kepatuhan ketat para biksu Sriwijaya terhadap Vinaya, aturan moral dan etika untuk komunitas monastik. Vinaya mengatur segala hal, mulai dari cara berpakaian, makan, hingga interaksi sosial.
Rutinitas Harian Biara
I-Tsing menjelaskan rutinitas yang sangat disiplin. Biara di Sriwijaya berfungsi sebagai unit yang mandiri, di mana biksu bangun sangat pagi, melakukan meditasi bersama, dan mengulangi pembacaan Sutra. Penekanan diletakkan pada:
- Pūjā (Persembahan): Dilakukan tiga kali sehari, dengan persembahan bunga dan dupa di hadapan relik atau patung Buddha.
- Pratimoksa (Pengakuan Dosa): Secara teratur, biasanya dua kali sebulan, biksu berkumpul untuk mengakui pelanggaran Vinaya yang mungkin mereka lakukan, memastikan kemurnian komunitas.
- Pakaian dan Makanan: Pakaian jubah (kāṣāya) harus sesuai dengan standar, dan makanan (biasanya bersumber dari donasi kerajaan atau rakyat) dimakan sesuai aturan, tanpa kemewahan.
Tingkat detail ini yang memungkinkan I-Tsing membandingkan praktik di Sriwijaya dengan tradisi biara di India, dan menyimpulkan bahwa tidak ada perbedaan mendasar dalam hal kemurnian ajaran.
Struktur Monastik dan Hubungan dengan Kerajaan
Dalam deskripsi kehidupan biara di Sriwijaya, I-Tsing juga mengisyaratkan adanya hubungan simbiotik antara Sangha (komunitas biksu) dan Kerajaan. Dukungan kerajaan tidak hanya bersifat finansial tetapi juga struktural.
- Patronase Kerajaan: Raja Sriwijaya berfungsi sebagai pelindung Dharma. Dukungan ini memastikan stabilitas ekonomi bagi para biksu yang mendedikasikan hidupnya pada studi dan praktik.
- Organisasi Biara: Struktur kepemimpinan biara harus sangat terorganisir untuk menampung ribuan biksu dan siswa dari berbagai negara. Meskipun I-Tsing tidak merinci jabatan administrasi tertentu, ia menunjukkan bahwa organisasi tersebut cukup efisien untuk menjaga disiplin akademik dan monastik selama bertahun-tahun.
Warisan Intelektual dari Catatan I-Tsing
Catatan I-Tsing tidak hanya menjadi jendela bagi Tiongkok untuk melihat perkembangan Buddhisme di Nanyang (Laut Selatan), tetapi juga merupakan dokumen sejarah primer yang tak ternilai harganya bagi Indonesia dan Asia Tenggara.
Sumber Utama Sejarah Nusantara yang Terlupakan
Tanpa catatan I-Tsing, pengetahuan kita tentang Sriwijaya di paruh kedua abad ke-7 akan sangat minim, hanya mengandalkan prasasti-prasasti batu berbahasa Melayu Kuno yang singkat. I-Tsing memberikan konteks:
- Lokasi Geografis: Ia mengkonfirmasi keberadaan dan posisi strategis Sriwijaya, Jambi (Mo-lo-yu), dan Kalinga (di Jawa).
- Keadaan Sosial Budaya: Ia menggarisbawahi identitas budaya Melayu Kuno (dikenal sebagai Kunlun) yang telah terintegrasi dengan agama Buddha Mahayana dan Hinayana (Sarvāstivāda).
- Jalur Pelayaran: Catatannya juga berfungsi sebagai panduan pelayaran kuno, merinci rute, waktu tempuh, dan bahaya yang dihadapi di sepanjang Selat Malaka.
Bukti Otentik Aliran Buddha di Sumatera
Catatan I-Tsing sangat membantu dalam mengidentifikasi aliran Buddhisme yang dominan di Sriwijaya. Meskipun kelak Sriwijaya dikenal sebagai pusat Mahayana (dengan guru terkenal Dharmakirti), pada masa Kunjungan Biksu Tiongkok I-Tsing, aliran Sarvāstivāda (salah satu cabang Hinayana) tampaknya masih sangat kuat dan menjadi fokus utama studi Vinaya.
Peran I-Tsing adalah sebagai 'jembatan' yang mempertemukan pengetahuan India dengan kebutuhan Tiongkok, menggunakan Sriwijaya sebagai basis transisi yang aman dan terpelajar. Ia kembali ke Tiongkok pada tahun 695 M setelah menghabiskan waktu total 25 tahun di perjalanan dan studi, membawa pulang ratusan jilid naskah Buddhis, yang sebagian besar ia terjemahkan di Sriwijaya dan Tiongkok.
Relevansi Historis Catatan I-Tsing bagi Indonesia Modern
Mengapa kisah I-Tsing masih relevan hari ini, lebih dari seribu tahun setelah ia menuliskan catatannya?
Kisah I-Tsing menawarkan sebuah narasi tandingan terhadap pandangan bahwa peradaban besar Nusantara hanya dimulai pada era Majapahit atau setelah masuknya Islam. I-Tsing memberikan kita bukti tak terbantahkan bahwa pada abad ke-7, kerajaan di wilayah yang sekarang menjadi Indonesia telah mencapai tingkat kecerdasan dan organisasi yang setara, bahkan melampaui, banyak peradaban lain di dunia saat itu.
Ini adalah pengakuan terhadap Indonesia sebagai:
- Pusat Intelektual Global: Sriwijaya adalah destinasi studi, bukan hanya sumber daya alam. Ia menunjukkan kemampuan bangsa ini dalam mengolah dan menyebarluaskan pengetahuan.
- Tradisi Toleransi dan Keterbukaan: Kehidupan biara yang ramai dengan biksu dari Tiongkok, India, Persia, dan berbagai wilayah Asia Tenggara membuktikan keterbukaan Sriwijaya terhadap berbagai budaya dan aliran pemikiran.
Pemahaman mendalam terhadap warisan I-Tsing membantu kita menghargai kedalaman akar sejarah dan kontribusi Indonesia pada peradaban dunia. Deskripsi kehidupan biara di Sriwijaya oleh I-Tsing adalah mahakarya yang menunjukkan bahwa Nusantara adalah raksasa maritim yang juga merupakan raksasa pengetahuan.
Kesimpulan: Cahaya Biara di Tengah Samudra
Perjalanan dan Kunjungan Biksu Tiongkok I-Tsing (Yi Jing) ke Sriwijaya bukan sekadar babak dalam sejarah agama Buddha. Itu adalah kesaksian tentang kemegahan sebuah peradaban maritim yang menjadikan pendidikan dan disiplin monastik sebagai inti kekuatannya. Dalam waktu yang ia habiskan, I-Tsing tidak hanya menyalin naskah Vinaya, tetapi juga menyalin gambaran utuh tentang bagaimana para biksu di biara Sriwijaya menjalani kehidupan mereka dengan kemurnian, ketaatan, dan ketekunan akademik yang luar biasa.
Catatan I-Tsing menegaskan posisi Sriwijaya sebagai Śrī-kṣetra (tanah suci) bagi pembelajaran di Asia Tenggara. Bagi kita yang hidup di Indonesia modern, catatan emas ini harus dijadikan pengingat bahwa warisan intelektual dan spiritual bangsa ini telah terbangun kokoh sejak berabad-abad yang lalu, didukung oleh standar keilmuan yang diakui oleh para cendekiawan global seperti I-Tsing.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.