Analisis Kritis Interpretasi Kolonial Belanda: Mengklasifikasikan Barong Mongah sebagai 'Pergerakan Fanatik'

Subrata
15, Februari, 2026, 08:01:00
Analisis Kritis Interpretasi Kolonial Belanda: Mengklasifikasikan Barong Mongah sebagai 'Pergerakan Fanatik'

Analisis Kritis Interpretasi Kolonial Belanda: Mengklasifikasikan Barong Mongah sebagai 'Pergerakan Fanatik'

Sejarah perlawanan di Nusantara sering kali diceritakan melalui kacamata yang tidak seimbang. Narasi yang dominan, terutama yang berasal dari arsip kolonial, berupaya menyederhanakan kompleksitas gerakan rakyat menjadi kategori-kategori yang mudah dikontrol dan dilegitimasi untuk penindasan. Salah satu contoh paling mencolok dari manipulasi semantik ini adalah ketika Interpretasi Kolonial Belanda: Mengklasifikasikan Barong Mongah sebagai 'Pergerakan Fanatik'. Label ‘fanatik’ ini bukan sekadar deskripsi, melainkan senjata politik yang bertujuan untuk mendiskreditkan motivasi, mengabaikan tuntutan rasional, dan membenarkan tindakan militer brutal.

Artikel ini akan membongkar bagaimana mekanisme wacana kolonial bekerja dalam mendefinisikan perlawanan. Kita akan mengulas siapa sejatinya Barong Mongah, faktor-faktor sosio-ekonomi yang mendorongnya, dan mengapa Pemerintah Kolonial Belanda—yang dikenal dengan obsesinya terhadap Rust en Orde (Ketenangan dan Ketertiban)—memilih label ‘fanatik’ ketimbang ‘patriotik’ atau ‘reaksioner’ untuk mengendalikan persepsi publik di dalam dan luar negeri. Pemahaman ini krusial untuk dekolonisasi historiografi Indonesia.

Lensa Kolonial: Mekanisme Dehumanisasi dan Kontrol Wacana

Dalam proyek kolonialisme, penguasaan wilayah selalu dibarengi dengan penguasaan wacana. Belanda tidak hanya menduduki tanah; mereka juga berjuang keras untuk mengendalikan cara penduduk lokal memahami diri mereka sendiri dan bagaimana dunia luar memahami perlawanan tersebut. Klasifikasi menjadi alat utama dalam sistem kontrol ini.

Klasifikasi Perlawanan: Dari Rasional ke Patologis

Bagi administrator dan ahli etnografi kolonial, perlawanan rakyat terhadap otoritas Belanda tidak boleh dianggap sebagai tindakan politik yang sah. Jika perlawanan dianggap rasional, itu berarti pemerintahan kolonial memiliki kekurangan legitimasi. Oleh karena itu, semua bentuk perlawanan harus dipathologikan—dijadikan sesuatu yang sakit, irasional, atau didorong oleh emosi primitif. Skema klasifikasi Belanda memisahkan gerakan berdasarkan asal-usulnya:

  • Rasional (Jarang): Perlawanan dari elite bangsawan yang terpelajar (walaupun ini sering direduksi menjadi perebutan kekuasaan pribadi).
  • Reaksioner: Perlawanan yang hanya ingin mengembalikan tatanan lama (seperti feodalisme) tanpa visi modern.
  • Fanatik/Messianik: Perlawanan rakyat jelata yang didorong oleh kepercayaan buta, pemimpin karismatik tanpa pendidikan yang memadai, atau interpretasi agama yang “salah” dan ekstrem. Label ini paling efektif untuk pemusnahan tanpa penyesalan.

Label 'fanatik' secara spesifik menghapus dimensi ekonomi, politik, dan sosial dari penderitaan rakyat, menggantinya dengan kelemahan karakter atau kegilaan spiritual. Ini memungkinkan pasukan kolonial untuk bertindak tanpa harus berurusan dengan masalah hak asasi manusia atau hukum internasional, karena mereka “menghadapi kegilaan, bukan perjuangan kemerdekaan.”

Superioritas Ras dan Teks-Teks Resmi Belanda

Konstruksi naratif ini sangat didukung oleh ideologi superioritas rasial yang berkembang di Eropa pada abad ke-19. Bagi Belanda, masyarakat pribumi dianggap sebagai masyarakat yang mudah terprovokasi, emosional, dan kurang mampu bernalar logis dibandingkan ras Eropa. Teks-teks resmi, laporan intelijen (seperti karya Snouck Hurgronje tentang Islam), dan media massa kolonial secara konsisten menggunakan kosakata yang merendahkan:

  1. Pribumi digambarkan sebagai massa yang mudah dipengaruhi (massa-hypnose).
  2. Pemimpin perlawanan disebut sebagai dukun, nabi palsu, atau agitator gila (onruststokers).
  3. Aksi perlawanan selalu disertai dengan kata sifat negatif seperti ‘brutal,’ ‘biadab,’ atau ‘fanatik buta.’

Dengan demikian, narasi tentang Barong Mongah sebagai pergerakan fanatik adalah hasil dari kerangka berpikir yang sudah terbentuk, di mana setiap perlawanan yang tidak dapat dikendalikan harus dilabeli sebagai penyimpangan patologis.

Barong Mongah: Mengurai Mitos dan Realitas Pergerakan

Untuk memahami mengapa label ‘fanatik’ begitu kuat melekat, kita harus melihat Barong Mongah dalam konteks historisnya. Barong Mongah bukanlah nama dari satu pemimpin tunggal, melainkan merujuk pada serangkaian gerakan perlawanan agraris dan spiritual yang muncul di berbagai wilayah, terutama di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah, pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Gerakan ini seringkali bersinggungan erat dengan elemen sufisme lokal dan keyakinan mesianis tentang kedatangan Ratu Adil.

Karakteristik dan Tujuan Barong Mongah

Gerakan Barong Mongah, meskipun sering dianggap homogen oleh Belanda, sebetulnya menunjukkan keragaman. Namun, ada benang merah pendorong utama yang bersifat sangat rasional dari sudut pandang rakyat jelata:

Pendorong Utama Perlawanan Rakyat:

  • Ekonomi Agraria: Peningkatan pajak tanah (verponding), kewajiban kerja paksa (corvée), dan monopoli perdagangan yang mencekik kehidupan petani. Kemiskinan ekstrem adalah bahan bakar utama.
  • Ketidakadilan Hukum: Administrasi pengadilan kolonial yang bias dan korup, yang selalu memenangkan kepentingan Tuan Tanah atau penguasa pribumi yang berkolaborasi dengan Belanda.
  • Degradasi Moral Elit: Kebencian terhadap priyayi (elite lokal) yang dilihat sebagai boneka kolonial, tidak lagi menjalankan fungsi pelindung rakyat, melainkan sebagai penekan.
  • Nostalgia dan Mesianisme: Pencarian akan tatanan yang lebih adil dan spiritual, sering diwujudkan dalam ramalan Ratu Adil atau Imam Mahdi yang akan mengusir penjajah. Ini adalah respons budaya terhadap kehancuran sosial.

Ketika perlawanan diarahkan pada penghancuran pos-pos pajak, pembakaran daftar utang, atau penyerangan terhadap kepala desa yang korup, motivasi mereka jelas bersifat sosio-ekonomi. Namun, karena gerakan ini menggunakan bahasa spiritual dan ritual (misalnya, janji kebal atau komunikasi supranatural) untuk memobilisasi massa yang buta huruf, Belanda merasa lebih mudah untuk melabelinya sebagai ‘kultus’ atau ‘fanatisme’ yang harus diberantas, daripada mengakui adanya kegagalan struktural dalam kebijakan mereka.

Kepemimpinan Kharismatik dan Struktur Organisasi

Barong Mongah sering dipimpin oleh tokoh-tokoh yang memiliki otoritas keagamaan atau spiritual yang tinggi, bukan dari kasta priyayi. Mereka adalah ulama, kiai desa, atau individu yang dianggap memiliki kekuatan mistis (orang sakti). Kepemimpinan ini bersifat karismatik dan desentralisasi, yang membuat Belanda kesulitan memadamkan gerakan secara total.

Struktur gerakan ini cenderung cair. Perekrutan dilakukan melalui jaringan desa, pengajian, dan pertemuan rahasia. Sumpah kesetiaan seringkali melibatkan ritual yang intens, yang dalam laporan Belanda kemudian diinterpretasikan sebagai bukti ‘kegilaan massal’ atau ‘hipnotisme fanatik.’ Padahal, ritual tersebut adalah cara efektif untuk membangun solidaritas yang kuat di antara kelompok yang rentan dan terpinggirkan, di mana kepercayaan spiritual lebih berharga daripada janji politik yang fana.

Interpretasi Kolonial Belanda: Mengklasifikasikan Barong Mongah sebagai 'Pergerakan Fanatik'

Mengapa, dari semua label yang tersedia, Belanda bersikeras dalam Interpretasi Kolonial Belanda: Mengklasifikasikan Barong Mongah sebagai 'Pergerakan Fanatik'? Jawabannya terletak pada fungsi politis label tersebut dalam menjaga keberlanjutan kekuasaan dan citra diri kolonial sebagai ‘pembawa peradaban.’

Logika Ketakutan: Mengapa 'Fanatik' Menjadi Label Pilihan?

Label 'fanatik' memiliki kekuatan delegitimasi yang sangat tinggi. Ada empat alasan utama mengapa Belanda memilih label ini:

  1. Penolakan Legitimasi Politik: Jika Barong Mongah digambarkan sebagai pergerakan politik yang rasional, ia akan setara dengan gerakan kemerdekaan Eropa. Dengan melabeli mereka fanatik, Belanda dapat mereduksi tuntutan mereka menjadi desahan irasional dari orang-orang bodoh.
  2. Justifikasi Kekerasan Ekstrem: Melawan fanatisme membutuhkan respons yang cepat, keras, dan tanpa negosiasi. Fanatisme dianggap sebagai penyakit sosial yang harus dihilangkan, bukan masalah yang perlu diselesaikan melalui dialog. Ini membenarkan pembantaian dan hukuman massal.
  3. Isolasi Internasional: Di mata komunitas internasional, perlawanan fanatik mendapat sedikit simpati dibandingkan perlawanan yang berjuang atas dasar hak-hak sipil atau ekonomi. Label ini membantu Belanda mempertahankan citra di Eropa bahwa mereka hanya berurusan dengan ‘suku-suku liar’ yang memberontak.
  4. Mengabaikan Akar Masalah: Dengan menyalahkan agama atau karisma pemimpin, Belanda tidak perlu menyelidiki atau mengakui bahwa kebijakan eksploitatif, seperti Kultuurstelsel atau sistem pajak yang berat, adalah akar utama penderitaan dan perlawanan rakyat.

Barong Mongah dalam Laporan Intelijen Kolonial

Arsip-arsip kolonial, terutama laporan dari Binnenlands Bestuur (Pemerintahan Dalam Negeri) dan dinas intelijen militer, menunjukkan bias sistematis. Gerakan Barong Mongah hampir selalu dikaitkan dengan istilah-istilah berikut:

  • Religieuze waanzin (kegilaan religius)
  • Opgewondenheid (keterangsangan/emosionalitas)
  • Messianistische verwachtingen (harapan mesianis yang sesat)
  • Gevaarlijke sekte (sekte berbahaya)

Contohnya, dalam penumpasan di kawasan Ponorogo atau Madiun, ketika gerakan Barong Mongah dipadamkan, laporan tersebut akan fokus pada penemuan jimat, teks-teks kuno yang dianggap 'tidak masuk akal', atau pengakuan 'korban hipnotis' dari pemimpin perlawanan. Detail tentang kelaparan, perampasan tanah, atau pajak yang memberatkan, sengaja diabaikan atau diletakkan di bagian catatan kaki yang tidak penting.

Perbandingan dengan Gerakan Perlawanan Lain

Klasifikasi ‘fanatik’ ini menjadi lebih jelas ketika kita membandingkannya dengan gerakan perlawanan lain. Pangeran Diponegoro, misalnya, meskipun memiliki elemen keagamaan yang kuat, seringkali dilabeli sebagai ‘pemberontak bangsawan’ (aristocratische opstand) atau ‘musuh bebuyutan’ karena posisinya dalam hierarki Jawa. Meskipun ia dilawan, ia diberi semacam ‘penghormatan’ sebagai musuh yang setara. Namun, Barong Mongah—yang melibatkan petani, buruh, dan ulama desa—diberi label ‘fanatik.’

Mengapa perbedaan ini penting? Karena Barong Mongah merepresentasikan perlawanan dari kelas bawah yang terorganisir di luar struktur feodal yang diakui Belanda. Perlawanan ini dilihat sebagai ancaman total terhadap tatanan sosial yang ingin dipertahankan Belanda, sehingga delegitimasi total melalui label ‘fanatik’ menjadi keharusan, sementara perlawanan elite bisa diakomodasi atau dinegosiasikan setelah penumpasan.

Dampak Klasifikasi: Legitimasi Penindasan dan Warisan Sejarah

Klasifikasi Barong Mongah sebagai 'Pergerakan Fanatik' bukan hanya masalah kata-kata; ia memiliki konsekuensi nyata dalam bentuk kebijakan penindasan yang dilegitimasi secara moral oleh pemerintah kolonial.

Politik Represi dan Kehancuran Sosial

Ketika gerakan dilabeli fanatik, penindasan dilakukan dengan cepat dan brutal. Tidak ada pengadilan yang adil; yang ada hanyalah hukuman ringkas. Desa-desa yang diduga menjadi pusat Barong Mongah seringkali dikenakan denda kolektif yang menghancurkan atau dibakar habis. Hal ini menciptakan lingkaran setan represi dan perlawanan.

Dampak jangka panjangnya adalah peminggiran memori kolektif. Karena sumber sejarah utama yang tersedia setelah kemerdekaan adalah arsip kolonial, narasi Barong Mongah seringkali termarjinalkan sebagai “pemberontakan lokal yang aneh,” bukan sebagai bagian integral dari perjuangan anti-kolonial yang lebih luas. Hal ini membuat sulit bagi sejarawan Indonesia untuk merekonstruksi motivasi murni rakyat jelata tersebut tanpa bias kolonial.

Menulis Ulang Narasi: Dekolonisasi Historiografi

Tugas sejarawan modern adalah menantang kerangka berpikir kolonial ini. Dekolonisasi historiografi menuntut kita untuk mencari suara rakyat jelata di luar laporan intelijen Belanda. Hal ini dilakukan dengan:

  1. Analisis Kritis Sumber Kolonial: Membaca laporan Belanda bukan untuk mencari fakta tentang Barong Mongah, melainkan untuk memahami strategi wacana Belanda.
  2. Mengintegrasikan Sejarah Lisan: Mencari memori lokal, babad, atau tradisi lisan yang mungkin mengabadikan kisah-kisah perlawanan dari perspektif internal.
  3. Re-kontekstualisasi: Menempatkan dimensi spiritual dan mesianis gerakan dalam konteks penderitaan sosio-ekonomi. Spiritualisme bukanlah bukti ‘fanatisme,’ melainkan bahasa yang tersedia bagi rakyat tertindas untuk menyampaikan kritik politik mereka.

Dengan menerapkan metodologi ini, kita melihat Barong Mongah bukan sebagai sekelompok orang gila, melainkan sebagai pejuang yang, dalam keterbatasan struktural dan intelektual mereka, menggunakan bahasa spiritual dan budaya yang mereka miliki untuk menuntut keadilan, keadilan, dan kemerdekaan dari sistem yang menindas.

Kesimpulan: Membongkar Warisan Interpretasi Kolonial

Interpretasi Kolonial Belanda: Mengklasifikasikan Barong Mongah sebagai 'Pergerakan Fanatik' adalah contoh klasik bagaimana kekuasaan kolonial menggunakan narasi untuk mematikan perlawanan. Label ‘fanatik’ adalah label strategis yang berfungsi untuk dehumanisasi, menjustifikasi penindasan brutal, dan mengisolasi gerakan rakyat jelata dari dukungan domestik maupun internasional.

Sebagai pembaca sejarah Indonesia, penting bagi kita untuk selalu skeptis terhadap terminologi yang diwariskan oleh arsip kolonial. Barong Mongah dan gerakan-gerakan perlawanan sejenis lainnya adalah cerminan yang menyakitkan dari kegagalan sistem kolonial dalam memberikan keadilan. Mereka adalah pergerakan yang termotivasi oleh kebutuhan fundamental untuk hidup layak, bukan oleh kegilaan agama. Dengan memahami dan menantang klasifikasi ini, kita tidak hanya menghormati memori para pejuang masa lalu, tetapi juga memastikan bahwa sejarah perlawanan Indonesia diceritakan dengan kebenaran dan martabat yang layak.

Silahkan baca artikel selengkapnya di bawah ini.