Menelisik Barong Mongah: Simbolisme Kritis Relevansi dalam Memahami Arus Bawah Ketidakpuasan Sosial Bali Masa Kini
- 1.
Anatomi Simbolisme: Mengapa Babi Hutan yang Marah?
- 2.
Fungsi Ritualistik dan Kaitannya dengan Penyucian Desa Adat
- 3.
Dampak Pembangunan yang Tidak Merata (Ketimpangan Ekonomi)
- 4.
Tekanan Pariwisata Massal (Degradasi Lingkungan dan Budaya)
- 5.
'Niskala' yang Terluka: Gejala Sosial sebagai Pertanda Spiritual
- 6.
Fenomena “Ngusak-Asik”: Ketika Barong Mongah Bangkit dalam Bentuk Protes
- 7.
Revitalisasi Desa Adat sebagai Benteng Ketahanan Sosial
- 8.
Penerapan Konsep 'Kelewesan' (Adaptasi Fleksibel) dalam Pembangunan
Table of Contents
Menelisik Barong Mongah: Simbolisme Kritis Relevansi dalam Memahami Arus Bawah Ketidakpuasan Sosial Bali Masa Kini
Bali, dalam narasi global, seringkali dipahami sebagai ‘Pulau Dewata’ yang damai, tempat harmonisasi antara manusia, alam, dan Tuhan (Tri Hita Karana) selalu lestari. Namun, di balik citra pariwisata yang gemerlap, mengalir arus bawah ketidakpuasan sosial yang semakin kuat, dipicu oleh ketimpangan ekonomi, konversi lahan, dan tekanan masif pariwisata. Bagi pengamat budaya dan sejarah, gejolak ini tidak hanya dibaca melalui statistik ekonomi, melainkan juga melalui simbol-simbol kultural yang sakral.
Dalam konteks ini, figur ritualistik yang jarang dibahas—yaitu Barong Mongah (Barong Babi Hutan yang ‘menganga’ atau ‘marah’)—mendapatkan relevansi baru. Artikel ini akan menganalisis secara mendalam bagaimana Barong Mongah, sebagai arketipe kekacauan dan penyucian, berfungsi sebagai barometer kultural yang sangat penting dalam memahami dan mengartikulasikan relevansi Barong Mongah dalam memahami arus bawah ketidakpuasan sosial Bali masa kini. Ini bukan sekadar studi mitologi, melainkan upaya membaca gejala sosial melalui kacamata tradisi, mengukuhkan pemahaman bahwa krisis spiritual dan krisis sosial di Bali adalah dua sisi mata uang yang sama.
Barong Mongah sebagai Arketipe Keseimbangan yang Terganggu
Untuk memahami relevansi Barong Mongah, kita harus terlebih dahulu menyelami posisinya dalam kosmos ritual Bali. Barong secara umum adalah representasi kekuatan baik (Dharma) yang melindungi, berlawanan dengan Rangda. Namun, Barong memiliki banyak jenis, dan Barong Mongah—sering berupa wujud babi hutan (Celeng atau Bangkal) yang ganas dan liar—menduduki peran yang unik dan krusial.
Barong Mongah atau Barong Bangkal sering dikaitkan dengan kekuatan Bhuta Kala, energi yang liar, primal, dan bersifat membersihkan (pemarisudha). Ia muncul dalam ritual-ritual penting seperti *Ngusaba Gede* atau upacara pembersihan desa (*Pangruwatan*). Kehadirannya bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyerap dan menetralkan energi negatif atau *leteh* (kotoran spiritual dan fisik) yang menumpuk di suatu wilayah. Simbol ini adalah penyeimbang chaos yang diizinkan untuk sementara waktu beroperasi guna mencapai harmoni yang lebih besar.
Anatomi Simbolisme: Mengapa Babi Hutan yang Marah?
Pemilihan babi hutan sebagai manifestasi Barong Mongah sangat signifikan. Dalam pertanian tradisional Bali, babi hutan adalah perusak utama lahan dan tanaman, melambangkan kekacauan, ketamakan, dan kekuatan alam yang tak terduga. Namun, dalam filosofi Hindu Bali, segala sesuatu yang ‘merusak’ memiliki peran dalam siklus penciptaan-pemeliharaan-peleburan (Trimurti).
- Primalitas dan Tanah: Babi hutan terkait erat dengan elemen tanah (pertiwi) dan kekuatan bawah. Ketika Barong Mongah diarak, ia mewakili pengadukan bumi, sebuah proses yang secara simbolis membersihkan dan memulihkan kesuburan.
- Kekuatan yang Harus Dikendalikan: Wujud ‘menganga’ (mongah) menunjukkan potensi destruktif yang harus diakui dan dikelola oleh masyarakat adat. Jika kekacauan ini (Bhuta Kala) tidak dihormati atau diseimbangkan, ia akan bangkit secara liar dan merusak tatanan sosial.
- Cermin Ketamakan: Dalam interpretasi kontemporer, sifat tamak dan perusak dari babi hutan dapat dihubungkan langsung dengan ketamakan ekonomi yang kini melanda Bali, yaitu eksploitasi lahan dan sumber daya demi keuntungan jangka pendek.
Fungsi Ritualistik dan Kaitannya dengan Penyucian Desa Adat
Di masa lalu, kemunculan Barong Mongah dalam ritual menandakan kebutuhan mendesak untuk ‘membersihkan rumah’. Jika terjadi wabah, bencana alam, atau konflik sosial yang parah, masyarakat adat akan menyelenggarakan ritual *pangleburan* yang melibatkan Barong Mongah. Tujuannya adalah mengakui bahwa ada 'kotoran' spiritual dan etika yang telah mengotori *desa adat*.
Seorang pengamat sejarah dan ritual Bali akan melihat bahwa ritual ini bukan hanya pertunjukan keagamaan; ia adalah mekanisme kontrol sosial. Ia memaksa komunitas untuk introspeksi, menunjuk pada ketidakadilan tersembunyi, dan secara kolektif berjanji untuk kembali pada norma-norma moral. Fungsi inilah yang memberikan relevansi Barong Mongah sebagai cermin kritis bagi kondisi sosial Bali masa kini.
Krisis Identitas dan Tergerusnya Tri Hita Karana di Bali Modern
Ketidakpuasan sosial di Bali saat ini tidak muncul dalam bentuk revolusi fisik, melainkan melalui protes-protes kultural, kritik di media sosial, dan keresahan kolektif terhadap arah pembangunan. Fondasi filosofis Bali, Tri Hita Karana (hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan alam, dan manusia dengan sesamanya), kini terancam oleh prioritas ekonomi.
Dampak Pembangunan yang Tidak Merata (Ketimpangan Ekonomi)
Pembangunan infrastruktur pariwisata yang masif, terutama di Bali Selatan, telah menciptakan ketimpangan struktural yang signifikan. Tanah yang dulunya sawah produktif kini menjadi hotel mewah. Penduduk lokal seringkali terpinggirkan dari manfaat ekonomi tertinggi, hanya menjadi pekerja sektor jasa dengan upah minimum, sementara keuntungan besar mengalir ke investor luar.
Ketimpangan ini adalah bentuk kekacauan sosial yang secara simbolis dapat diartikan sebagai bangkitnya Barong Mongah. Jika Barong Mongah melambangkan kekuatan liar yang merusak, maka kapitalisme pariwisata yang tidak terkontrol adalah manifestasi modern dari ‘perusak’ tersebut. Ia mengoyak hubungan harmonis antara manusia dengan sesamanya (perbedaan kelas sosial yang tajam) dan manusia dengan alam (konversi lahan secara brutal).
Tekanan Pariwisata Massal (Degradasi Lingkungan dan Budaya)
Volume turis yang melebihi daya dukung lingkungan (carrying capacity) menimbulkan masalah konkret: kemacetan kronis, krisis air bersih di beberapa wilayah, serta penumpukan sampah. Lebih jauh, terjadi degradasi budaya, di mana praktik spiritual seringkali dikomodifikasi atau direduksi menjadi atraksi dangkal.
Ketika spiritualitas dan alam dieksploitasi, sistem kosmologi Bali menyatakan bahwa *niskala* (dunia tak terlihat) terganggu. Keresahan ini, mulai dari protes warga terhadap pembangunan resort yang menutup akses ke pura, hingga kemarahan terhadap tingkah laku turis yang melanggar kesucian, adalah suara kolektif yang mencerminkan rasa terlukanya bumi Bali.
Di sinilah simbolisme Barong Mongah menjadi begitu tajam: energi chaos yang muncul saat *niskala* merasa terkhianati. Ketidakpuasan ini bukan hanya masalah politik; ia adalah krisis eksistensial bagi masyarakat yang hidup berdasarkan ikatan kuat dengan tanah dan ritual.
Relevansi Barong Mongah dalam Manifestasi Ketidakpuasan Sosial Kontemporer
Bagaimana Barong Mongah yang merupakan figur ritual dapat diterjemahkan ke dalam protes jalanan atau kritik kebijakan publik? Hubungannya terletak pada pengakuan bahwa ketidakpuasan, sebagaimana digambarkan dalam ritual, harus dilepaskan dan ditujukan untuk pemurnian, bukan untuk kehancuran total. Barong Mongah adalah pelepasan energi yang terpendam.
'Niskala' yang Terluka: Gejala Sosial sebagai Pertanda Spiritual
Dalam pandangan tradisional Bali, masalah sosial yang terus-menerus (seperti korupsi, konflik perebutan air, atau ketidakadilan hukum) bukanlah sekadar kegagalan sistem, melainkan tanda bahwa ada hal-hal mendasar yang telah merusak hubungan manusia dengan Tuhan atau Alam. Ketika sawah dijual paksa, itu bukan hanya transaksi ekonomi; itu adalah pelanggaran terhadap Ibu Pertiwi. Ketika kemacetan melumpuhkan desa, itu adalah penolakan terhadap ritme alami kehidupan.
Arus bawah ketidakpuasan muncul dalam bentuk-bentuk yang 'mongah' (menganga/marah) dan sulit dikendalikan:
- Kenaikan Aktivisme Budaya: Munculnya generasi muda yang menggunakan seni, musik, dan media sosial untuk menyuarakan kritik terhadap pariwisata yang merusak. Mereka adalah 'pembawa pesan chaos' yang menuntut pemurnian sistem.
- Ketahanan Adat: Penguatan peran *desa adat* sebagai benteng pertahanan terakhir melawan pembangunan yang eksploitatif, seringkali berbenturan langsung dengan pemerintah daerah.
- Wacana Publik yang Kritis: Narasi di ruang digital yang semakin berani mengkritik kebijakan yang dianggap tidak pro-rakyat Bali, menyalurkan kemarahan kolektif yang dulunya hanya dapat diungkapkan dalam ritual.
Semua manifestasi ini adalah ekspresi bahwa energi chaos, yang dilambangkan oleh Barong Mongah, telah bangkit karena ketidakseimbangan telah mencapai titik kritis.
Fenomena “Ngusak-Asik”: Ketika Barong Mongah Bangkit dalam Bentuk Protes
Istilah lokal *Ngusak-Asik* (mengacak-acak atau membuat onar, namun seringkali dengan konotasi mencari perhatian atau memicu perubahan) adalah cara kontemporer Barong Mongah bermanifestasi. Ini adalah tindakan berani yang bertujuan untuk menarik perhatian publik terhadap pelanggaran etika dan spiritual yang dilakukan oleh penguasa atau pemilik modal.
Contoh nyata dari *Ngusak-Asik* modern dapat dilihat pada gerakan-gerakan penolakan reklamasi atau protes lingkungan. Para aktivis, meskipun tidak mengenakan topeng Barong Mongah, secara esensial menjalankan peran simbolisnya: menjadi kekuatan disruptif yang menantang tatanan yang dianggap tidak adil, demi memulihkan harmoni jangka panjang.
Ini adalah perbedaan kunci: ketidakpuasan di Bali tidak bertujuan meruntuhkan negara, tetapi menuntut pemurnian dan pemulihan tatanan budaya. Jika kita gagal membaca simbolisme Barong Mongah ini, kita hanya melihat protes sebagai gangguan, bukan sebagai sinyal vital bahwa sistem sosial dan ekologis Bali sedang sekarat.
Membaca Barometer Barong Mongah: Solusi dan Arah Kebijakan Budaya-Sentris
Jika Barong Mongah adalah barometer sosial, maka solusi haruslah berakar pada pemahaman Bali terhadap keseimbangan. Kebijakan publik tidak bisa hanya didasarkan pada pertumbuhan ekonomi; ia harus mengutamakan keberlanjutan spiritual dan budaya.
Tugas para pembuat kebijakan di Bali adalah 'menjinakkan' Barong Mongah modern ini—mengelola energi ketidakpuasan tersebut agar kembali menjadi kekuatan pemurnian, bukan destruksi yang tak terkendali. Ini membutuhkan keberanian untuk mengakui kesalahan struktural yang selama ini ditutupi oleh narasi pariwisata yang sempurna.
Revitalisasi Desa Adat sebagai Benteng Ketahanan Sosial
Penguatan peran *desa adat* adalah langkah pertama. Desa adat, dengan otonomi dan sistem hukum adat (*awig-awig*) mereka, adalah unit terkecil yang memegang teguh filosofi Tri Hita Karana. Dengan memberikan otoritas dan sumber daya yang lebih besar kepada desa adat untuk mengontrol tata ruang dan investasi di wilayah mereka, Bali dapat memastikan bahwa pembangunan dilakukan berdasarkan kebutuhan lokal, bukan dorongan pasar semata.
Revitalisasi ini juga berarti mengembalikan fungsi ekonomi tradisional, mengurangi ketergantungan total pada pariwisata. Diversifikasi ekonomi ke sektor pertanian dan industri kreatif berbasis budaya otentik akan mengurangi tekanan pada lahan dan identitas.
Penerapan Konsep 'Kelewesan' (Adaptasi Fleksibel) dalam Pembangunan
Konsep *Kelewesan* merujuk pada adaptasi yang cerdas dan fleksibel terhadap perubahan tanpa mengorbankan prinsip dasar. Bali harus beralih dari pariwisata kuantitas menuju pariwisata kualitas. Ini adalah solusi konkret untuk menenangkan ‘kemarahan’ sosial yang disimbolkan Barong Mongah.
Langkah-langkah praktisnya meliputi:
- Regulasi Investasi: Pembatasan ketat terhadap investor asing dan domestik yang hanya berfokus pada keuntungan spekulatif dan tidak memberikan nilai tambah budaya atau lingkungan.
- Pajak dan Retribusi Lokal: Mengalokasikan persentase signifikan dari pendapatan pariwisata untuk pemeliharaan situs suci dan pengelolaan lingkungan (sampah dan air).
- Edukasi Budaya yang Tepat: Menerapkan kurikulum yang kuat di sekolah dan program edukasi publik yang menekankan pentingnya menjaga kesucian pura dan alam, menanamkan kembali rasa hormat terhadap *desa adat*.
Dengan menerapkan kebijakan yang mengakui dan menghormati kekuatan primal alam dan budaya—seperti yang diajarkan oleh fungsi ritual Barong Mongah—Bali dapat memulai proses pemurnian sosial dan politik yang sangat dibutuhkan.
Kesimpulan: Barong Mongah Sebagai Cermin Kultural yang Jujur
Barong Mongah bukanlah sekadar artefak budaya purba; ia adalah cermin jujur yang mencerminkan kesehatan kolektif masyarakat Bali. Arus bawah ketidakpuasan sosial di Bali masa kini, yang termanifestasi dalam keresahan ekonomi dan budaya, dapat dibaca secara presisi melalui simbolisme Barong Mongah.
Ketika tatanan Tri Hita Karana terancam oleh eksploitasi dan ketamakan, energi Barong Mongah bangkit, menuntut pembersihan dan pemulihan. Tugas pemangku kepentingan adalah memahami bahwa protes dan ketidakpuasan bukanlah gangguan, melainkan panggilan ritualistik untuk *ngayud* (pemurnian) tatanan sosial. Mengabaikan relevansi Barong Mongah berarti mengabaikan peringatan kultural yang paling mendasar dan membiarkan kekacauan struktural (Bhuta Kala) menguasai Pulau Dewata secara permanen. Hanya dengan kembali pada prinsip-prinsip keseimbangan adat, Barong Mongah dapat dijinakkan, dan harmoni sejati Bali dapat dipulihkan.
✦ Tanya AI
Saat ini AI kami sedang memiliki traffic tinggi silahkan coba beberapa saat lagi.